Pernah ada kejadian beberapa pawang ular meninggal dipatuk ular king cobra milik mereka sendiri. Bisanya bukan kaleng-kaleng, gajah pun bisa mati.
Pada 23 Oktober 2022, Imam Rokhani (49) asal Dusun Winong, Desa Ngrayung, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, menghembuskan napas terakhir setelah dipatuk king cobra yang telah ia pelihara selama lima tahun. Sebelumnya pada 8 Juli 2018, Dewa Rizky Achmad (19) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, juga tewas dipatuk king cobra peliharaannya dalam atraksi di acara Car Free Day.
Bisa king cobra memang dikenal sangat mematikan, bahkan mampu membunuh gajah Asia hanya dalam waktu tiga jam. Untuk manusia, tentu dampaknya lebih fatal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia, ular king cobra pun sudah sangat dikenal. Di beberapa daerah, ia disebut dengan nama ular tedung, ular lanang (Jawa), ular totok (Jawa), dan ular tedong selor (Kalimantan). Melansir buku Kisah 1001 Fakta-Fakta Paling Super oleh Nia Kamaladewi, ular ini banyak tersebar di Asia Selatan dan Tenggara, hidup di hutan dataran tinggi.
Taksonomi King Cobra
- Nama hewan: King Cobra/Kobra Raja
- Kerajaan: Animalia
- Filum: Chordata
- Kelas: Reptilia
- Ordo: Squamata
- Sub-ordo: Serpentes
- Famili: Elapidae
- Genus: Ophiophagus
- Spesies: Ophiophagus hannah.
Morfologi King Cobra
Secara fisik, king cobra punya kepala yang besar dengan moncong pendek dan tumpul. Di belakang sisik ubun-ubun, terdapat perisai oksipital besar, perisai labial (bibir) berjumlah tujuh dan beberapa bersentuhan dengan mata. Dia juga memiliki pupil besar dan bundar.
Ular king cobra. Foto: Unsplash/Nivedh P |
King cobra memiliki 15 deret sisik dorsal di bagian tengah tubuhnya, dengan 215 hingga 262 sisik ventral. Sisik anal tunggal, sementara sisik subkaudal berjumlah 80 hingga 120, terdiri dari sisik tunggal dan sisik berpasangan.
Untuk warna kulitnya, bagian atas tubuh king cobra (dorsal) biasanya berwarna cokelat kekuningan atau keabu-abuan dengan kepala yang lebih terang. Sementara bagian bawah tubuhnya (ventral) berwarna keabuan atau kecokelatan, dengan dada dan leher berwarna kuning cerah atau krem dan pola belang hitam yang terlihat jelas saat lehernya dibentangkan.
Bisa King Cobra
Ular king cobra ditakuti karena sangat agresif sangat menyerang. Bisanya sebenarnya tidak lebih berbahaya ketimbang ular lainnya. Namun, ular ini mampu menyuntikkan racun hingga lima kali lebih banyak dari ular mamba hitam, sehingga dapat menyebabkan kematian lebih cepat.
Dikutip dari lama Britannica, racun king kobra disebutkan dapat melumpuhkan gajah Asia dengan waktu 3 jam saja setelah gajah tersebut tergigit.
Yang mengerikan, bisa king cobra bersifat neurotoksik atau mengganggu sistem saraf. Satu gigitan king cobra mampu mengakibatkan kematian pada 10 orang.
Bisa king cobra dapat menyebabkan sakit yang hebat, gangguan penglihatan, vertigo, kelumpuhan otot, dan bisa mengakibatkan kegagalan jantung dan pernapasan dalam beberapa jam.
Penyebaran dan Ekologi King Cobra
Ular king cobra tersebar luas di berbagai negara seperti India, Bhutan, Nepal, Bangladesh, Myanmar, Kamboja, China Selatan, Laos, Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaya, dan Filipina. Di Indonesia, ular ini dapat ditemukan di hampir semua wilayah, termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.
Ular king cobra dapat hidup di berbagai habitat mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Habitatnya mencakup gua, hutan, rawa, semak belukar, lahan pertanian, bahkan area sekitar pemukiman.
(ask/fay)




