Tiga prototipe rumah tahan gempa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), diuji secara langsung ketahanannya saat peristiwa gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Hasil pemeriksaan pascagempa menunjukkan ketiga rumah yang berada di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, itu tetap berdiri dan tidak mengalami kerusakan struktural pada dinding, kolom, maupun fondasinya. Kerusakan yang ditemukan hanya bersifat kosmetik, seperti sebagian keramik kamar mandi yang terlepas dan pecah akibat guncangan.
Kinerja tersebut mendorong BRIN mengusulkan teknologi rumah modular tahan gempa sebagai salah satu model yang dapat dipertimbangkan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi hunian di wilayah rawan bencana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah tahan gempa tidak berarti bangunan dibuat sedemikian kaku sehingga tidak bergerak sama sekali ketika gempa terjadi. Prinsip utama konstruksi tahan gempa justru bagaimana mengendalikan respons bangunan terhadap energi dan gaya yang ditimbulkan oleh guncangan.
Struktur perlu memiliki kekuatan sekaligus kemampuan deformasi yang memadai agar tidak mengalami keruntuhan secara tiba-tiba. Teknologi yang dikembangkan BRIN merupakan rumah modular yang dirancang untuk kawasan dengan risiko kegempaan tinggi seperti NTT. Tiga prototipe di Rangko dibangun pada 2021-2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang sebelumnya dirintis oleh BPPT.
"Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT," kata Perekayasa Ahli Muda BRIN Vian Marantha Haryanto, dikutip dari laman BRIN.
Ia menambahkan hasil pemeriksaan setelah gempa memberikan gambaran penting mengenai performa desain tersebut.
"Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," ujarnya.
Komponen untuk Meredam Guncangan
Salah satu teknologi yang dikembangkan dalam sistem rumah tahan gempa tersebut adalah rubber seismic bearing atau bantalan karet tahan gempa. Secara prinsip, komponen ini bekerja dengan membantu memisahkan respons struktur bagian atas dari gerakan yang diteruskan dari bagian bawah bangunan.
Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, bantalan yang bersifat elastis dapat membantu mengurangi besarnya gaya yang diteruskan langsung ke struktur. Vian menjelaskan bahwa rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan.
Ketika gaya geser akibat gempa terjadi, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahannya sehingga dampak guncangan terhadap struktur dapat dikurangi. Teknologi bantalan tersebut juga telah tercatat dalam dokumen paten Indonesia sebagai bantalan karet tahan gempa yang terdiri atas lapisan karet dan pelat logam di dalamnya.
Konsepnya mirip dengan memberi semacam 'peredam' pada bangunan di antara fondasi dan struktur, sehingga energi gerakan tanah tidak seluruhnya diteruskan secara langsung ke bagian atas bangunan.
Gempa M7,7 Jadi Ujian Lapangan
Yang membuat performa tiga rumah tersebut menarik adalah pengujiannya bukan hanya dilakukan di laboratorium. Bangunan tersebut benar-benar berada di wilayah yang mengalami gempa besar.
"Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," ujarnya.
Hasil pemantauan menunjukkan tidak ditemukan retakan struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi ketiga rumah. Kerusakan yang ditemukan terbatas pada bagian nonstruktural atau kosmetik.
Perbedaan ini penting dalam konstruksi tahan gempa. Kerusakan pada elemen nonstruktural tidak sama dengan kegagalan struktur utama. Dalam sebuah gempa besar, tujuan utama desain tahan gempa adalah mencegah keruntuhan bangunan dan melindungi penghuni.
Namun, hasil lapangan ini belum menjadi akhir pengujian. BRIN tetap berencana melakukan pengujian lebih lanjut untuk memperoleh validasi teknis. Pengujian akan menggunakan uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur.
Metode tersebut digunakan untuk melihat bagaimana komponen dan sistem struktur merespons pembebanan berulang yang merepresentasikan gerakan akibat gempa. Langkah ini penting karena satu kejadian gempa di lapangan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah desain akan memiliki performa yang sama pada semua kondisi.
Pasalnya, karakteristik gempa dapat berbeda, mulai dari magnitudo, kedalaman sumber, jarak bangunan dari sumber gempa, jenis tanah, durasi guncangan hingga kandungan frekuensi gelombang seismik. Karena itu, hasil lapangan dan pengujian laboratorium perlu dibaca bersama.
Teknologi rumah modular tersebut sebenarnya telah dikembangkan selama beberapa tahun. Pengembangannya dimulai sejak 2019, dengan sejumlah prototipe dibangun di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lebak, dan kemudian NTT.
Keunggulan sistem modular adalah komponen rumah dapat diproduksi dan dirakit dengan pendekatan yang lebih terstandar. Dalam konteks wilayah yang baru saja terkena bencana, pendekatan semacam ini berpotensi membantu mempercepat pembangunan kembali hunian, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi.
Baca juga: NTT Diguncang Gempa, Warganet: Pray for NTT |
Hal ini menjadi penting bagi Indonesia yang berada di kawasan aktif secara tektonik. Rumah bukan hanya perlu mampu menahan beban sehari-hari, tetapi juga harus dirancang dengan mempertimbangkan risiko gempa di lokasi masing-masing.
Jika hasil pengujian berikutnya konsisten dengan temuan lapangan, rumah modular tahan gempa ini berpotensi menjadi salah satu pilihan teknologi untuk membangun kembali hunian di kawasan rawan gempa Indonesia.