Tahun 2025, ada pengunjung dari luar Tata Surya melintasi ruang angkasa. Sebagai objek antarbintang ketiga yang dideteksi, objek ini terlacak sebuah instrumen di Cile.
Objek tersebut sangat cepat, 220.500 km/jam, dan tak terikat gravitasi Matahari. Mayoritas pengamat menyatakan objek yang dinamai 3I/ATLAS tersebut kemungkinan komet antarbintang. Namun dengan terbatasnya data dan perilakunya yang tampak ganjil, tidak ada yang bisa memastikannya.
Bagaimana jika benda ini sengaja diciptakan dan sedang mencari kita? Jika pertanyaan ini terdengar sensasional, tak demikian bagi Prof Avi Loeb, astrofisikawan Universitas Harvard. Loeb menerbitkan makalah spekulatif bahwa 3I/ATLAS merupakan entitas teknologi, bahkan berpotensi niatnya bermusuhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sebenarnya mencoba mendekati PBB dan mendapat tanggapan sangat dingin. Saya mencoba menginisiasi semacam komite untuk menetapkan protokol tentang bagaimana kita merespons objek antarbintang," sebutnya.
3I/ATLAS kemudian dikonfirmasi komet antarbintang tercepat dan Loeb menuai kritik. Meski demikian komet tersebut menghidupkan kembali pertanyaan apa yang akan terjadi jika ditemukan bukti tak terbantahkan tentang adanya kehidupan atau teknologi alien?
Manusia berusaha mendengarkan sinyal radio dari sistem bintang jauh sejak 1960-an untuk melacak kehidupan lain. Belum ada hasil, tapi ilmuwan mencari lebih jauh. Teleskop rutin mencari planet dengan kondisi ideal di mana kehidupan bisa berkembang.
"Tiap bintang adalah sistem tata surya dan sekitar 30 persen dari dunia di sekitar mereka kemungkinan besar mirip Bumi serta di zona layak huni. Artinya, ada puluhan miliar planet berpotensi layak huni di galaksi kita," kata Bill Diamond, CEO SETI Institut.
Kontak Pertama
Peneliti sepakat penemuan yang paling mungkin terjadi bukanlah piring terbang, tapi anomali dalam kumpulan data.
Ini terjadi tahun 1977, ketika Sinyal 'Wow!' yang terkenal muncul, transmisi radio kuat yang dideteksi teleskop Ohio State University. Sinyal berlangsung 72 detik dan tampaknya berasal dari rasi bintang Sagitarius, tapi tidak pernah terulang lagi.
Jika kita menemukan sinyal serupa, tentu akan mendebarkan. "Katakanlah itu sinyal radio dari planet berjarak 10.000 tahun cahaya. Berarti transmisi meninggalkan planet itu 10.000 tahun lalu. Apakah peradabannya masih ada? Kita takkan bisa telepon dengan jarak sejauh itu," tambah Diamond.
Percakapan radio antarbintang ini adalah skenario luar angkasa yang paling siap kita hadapi saat ini. Di 1989, peneliti menyusun protokol pasca-deteksi SETI, serangkaian pedoman yang mengatur bagaimana komunitas ilmiah internasional harus merespons jika alien menghubungi.
Perjumpaan Lebih Dekat
Bagaimana dengan skenario kontak alien versi Hollywood, yaitu perjumpaan fisik lebih dekat? Loeb menyebutnya mirip kencan buta. "Hal pertama yang akan langsung kita khawatirkan adalah ancamannya. Saat pergi kencan buta, Anda ingin memastikan orang tersebut bukan pembunuh berantai," cetusnya.
Ia tidak berekspektasi yang datang adalah makhluk biologis. "Saya berani bertaruh itu adalah sistem teknologi dengan AI. Mengingat otak biologis sulit bertahan melintasi miliaran tahun cahaya, mengirim robot AI paling masuk akal," katanya.
Apapun yang datang, kita sebaiknya berharap mereka berniat baik. "Teknologi mereka akan sangat jauh lebih maju dari kita sehingga mustahil melawannya," tambah Diamond.
Bagaimana manusia akan bereaksi bahwa kita tak sendirian? Di tingkat individu, ahli sepakat kita akan melihat spektrum penuh emosi manusia, dari takut, penasaran, hingga ketidakpedulian.
Saat ini, belum ada rencana resmi jika mereka sungguh berkunjung. Dr. Andreas Schwarz, pakar komunikasi krisis, berpendapat perlu disusun rencana yang mengatur kelangsungan pemerintahan, komunikasi, kesiapan militer, hingga evakuasi.
Loeb menciptakan skala yang mengurutkan objek antarbintang antara nol (objek alam/batu) hingga sepuluh (ancaman teknologi terhadap manusia).
"Kita harus mempertimbangkan peristiwa angsa hitam. Probabilitasnya mungkin rendah, tapi dampaknya terhadap masyarakat akan sangat besar. Saat ini kita belum siap, dan kita perlu mengumpulkan data sebanyak mungkin untuk menilai risikonya," cetusnya.
(fyk/afr)

