Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Studi: 1 Bom Meledak di Laut Indonesia Setiap 62 Menit

Studi: 1 Bom Meledak di Laut Indonesia Setiap 62 Menit


Aisyah Kamaliah - detikInet

Wisatawan menyelam di bawah laut Sombu Dive, di Kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (7/10/2025). Taman Nasional Wakatobi mencatat di perairannya menjadi habitat bagi lebih dari 750 spesies ikan terumbu karang dan 850 spesies moluska, selain itu terdapat juga lebih dari 1.000 spesies hewan laut di antaranya penyu, hiu, paus, dan lumba-lumba. ANTARA FOTO/Jojon/tom.
Ilustrasi terumbu karang. Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Jakarta -

Terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik dibom dengan frekuensi setara satu kali setiap 62 menit, menurut monitoring terbaru di kawasan tersebut. Kini ada teknologi baru untuk mengatasinya.

Metode ini menggabungkan penggunaan mikrofon dan model pembelajaran mesin untuk mendeteksi peristiwa pengeboman di wilayah perairan yang luas.

Penangkapan ikan dengan bom artinya menangkapnya dengan melemparkan bahan peledak ke dalam perairan. Gelombang kejut yang ditimbulkannya membunuh ikan-ikan di sekitarnya dan memungkinkan hasil tangkapan instan. Akan tetapi, cara ini juga merusak ekosistem bawah laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Terumbu karang mencakup kurang dari 1% dasar laut, namun menjadi penopang bagi lebih dari 25% spesies laut. Kelestarian terumbu karang merupakan fondasi bagi terbentuknya keseluruhan rantai makanan, tapi hanya dibutuhkan satu bom saja untuk memusnahkannya.

Menurut ahli biologi kelautan Dr Ben Williams dari University College London dan Institute of Zoology, populasi ikan membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk pulih setelah terjadinya penangkapan ikan dengan bom. Dampak lanjutannya dapat membuat komunitas nelayan menjadi semakin rentan.

Satu bom setiap 62 menit sekali

Langkah awal untuk mengatasi praktik penangkapan ikan dengan bom adalah menetapkan metode yang andal guna mendeteksi kapan dan di mana praktik tersebut terjadi. Sebuah tim ilmuwan Inggris dan Indonesia berupaya melakukan hal itu dengan menempatkan mikrofon bawah air di seluruh wilayah Kepulauan Spermonde, Indonesia.

Mikrofon-mikrofon tersebut menangkap simfoni suara dari terumbu karang yang sehat, sekaligus suara ledakan bom yang mencakup area seluas setidaknya 900 kilometer persegi. Para peneliti memperkirakan area ini mencakup wilayah terumbu karang seluas lebih dari 100 kilometer persegi.

Setelah melakukan perekaman, tim menggunakan algoritma machine learning untuk mengidentifikasi kejadian penangkapan ikan dengan bom. Hasilnya sangat mencengangkan.

Mikrofon mencatat adanya 3.570 ledakan bom dalam rekaman audio berdurasi 3.650 jam. Jika diproyeksikan dalam satu tahun penuh, angka tersebut setara dengan 8.500 kali pelemparan bom, atau satu kali setiap 62 menit.

Dengan asumsi bahwa semua bom tersebut dijatuhkan di atas terumbu karang (hal yang tidak dapat dipastikan oleh peneliti hanya berdasarkan data mikrofon), tingkat pengeboman seperti ini dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang seluas 0,17 kilometer persegi per tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun, luas kerusakan tersebut setara dengan luas wilayah Vatikan.

Tindakan dengan hasil yang berdampak besar

Para peneliti, termasuk tim di balik makalah tahun 2021 ini, menemukan bahwa upaya konservasi lebih efektif jika dikelola oleh masyarakat setempat. Menemukan alternatif berkelanjutan yang juga layak secara ekonomi bisa menjadi proses yang rumit, namun jika dilakukan dengan tepat, hasilnya bisa sangat luar biasa.

"Kepulauan ini sebenarnya menjadi lokasi utama bagi program restorasi terumbu karang terbesar di dunia (buildingcoral.com) yang dipimpin oleh (perusahaan cokelat) Mars," ujar William.

"Pendekatan ini melibatkan pemasangan hamparan luas struktur baja berbentuk bintang yang disebut 'reef stars' dan dilapisi pasir terumbu untuk menstabilkan hamparan pecahan karang akibat praktik penangkapan ikan menggunakan bom," sambungnya.

Lebih lanjut, 15 fragmen karang dari terumbu sehat di sekitarnya dipasang pada setiap struktur tersebut. Hanya dalam beberapa tahun, tutupan karang di lokasi-lokasi ini dapat pulih dari kurang dari 5% menjadi lebih dari 80%.

William mengatakan meskipun hasilnya mencengangkan, restorasi semacam ini tidaklah murah. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi akar penyebab kerusakan terumbu karang. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation. Demikian melansir IFLScience.



(ask/afr)






Hide Ads
LIVE