Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ekspedisi BRIN Siap Menguak Misteri Megathrust dan Gunung Bawah Laut RI

Ekspedisi BRIN Siap Menguak Misteri Megathrust dan Gunung Bawah Laut RI


Agus Tri Haryanto - detikInet

kawasan megathrust di indonesia
kawasan megathrust di indonesia. Foto: Istimewa (Dok ITS)
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyiapkan hingga 200 hari layar selama periode 2026-2028 untuk membawa periset menjelajahi sejumlah kawasan strategis perairan Indonesia.

Ekspedisi tersebut akan menyasar antara lain zona megathrust, Flores Thrust, kompleks gunung bawah laut, hingga zona tumbukan di Indonesia bagian timur untuk mengungkap potensi sumber daya sekaligus memperoleh data penting terkait kebencanaan.

Ketua Tim Tata Kelola Ekspedisi Kapal Riset BRIN, Adi Slamet Riyadi, mengatakan luasnya wilayah laut Indonesia menjadi potensi sekaligus tantangan bagi dunia riset. Masih terdapat kawasan laut dalam, gunung bawah laut, zona subduksi, dan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang membutuhkan eksplorasi lebih lanjut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Program ini dirancang untuk mengeksplorasi wilayah laut dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia guna mendukung pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan," ujar Adi dikutip dari keterangan tertulis.

Kesempatan tersebut dibuka melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Invitasi Strategis 2026 dalam program Ekspedisi dan Eksplorasi Keanekaragaman Hayati dan Geologi Maritim Perairan Indonesia.

Program ini dirancang untuk memperluas penelitian di wilayah laut dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang hingga kini belum seluruhnya memiliki data memadai.

Lebih lanjut Adi mengatakan, ekspedisi diperlukan untuk menghasilkan data primer langsung dari lapangan. Informasi tersebut penting untuk memahami kondisi dan perubahan lingkungan laut, potensi sumber daya, serta risiko kebencanaan di berbagai wilayah perairan Indonesia.

BRIN tidak hanya menyediakan pendanaan penelitian, periset juga memperoleh kesempatan menggunakan kapal riset untuk melakukan akuisisi data di lokasi penelitian, melakukan kontrol kualitas dan analisis data, membangun kolaborasi, serta mengembangkan hasil penelitian hingga publikasi ilmiah.

"Melalui platform ini, BRIN memfasilitasi akses inklusif bagi peneliti, dosen, hingga mahasiswa untuk melakukan akuisisi data lapangan, kontrol kualitas, analisis, serta publikasi pada jurnal bereputasi," jelas Adi.

Pada periode 2026, RIIM Invitasi Strategis membuka penelitian dalam empat tema utama, yakni geosains kelautan, biodiversitas termasuk perikanan, oseanografi, dan hidrografi.

Ruang lingkup penelitian mencakup eksplorasi keanekaragaman hayati dari tingkat ekosistem hingga molekuler, kajian stok ikan, pemetaan laut, proses fisik dan kimia perairan, serta penelitian struktur geologi bawah laut.

Sejumlah kawasan strategis menjadi perhatian, termasuk Flores Thrust, kompleks gunung bawah laut, zona subduksi atau megathrust, serta zona tumbukan di Indonesia bagian timur. Kawasan-kawasan tersebut tidak hanya menawarkan peluang eksplorasi ilmiah, tetapi juga menyimpan informasi mengenai potensi sumber daya dan kebencanaan.

Untuk mendukung penelitian tersebut, BRIN menyiapkan sejumlah armada. KR Baruna Jaya III akan digunakan untuk penelitian hidrografi dan geosains di kawasan Bali, Nusa Tenggara Timur, Laut Sawu, dan Sumba.

Sementara KRI Canopus 936 mendukung penelitian biodiversitas dan hidro-oseanografi di Natuna dan Selat Malaka. KN Madidihang 03 juga disiapkan untuk mendukung kegiatan ekspedisi sesuai kebutuhan penelitian.

Adi menuturkan, BRIN berharap data yang diperoleh dari setiap pelayaran diharapkan menjadi basis penelitian lanjutan sekaligus dapat digunakan kementerian dan lembaga dalam mendukung perumusan kebijakan.

Salah satu contohnya adalah data mengenai stok ikan yang dapat memperkuat kajian fish stock assessment pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI).

"Yang kita harapkan bukan hanya ekspedisinya, tetapi bagaimana data yang diperoleh bisa menjadi basis untuk penelitian berikutnya dan memberikan kontribusi bagi kebutuhan nasional," kata Adi.



(agt/agt)






Hide Ads