×
Ad

Gempa NTT 2026 Magnitudo 7,7, Mengapa Tsunaminya Tak Sedahsyat 1992?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 24 Agu 2026 07:15 WIB
Gempa NTT 2026 Magnitudo 7,7, Mengapa Tsunaminya Tak Sedahsyat 1992? Foto: Getty Images/iStockphoto/Petrovich9
Jakarta -

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah utara Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 kembali mengingatkan pada gempa Flores 1992. Kedua gempa memiliki kekuatan yang hampir sama, tetapi tsunami yang dihasilkan menunjukkan perbedaan sangat besar.

Gempa 15 Agustus 2026 terjadi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Gempa tersebut menimbulkan kerusakan cukup luas dan puluhan korban jiwa.

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan setelah gempa terjadi. Namun, peringatan tersebut kemudian diakhiri setelah hasil pemantauan menunjukkan tsunami yang relatif kecil.

Periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widjo Kongko, mengatakan peristiwa tersebut memiliki kemiripan magnitudo dengan gempa Flores pada 12 Desember 1992 yang berkekuatan sekitar Mw 7,7-7,8.

Namun, dampak tsunaminya jauh berbeda. Pada 1992, tsunami yang menyertai gempa sangat destruktif. Di Riangkroko, ujung timur laut Flores, tercatat run-up hingga 26,2 meter dan menimbulkan ribuan korban jiwa.

"Peristiwa tersebut segera mengingatkan kita pada gempa Flores 12 Desember 1992. Magnitudonya hampir sama, sekitar Mw 7,7-7,8, tetapi tsunami yang menyertainya sangat destruktif," ujar Widjo dikutip detikINET, Senin (24/8/2026).

Dijelaskannya, besarnya tsunami tidak bisa hanya ditentukan dari magnitudo gempa. Faktor yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana dasar laut bergerak ketika patahan mengalami ruptur atau pecah.

"Tsunami terjadi ketika perpindahan dasar laut mengganggu kolom air di atasnya. Karena itu, lokasi sumber, mekanisme patahan, arah dan besarnya slip, kedalaman, serta bentuk dasar laut dan pantai ikut menentukan besar kecilnya tsunami," tuturnya.

Flores berada pada sistem Flores Back-Arc Thrust, zona tektonik aktif yang terbentuk akibat interaksi Lempeng Australia dan Eurasia. Pada gempa 1992, lokasi sumber gempa berada sangat dekat dengan pantai dan menghasilkan deformasi dasar laut yang efektif membangkitkan tsunami. Namun, terdapat fenomena yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan hanya dengan model deformasi akibat patahan.

Widjo mengatakan model tsunami yang hanya menggunakan deformasi akibat patahan memang dapat menjelaskan banyak hasil pengamatan. Akan tetapi, model tersebut tidak mampu mereproduksi run-up ekstrem hingga 26,2 meter yang tercatat di Riangkroko. Karena itu, dugaan mengenai longsoran bawah laut yang dipicu gempa menjadi penting.

Penelitian terdahulu menunjukkan adanya indikasi longsoran di sejumlah lokasi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa kombinasi deformasi tektonik, longsoran, serta batimetri atau kondisi kedalaman dasar laut yang curam dapat memperkuat tsunami secara lokal.

"Dengan demikian, angka 26,2 meter di Riangkroko tidak seharusnya dianggap semata-mata sebagai akibat langsung dari magnitudo gempa," terang Widjo.



Simak Video "Video BNPB Update Korban Gempa NTT: 100 Tewas, 1.603 Luka"


(agt/agt)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork