Ada katak yang memiliki cara berkembang biak tak biasa, menelan telurnya sendiri, membesarkan kecebong di dalam lambung, lalu melahirkan anak melalui mulut. Katak unik itu kini telah punah, tetapi ilmuwan pernah menemukan cara untuk menghidupkan kembali materi genetiknya.
Katak tersebut adalah southern gastric-brooding frog (Rheobatrachus silus), spesies endemik Australia yang dinyatakan punah setelah individu terakhir yang diketahui mati pada 1983. Yang membuat kisahnya semakin menarik, sebagian jaringan tubuh katak tersebut ternyata masih tersimpan dalam kondisi beku.
Jaringan itu kemudian menjadi bahan eksperimen Lazarus Project, sebuah proyek de-extinction yang berupaya menghidupkan kembali spesies yang telah punah menggunakan materi genetik yang tersisa
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari IFL Science, Kamis (20/8/2026) Rheobatrachus silus pertama kali dikenal dunia pada 1970-an karena perilaku reproduksinya yang sangat tidak biasa. Setelah telur dibuahi, katak betina akan menelannya dan menyimpannya di dalam lambung. Di sana, telur berkembang menjadi kecebong dan kemudian berubah menjadi katak kecil.
Selama proses tersebut, sistem pencernaan induknya harus berhenti memproduksi asam lambung agar telur dan anak-anaknya tidak tercerna. Ketika perkembangan selesai, anak-anak katak kemudian keluar melalui mulut induknya.
Mekanisme tersebut membuat spesies ini menjadi salah satu contoh paling ekstrem dari evolusi perilaku reproduksi pada amfibi. Namun, keberadaan katak tersebut tidak berlangsung lama setelah ditemukan ilmuwan.
Populasinya menghilang dari habitat alaminya pada awal 1980-an. Individu terakhir yang diketahui kemudian mati dalam penangkaran pada 1983. Harapan untuk menghidupkannya kembali muncul dari sesuatu yang awalnya mungkin tidak dianggap istimewa, stoples berisi jaringan katak yang disimpan di freezer.
Beberapa jaringan Rheobatrachus silus dikumpulkan pada 1970-an dan disimpan selama sekitar 40 tahun dalam freezer biasa. Yang mengejutkan, inti sel dari jaringan tersebut masih dapat ditemukan dan digunakan dalam eksperimen.
Michael Mahony, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam proyek tersebut, bahkan pernah menemukan spesimen beku ketika mencari kembali koleksi lama di University of Adelaide. Dalam wawancara dengan ABC, Mahony menceritakan bahwa jaringan tersebut ternyata masih menunjukkan struktur seluler yang cukup baik meski tidak dibekukan menggunakan teknik kriopreservasi modern.
"Meskipun jaringan tersebut tidak dilindungi secara kriogenik, Anda masih bisa melihat inti selnya, Anda masih bisa melihat sel-sel utuh," ujarnya.
Temuan tersebut membuka kemungkinan untuk mencoba mengambil materi genetik dari sel yang sudah mati. Lazarus Project kemudian menggunakan teknik yang disebut somatic cell nuclear transfer (SCNT).
Secara sederhana, inti sel dari katak yang telah punah dipindahkan ke dalam sel telur katak lain yang inti selnya sudah dinonaktifkan. Dalam eksperimen tersebut, peneliti menggunakan telur dari great barred frog (Mixophyes fasciolatus), spesies yang masih hidup.
Tujuannya bukan menghasilkan hibrida biasa. Peneliti ingin melihat apakah inti sel dari spesies yang telah punah masih menyimpan informasi genetik yang cukup untuk mengarahkan perkembangan embrio. Hasilnya cukup mengejutkan.
Beberapa sel telur hasil rekonstruksi tersebut mulai membelah dan berkembang hingga mencapai tahap embrio awal, berupa kumpulan kecil sel hidup. Artinya, materi genetik dari katak yang telah mati puluhan tahun sebelumnya masih mampu menjalankan sebagian proses biologis ketika ditempatkan dalam lingkungan sel telur yang sesuai.
Temuan tersebut memang terdengar seperti langkah menuju kebangkitan spesies. Namun, Lazarus Project belum berhasil menghasilkan katak Rheobatrachus silus hidup. Eksperimen yang dilakukan menghasilkan embrio pada tahap awal, tetapi embrio tersebut tidak berkembang menjadi katak yang dapat hidup mandiri.
Karena itu, istilah 'menghidupkan kembali' dalam konteks proyek ini perlu digunakan dengan hati-hati. Yang berhasil dilakukan ilmuwan adalah mengaktifkan kembali materi genetik dari spesies yang telah punah dalam eksperimen sel, bukan mengembalikan spesies tersebut ke alam.
Eksperimen tersebut memberikan pelajaran penting mengenai kemungkinan de-extinction. Materi genetik spesies yang sudah punah ternyata tidak selalu langsung kehilangan seluruh potensinya setelah kematian organisme. Jika jaringan disimpan dengan kondisi tertentu, sebagian informasi genetik dan struktur sel dapat bertahan cukup lama untuk dipelajari atau bahkan digunakan dalam eksperimen biologi reproduksi.
Hal ini juga menjelaskan mengapa bank jaringan beku semakin penting dalam konservasi. Berbagai kebun binatang, museum, dan lembaga penelitian kini menyimpan sel atau jaringan spesies yang terancam punah. Koleksi tersebut dapat menjadi semacam cadangan genetik apabila suatu saat populasi suatu spesies benar-benar menghilang.
Adapun penyebab pasti kepunahan Rheobatrachus silus masih belum sepenuhnya diketahui. Spesies ini memiliki wilayah persebaran yang sangat terbatas di Queensland, Australia. Populasinya mengalami penurunan drastis pada akhir 1970-an dan akhirnya menghilang dari alam.
Sejumlah faktor pernah dipertimbangkan, termasuk perubahan habitat dan penyakit pada amfibi. Namun, karena penurunan populasinya berlangsung cepat setelah spesies tersebut baru saja ditemukan, penyebab pastinya sulit dipastikan.
Kini, spesimen yang tersimpan di museum dan laboratorium menjadi satu-satunya jejak fisik yang tersisa dari spesies tersebut. Teknologi de-extinction terus berkembang, tetapi menghidupkan kembali spesies yang sudah punah jauh lebih rumit daripada sekadar mendapatkan DNA.
Para ilmuwan harus memiliki genom yang cukup lengkap, sel yang dapat digunakan, teknik reproduksi yang sesuai, serta induk pengganti yang kompatibel. Bahkan jika embrio berhasil dibuat, masih ada tantangan untuk membuatnya berkembang hingga dewasa dan menghasilkan keturunan.
Dalam kasus Rheobatrachus silus, persoalannya semakin rumit karena katak tersebut memiliki mekanisme reproduksi yang sangat spesifik. Jadi, katak yang dulu bisa melahirkan melalui mulut belum benar-benar kembali.
Namun, eksperimen Lazarus Project menunjukkan sesuatu yang tidak kalah menarik, inti sel dari katak yang telah mati selama puluhan tahun masih dapat digunakan untuk menghasilkan embrio awal.
Dari sebuah spesimen beku berusia sekitar 40 tahun, ilmuwan mendapat kesempatan untuk mencoba membuka kembali pintu menuju spesies yang telah hilang. Kalau suatu hari teknologi benar-benar memungkinkan katak ini kembali hidup, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bisakah kita menghidupkannya?, tetapi juga di mana ia harus hidup dan bagaimana memastikan spesies itu bisa bertahan?
(rns/fay)