Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gletser Pegunungan Timbulkan Bahaya Tsunami dari Langit

Gletser Pegunungan Timbulkan Bahaya Tsunami dari Langit


Fino Yurio Kristo - detikInet

Maxar Technologies memperlihatkan before-after Desa Blatten, Swiss, terkubur lumpur dan es dari gletser yang longsor di Pegunungan Alpen, Rabu (28/5).
Gletser di pegunungan. Foto: Maxar Technologies
Jakarta -

Hidup di bawah pegunungan berselimut es yang menakjubkan selalu menyimpan bahaya. Gelombang banjir dahsyat yang menghancurkan perbatasan Nepal-China pekan ini menunjukkan bagaimana kehidupan jutaan orang di seluruh dunia yang tinggal di hilir pegunungan tersebut jadi semakin tak dapat diprediksi.

Masih terlalu dini mengetahui sejauh mana peran perubahan iklim dalam bencana ini, tapi yang pasti kondisi pegunungan berubah seiring naiknya suhu, yang mencairkan gletser dan membuat lereng tidak stabil, memicu rentetan bencana kompleks.

Nepal adalah negara dengan puncak-puncak gunung bergerigi yang menjulang. Lereng-lereng curam membentang turun ke lembah-lembah sempit yang dibelah sungai deras. Lanskapnya yang memukau menarik banyak wisatawan namun juga sangat berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berada di kawasan Himalaya yang memanas dengan cepat, Nepal sejak lama rawan banjir dan tanah longsor. "Namun yang terjadi Rabu lalu skalanya jauh lebih besar," ungkap Prashant Baral, analis di ICIMOD, organisasi iklim di Nepal.

Berdasar analisis satelit, gletser raksasa selebar sekitar 600 meter patah dari gunung Langtang Lirung disusul longsor. Runtuhan ini mengirim campuran mematikan es, air, bebatuan, sedimen, dan batu besar seukuran mobil yang menghantam sekitar 2.100 meter ke bawah.

ADVERTISEMENT

Aliran deras menerjang ngarai-ngarai sempit, menyapu bersih rumah, pembangkit listrik, jembatan, dan jalan. Ratusan orang tewas dan ratusan lainnya hilang.

Keganasan peristiwa ini sungguh luar biasa. Namun, banjir mematikan semacam ini telah diperingatkan akan makin sering seiring manusia memanaskan Bumi melalui pembakaran bahan bakar.

"Terlepas apakah peristiwa spesifik ini terkait langsung perubahan iklim atau tidak, hal seperti inilah yang sudah kami perkirakan. Ini wujud nyata perubahan iklim" ujar Dan Shugar, ahli geologi di University of Calgary, Kanada.

Tsunami dari langit

Di pegunungan, es adalah elemen penguasa, tapi kini menghilang dengan cepat. Hingga separuh dari 200.000 lebih gletser pegunungan diperkirakan lenyap akhir abad ini, bahkan jika target ambisius terkait iklim tercapai.

Laju pencairan gletser di seluruh kawasan Hindu Kush Himalaya, yang mencakup Nepal, berlipat sejak tahun 2000. Seiring menyusutnya gletser, formasi tersebut bisa menjadi lebih tidak stabil dan keruntuhan mendadak dapat terjadi.

Es juga berfungsi menahan struktur pegunungan agar tetap menyatu dalam bentuk permafrost, campuran dari tanah, batu, sedimen, dan es. "Anggaplah gunung-gunung tinggi sebagai batuan dasar yang retak-retak, namun direkatkan celah-celah terisi es," jelas Richard Waller, ahli geografi fisik di Keele University di Inggris.

Ketika suhu meningkat, es mencair, permafrost melunak, dan lanskap bergeser. Bongkahan besar di lereng gunung dapat goyah dan runtuh.

Danau gletser, yang terbentuk dari pencairan gletser menimbulkan bahaya lain. Danau ini bisa sangat penuh hingga menjebol tepiannya, mengirim tumpahan air ke lereng gunung curam. Limpasan danau gletser inilah yang memicu banjir di wilayah serupa di Nepal Juli tahun lalu, menewaskan sedikitnya 11 orang.

Selain itu, hujan makin lebat seiring memanasnya planet. Hujan ekstrem di pegunungan kini semakin sering berbentuk air hujan alih-alih salju, sehingga meningkatkan risiko longsor dan erosi.

"Ada banyak gletser menggantung di atas kepala kita dan bisa pecah kapan saja. Jika terjadi, rasanya seperti ada tsunami dari langit," ujar Bishal Upreti, ahli geologi Nepal Centre for Disaster Management.

Nepal mungkin memiliki risiko sangat tinggi, namun ini adalah masalah global. Semua daerah pegunungan tinggi dengan gletser dan permafrost turut terancam, mulai Pegunungan Alpen hingga Andes.

Di Amerika Serikat, Gletser Mendenhall di atas ibu kota Alaska, Juneau, mengalir ke danau Suicide Basin yang tepiannya kerap jebol, memicu banjir yang menyapu hilir menuju kota dan menghanyutkan rumah.

Tahun lalu, desa Blatten di Swiss tertimbun seluruhnya setelah sebuah gletser runtuh dan mengirimkan jutaan ton es serta bebatuan ke lereng gunung. Ilmuwan meyakini insiden ini kemungkinan terkait mencairnya permafrost, yang menyebabkan bebatuan runtuh menimpa gletser.



(fyk/fay)




Hide Ads