Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Petani Jepang Kini Bertani Tengah Malam, Suhu Panas Makin Mematikan

Petani Jepang Kini Bertani Tengah Malam, Suhu Panas Makin Mematikan


Rachmatunnisa - detikInet

Petani Jepang bekerja di malam hari karena suhu panas ekstrem.
Foto: Reuters
Jakarta -

Bagi sebagian petani Jepang, bekerja di siang hari kini menjadi semakin berisiko. Gelombang panas yang makin intens membuat mereka mengubah jam kerja, bahkan sampai tengah malam dan dini hari, demi melindungi diri, tanaman, dan ternak.

Reuters melaporkan perubahan tersebut terjadi di sejumlah wilayah pertanian Jepang, seiring suhu musim panas yang semakin ekstrem. Para petani mulai menghindari jam-jam terpanas dan memindahkan pekerjaan ke waktu ketika suhu lebih rendah.

Salah satunya dilakukan Motoaki Iijima, petani bunga di Nikko, Prefektur Tochigi. Ia mengubah lahan sawah keluarganya menjadi perkebunan bunga sekitar satu dekade lalu. Namun, setelah seorang pekerja mengalami heatstroke saat memanen bunga matahari tiga musim panas lalu, pola kerja diubah secara drastis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat suhu di luar mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, suhu di dalam rumah kaca dapat menembus 40 derajat Celsius. Kini, Iijima dan pekerjanya memilih bekerja pada malam hari.

"Jam-jam sekitar senja benar-benar sangat berharga. Saat itulah kami bisa berada di luar. Kami perlahan menjadi nokturnal. Ini soal melindungi tubuh kami dan pada akhirnya, nyawa kami," kata Iijima seperti dikutip dari Reuters.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut bukan sekadar perubahan rutinitas. Dampak panas ekstrem terhadap sektor pertanian Jepang semakin nyata. Sekitar 70% petani Jepang berusia 65 tahun atau lebih, kelompok yang lebih rentan terhadap tekanan panas. Kelembapan tinggi juga dapat memperburuk risiko karena tubuh lebih sulit melepaskan panas melalui penguapan keringat.

Pada 2024, tercatat 59 pekerja pertanian meninggal akibat panas ekstrem di Jepang. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021. Sementara itu, survei Japan Weather Association pada tahun berikutnya menunjukkan hampir 60% petani usia 20-50 tahun pernah mengalami heatstroke sendiri atau mengenal seseorang yang mengalaminya.

Perubahan jam kerja pun semakin umum. Hampir 60% petani yang disurvei mengatakan mereka memindahkan pekerjaan ke pagi lebih awal atau sore hingga malam untuk menghindari panas.

Panas ekstrem juga memberikan dampak ekonomi. Menurut data Lancet Countdown, paparan panas pada 2024 membuat sektor pertanian Jepang kehilangan sekitar 926 juta jam kerja yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja di lahan.

Jika seluruh sektor ekonomi dihitung, jam kerja yang hilang akibat panas hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata dekade 1990-an. Dampaknya diperkirakan setara dengan sekitar USD46 miliar atau 1% produk domestik bruto Jepang.

Bagi petani, persoalannya sederhana tetapi serius, semakin panas kondisi lingkungan, semakin pendek waktu yang tersedia untuk bekerja dengan aman.

"Kami harus berpacu dengan waktu," kata Miyoko Asada, pekerja pertanian berusia 68 tahun, menggambarkan situasi tersebut.

Asada dan pekerja lain kini datang tak lama setelah Matahari terbit untuk memanen bunga sebelum suhu kembali melewati batas yang dianggap aman. Perubahan suhu juga berdampak langsung pada hewan ternak.

Peternak ayam Tetsuya Usuba pernah kehilangan lebih dari 500 ayam petelur dalam periode tiga hari yang sangat panas sekitar enam tahun lalu. Kini ia memiliki rutinitas khusus untuk membantu ternaknya menghadapi suhu tinggi.

Lampu di dua kandang otomatis menyala pada 02.30 waktu setempat agar 4.400 ayam bangun dan makan sebelum panas siang menekan nafsu makan mereka. Usuba juga memasang kipas tambahan dan menyemprotkan air ke atap kandang untuk membantu menurunkan suhu.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Ketika suhu tiba-tiba melewati 35 derajat Celsius pada bulan sebelumnya, ia masih kehilangan 130 ekor ayam.

"Musim panas telah menjadi ancaman baru bagi produsen seperti kami, sesuatu yang sama menakutkannya dengan wabah flu burung," kata Usuba.

Tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menjaga suhu inti tetap stabil. Ketika lingkungan panas, tubuh meningkatkan aliran darah ke kulit dan menghasilkan keringat untuk membuang panas melalui penguapan.

Masalah muncul ketika suhu dan kelembapan lingkungan terlalu tinggi. Penguapan keringat menjadi kurang efektif sehingga tubuh lebih sulit melepaskan panas. Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, suhu tubuh dapat meningkat dan menyebabkan heat exhaustion hingga heatstroke, yang dapat mengancam nyawa. Karena itu, memindahkan pekerjaan ke malam atau dini hari bukan sekadar soal kenyamanan. Strategi tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang semakin panas.

Fenomena serupa mulai terlihat di berbagai negara. Petani di sejumlah wilayah, termasuk Vietnam dan pekerja perkebunan anggur di Spanyol, juga memindahkan aktivitas kerja ke pagi atau malam untuk menghindari gelombang panas.

Pemerintah Jepang juga mulai mendorong adaptasi terhadap panas ekstrem. Sejak 2025, aturan tempat kerja baru mewajibkan pemberi kerja memiliki prosedur pelaporan heatstroke serta rencana penanganan keadaan darurat.

Teknologi pertanian cerdas juga didorong, termasuk penggunaan drone dan robot untuk mengurangi paparan panas yang harus diterima pekerja. Namun, di lapangan, perubahan paling sederhana justru menjadi salah satu yang paling efektif, mengubah kapan manusia bekerja.

Rumah kaca yang biasanya aktif pada siang hari kini diterangi lampu pada malam hari. Petani memanen sebelum Matahari terik. Peternak mengatur waktu makan ayam berdasarkan suhu.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana kenaikan suhu bukan hanya persoalan angka pada termometer. Ketika panas ekstrem menjadi semakin sering dan intens, ia dapat mengubah ritme kerja manusia, perilaku hewan, produktivitas pertanian, hingga cara sebuah industri menjalankan aktivitas sehari-hari.



(rns/rns)




Hide Ads