Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Satelit Sempat Tangkap Tanda Gletser Nepal Akan Runtuh

Satelit Sempat Tangkap Tanda Gletser Nepal Akan Runtuh


Rachmatunnisa - detikInet

General view at Langtang National Park, Nepal in this undated handout image. Jitendra Raj Bajracharya/ICIMOD/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.
Ilustrasi gletser Himalaya. Foto: Jitendra Raj Bajracharya/ICIMOD/REUTERS
Jakarta -

Bencana besar di perbatasan Nepal-Tibet ternyata meninggalkan sejumlah tanda sebelum terjadi. Analisis citra satelit menunjukkan perubahan pada gletser beberapa hari sebelum bagian es dan batuan runtuh, memicu banjir bandang dahsyat yang menewaskan ratusan orang dan membuat ribuan lainnya hilang.

Temuan tersebut berasal dari penilaian cepat yang dilakukan HiRISK, kelompok ilmuwan internasional yang menganalisis bencana di wilayah tersebut. Mereka menemukan sejumlah indikasi sebelum kejadian atau pre-event indications pada citra satelit sebelum longsoran terjadi.

Salah satu tandanya adalah perubahan permukaan gletser. Pengamatan satelit juga menunjukkan air di dalam gletser bergerak semakin cepat sebelum keruntuhan. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran di dalam struktur es sekaligus ketidakstabilan batuan di sekitarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Citra satelit pada 24 Agustus juga memperlihatkan air lelehan di kawasan tersebut berubah menjadi kecokelatan. Para ilmuwan turut menemukan retakan yang merambat ke lereng batuan di sekitar gletser beberapa hari sebelum longsoran. Artinya, gletser yang tampak diam dari kejauhan sebenarnya sudah menunjukkan perubahan yang bisa dideteksi dari luar angkasa.

Masalahnya, wilayah Himalaya sangat luas dan medannya ekstrem. Ribuan gletser tersebar di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau manusia, sehingga memasang alat pemantau di setiap lokasi nyaris mustahil.

ADVERTISEMENT

Di sinilah satelit dapat memainkan peran penting. Citra satelit memungkinkan ilmuwan memantau perubahan permukaan gletser, retakan, aliran air lelehan, hingga perubahan lanskap tanpa harus berada langsung di lokasi.

Jakob Steiner, geolog sekaligus salah satu penulis laporan HiRISK, mengatakan pemantauan berbasis satelit dengan bantuan AI dapat membantu menemukan risiko di wilayah pegunungan yang sangat luas.

"Di sinilah saya pikir kita perlu berinvestasi lebih banyak. Ada ribuan dan ribuan gletser di High Mountain Asia, jadi kita harus menemukan solusi yang dapat diterapkan dalam skala besar," kata Steiner seperti dikutip dari ABC.

Menurut Steiner, teknologi seperti ini penting karena sistem pemantauan konvensional memiliki keterbatasan besar di wilayah pegunungan terpencil. Laporan tersebut juga menemukan bahwa sistem peringatan dini khusus bahaya gletser belum tersedia di wilayah yang terdampak.

Untuk lokasi yang sangat dekat dengan sumber longsoran, waktu peringatan yang tersedia kemungkinan hanya beberapa menit. Namun, semakin jauh dari sumber bencana, waktu tersebut bisa mencapai 10 menit atau lebih. Dalam kondisi seperti itu, sistem peringatan yang dirancang dengan baik masih berpotensi menyelamatkan banyak orang.

Bencana di Nepal menunjukkan mengapa perubahan kecil pada gletser perlu diperhatikan. Keruntuhan es dan batuan di wilayah pegunungan dapat mengirim material dalam jumlah sangat besar ke lembah. Material tersebut bisa membendung aliran sungai sementara, lalu melepaskan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

Dalam kasus Nepal, banjir bandang menerjang kawasan perbatasan dan menghancurkan jalan, jembatan, permukiman, serta sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air. Ratusan pekerja konstruksi juga sempat terjebak di berbagai proyek pembangkit listrik di sepanjang sungai.

Ilmuwan menilai situasi di Himalaya semakin kompleks karena pemanasan membuat gletser menyusut dan permafrost mencair. Permafrost merupakan tanah atau batuan yang selama bertahun-tahun tetap membeku. Es di dalamnya berfungsi seperti perekat yang membantu menjaga kestabilan lereng.

Ketika es tersebut mencair, batuan dan material di lereng bisa menjadi lebih mudah bergerak. Akibatnya, gletser yang mencair, lereng yang tidak stabil, longsoran batu-es, dan danau glasial dapat saling memicu dalam sebuah rangkaian bencana.

Karena itu, tantangannya bukan hanya memprediksi kapan sebuah gletser akan runtuh. Ilmuwan juga harus memahami apa yang terjadi setelah keruntuhan, termasuk seberapa cepat air dan material akan bergerak menuju kawasan yang dihuni manusia.

Steiner menilai bencana sebelumnya seharusnya menjadi peringatan bahwa kawasan tersebut membutuhkan persiapan yang lebih baik. Menurutnya, kejadian serupa di lokasi yang sama telah terjadi sebelumnya, termasuk longsoran batu-es pada 2024 dan peristiwa terkait longsoran es pada 2015.

Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari bencana Nepal bukan bahwa keruntuhan gletser selalu bisa diprediksi dengan tepat. Teknologi saat ini belum mampu memberikan kepastian seperti itu.

Namun, citra satelit menunjukkan bahwa alam kadang memberikan tanda sebelum bencana terjadi. Tantangannya sekarang adalah mengubah tanda-tanda tersebut menjadi peringatan yang cukup cepat untuk menyelamatkan manusia-terutama di wilayah seperti Himalaya, tempat ribuan gletser berada jauh dari jangkauan pemantauan langsung.

Jika pemantauan satelit dan AI dapat menemukan perubahan kecil beberapa hari sebelum sebuah gletser runtuh, teknologi tersebut mungkin bukan hanya alat untuk melihat bencana setelah terjadi. Kombinasi satelit dan AI bisa menjadi 'mata' dari luar angkasa yang memberi manusia kesempatan untuk menyelamatkan diri.



(rns/rns)




Hide Ads