Ada air terjun darah yang memukau di benua Antartika. Terletak di tepi timur Gletser Taylor di McMurdo Dry Valleys, Antartika, aliran air merah pekat yang dramatis ini terjun ke Danau Bonney.
Warna khasnya berasal dari air garam kaya zat besi yang mengalir deras menuruni tebing batu, tapi dari mana tepatnya asal air tersebut masih belum jelas. Kini ada satu hal yang jelas, air asin tersebut penuh dengan kehidupan laut, meskipun jaraknya berkilo-kilo meter dari samudra.
Menurut studi di jurnal Nature Geoscience, air yang mengalir melalui Blood Falls mengandung komunitas organisme laut yang khas. Keberadaan organisme khusus air asin ini menunjukkan bahwa sistem air di bawah gletser tersebut berasal dari laut.
"Menemukan sesuatu yang pada dasarnya merupakan oasis laut yang tumbuh subur di gurun kutub lebih dari 32 km dari samudra adalah luar biasa," kata Andrew E. Allen, salah satu penulis studi sekaligus ekolog mikroba di University of California, San Diego.
"Komunitas mikroba beragam yang kami temukan tetap mempertahankan koneksi biologis dengan lingkungan laut purba, sekaligus menunjukkan ketahanan dan kemampuan adaptasi kehidupan yang luar biasa," paparnya seperti dikutip detikINET dari Popular Science.
Studi geokimia sebelumnya di area tersebut menunjukkan sumber air yang mengaliri Blood Falls kemungkinan berasal dari air laut yang membanjiri Lembah Taylor selama periode hangat di masa lalu. Sumber air tersebut kemudian terisolasi di bawah Gletser Taylor yang terus meluas ketika permukaan air laut surut.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang asal-usul mikroba di Gletser Taylor dan Blood Falls, tim peneliti menganalisis 167 sampel air, sedimen, dan udara. Mereka menggunakan beberapa teknik genetik untuk mengidentifikasi mikroorganisme dalam setiap sampel.
Mereka menemukan bahwa mikroorganisme dalam es merah, sedimen, dan lumpur pada tepi terendah gletser hampir sepenuhnya terkait lingkungan laut. Sementara lokasi-lokasi di sekitarnya didominasi oleh organisme yang biasa ditemukan di air tawar dan daratan.
"Aktivitas biologis yang kami amati dari analisis mRNA menunjukkan komunitas laut purba ini tidak sekadar membeku dimakan waktu, tetapi entah bagaimana mampu bertahan meskipun terjadi perubahan lingkungan yang sangat drastis," jelas Allen.
Simak Video "Video: Demi DNA Purba, Peneliti RI Ini Jalani Hari 'Tanpa Malam' di Antartika"
(fyk/fay)