×
Ad

Mengapa Banjir Bandang Nepal Bisa Terjadi Tanpa Hujan?

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 27 Agu 2026 14:15 WIB
Foto: Al Jazeera
Jakarta -

Banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah Rasuwa, Nepal, pada Rabu (26/8) waktu setempat diduga bukan dipicu langsung oleh gempa bumi seperti dugaan awal. Sejumlah ilmuwan justru menunjuk longsoran batu dan es (rock-ice avalanche) sebagai pemicu utama bencana.

Analisis awal yang dikutip ChosunBiz menunjukkan material berupa batuan dan es runtuh dari lereng pegunungan Himalaya, kemudian masuk ke aliran sungai dan memicu gelombang air, lumpur serta material longsoran dalam jumlah besar.

Temuan ini juga sejalan dengan penilaian awal International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD). Peneliti lembaga tersebut menduga terjadi longsoran batu-es yang membendung Sungai Lhende dan kemudian memicu rangkaian banjir di hilir.

Kebingungan mengenai penyebab bencana bermula ketika sistem pemantauan seismik mendeteksi getaran pada sekitar pukul 08.37 waktu setempat. US Geological Survey (USGS) awalnya mengidentifikasi sinyal tersebut sebagai gempa bermagnitudo 4,4. Namun setelah melakukan analisis tambahan terhadap gelombang seismik, USGS mengoreksi informasi tersebut.

Sinyal energi itu ternyata berasal dari longsoran, bukan gempa bumi. Dengan kata lain, pergerakan batuan dan es dalam jumlah besar menghasilkan getaran yang terekam seperti aktivitas gempa.

Hal ini penting karena membalik dugaan awal mengenai urutan peristiwa. Bukan gempa yang dipastikan memicu longsoran, melainkan longsoran itu sendiri yang menghasilkan sinyal seismik.

Batu dan Es Runtuh Bersamaan

Dalam fenomena rock-ice avalanche, material batuan dan es dari wilayah pegunungan tinggi runtuh secara bersamaan. Ketika massa besar tersebut meluncur ke bawah, material dapat berubah menjadi aliran yang lebih cair ketika bercampur dengan air, es yang mencair, sedimen dan material sungai.

Dalam kasus Nepal, para ilmuwan menduga longsoran tersebut masuk ke sistem Sungai Lhende dan menghasilkan rangkaian proses yang kemudian memperbesar volume serta daya rusak banjir.

Penilaian awal NDRRMA Nepal berdasarkan citra satelit juga menunjukkan salju dan batu runtuh sekitar 20 kilometer dari pos perbatasan Rasuwagadhi. Material tersebut kemudian masuk ke Sungai Rende dan mengalir menuju Sungai Trishuli.

Yang membuat peristiwa ini berbahaya adalah efek berantai. Longsoran tidak hanya membawa batu dan es. Ketika material dalam jumlah besar masuk ke sungai, aliran air dapat terdorong, terbendung sementara, atau bercampur dengan material longsoran.

Jika bendungan alami tersebut kemudian jebol atau material terus bergerak ke hilir, terbentuk gelombang air dan lumpur dengan daya rusak besar. Ahli hidrologi Hatim Sharif dari University of Texas San Antonio mengatakan tidak adanya hujan sebelum kejadian menjadi salah satu hal yang mencolok.

"Hal itu pada dasarnya menggagalkan hampir semua sistem peringatan banjir operasional di dunia," sebutnya seperti dikutip dari ChosunBiz.

Ia juga menggambarkan campuran air dan lumpur yang bergerak cepat sebagai sesuatu yang menyerupai 'beton cair', sehingga sangat sulit dihindari ketika sudah terlihat dari jarak dekat.

Para ilmuwan masih belum menutup kemungkinan bahwa danau gletser turut berperan dalam memperbesar banjir. Profesor geologi Tribhuvan University, Ranjan Kumar Dahal, mengatakan belum dapat dipastikan danau mana yang mungkin terlibat.

Menurutnya, banjir sebesar itu dapat melibatkan kombinasi longsoran salju besar dan glacial lake outburst flood (GLOF). Artinya, rantai penyebab bencana masih diteliti. Yang semakin kuat dari analisis awal adalah bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar banjir akibat hujan deras.

Pegunungan yang Menghangat

Fenomena rock-ice avalanche menjadi perhatian ilmuwan karena kawasan pegunungan tinggi semakin dipengaruhi perubahan kondisi iklim. Penelitian di Communications Earth & Environment mengenai longsoran batu-es di Nepal menunjukkan bahwa suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan pencairan salju dan menghasilkan air yang melumasi material longsoran, sehingga berpotensi meningkatkan mobilitasnya.

Namun, belum tepat menyimpulkan perubahan iklim sebagai penyebab langsung banjir Nepal 2026. Penyebab spesifik kejadian ini masih dalam investigasi. Yang jelas, bencana tersebut memperlihatkan bagaimana satu kejadian di pegunungan dapat berkembang menjadi rantai bencana, runtuhan batu dan es, gangguan aliran sungai, kemudian banjir dan aliran lumpur yang bergerak cepat ke wilayah hilir.

Karena itu, pemantauan bahaya di Himalaya tidak cukup hanya mengandalkan sistem peringatan gempa atau hujan. Longsoran, gletser, dan danau gletser juga perlu dipantau sebagai bagian dari satu sistem peringatan multi-bencana.



Simak Video "Video 4 Orang Tewas Akibat Longsor di Sumedang"

(rns/rns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork