Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Lubang Anus Diduga Picu Kepunahan Massal Pertama di Bumi

Lubang Anus Diduga Picu Kepunahan Massal Pertama di Bumi


Rachmatunnisa - detikInet

Kepunahan massal
Ilustrasi kepunahan. Foto: The Brighter Side News
Jakarta -

Siapa sangka salah satu inovasi evolusi paling penting dalam sejarah kehidupan di Bumi justru diduga memicu kepunahan massal pertama? Menurut naturalis dan penyiar asal Inggris Chris Packham, munculnya saluran pencernaan lengkap (through-gut), yang memiliki mulut dan anus terpisah, mengubah cara hewan memperoleh makanan dan memicu perubahan besar pada ekosistem purba.

Gagasan tersebut dibahas dalam serial dokumenter BBC Evolution dan dijelaskan Packham dalam wawancara dengan IFLScience. Peristiwa yang dimaksud diperkirakan terjadi sekitar 550 juta tahun lalu, menjelang berakhirnya periode Ediakara, ketika banyak organisme purba tiba-tiba menghilang dari catatan fosil.

Pada awal evolusi hewan, banyak organisme hanya memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai tempat masuk sekaligus keluarnya makanan. Sistem ini dikenal sebagai blind gut atau saluran pencernaan buntu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena makanan masuk dan keluar melalui lubang yang sama, hewan tidak bisa makan sambil mencerna makanan sebelumnya. Akibatnya, proses memperoleh energi berlangsung lambat. Menurut Packham, perubahan besar terjadi ketika mutasi menghasilkan saluran pencernaan dengan dua bukaan, mulut di satu ujung dan anus di ujung lainnya.

"Begitu hewan memiliki saluran pencernaan lengkap, makanan masuk dari satu ujung dan terus diproses hingga keluar dari ujung lainnya, mereka bisa makan hampir tanpa henti," kata Chris Packham.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan kemampuan makan lebih sering membuat hewan memperoleh lebih banyak energi untuk tumbuh dan berkembang. Namun, kemampuan baru tersebut membawa konsekuensi besar bagi lingkungan.

Saat itu dasar laut ditutupi lapisan mikroba tebal yang dikenal sebagai Ediacaran microbial mats. Lapisan ini menjadi sumber makanan sekaligus habitat bagi banyak organisme purba.

Ketika hewan dengan saluran pencernaan lengkap mulai berkembang, mereka mengonsumsi lapisan mikroba tersebut dalam jumlah besar. Akibatnya, habitat utama berbagai organisme Ediakara rusak dan banyak spesies bergantung pada mikroba tersebut akhirnya punah.

Perubahan ekologi inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab kepunahan massal pertama dalam sejarah kehidupan kompleks di Bumi.

Packham menjelaskan evolusi anus juga memicu perubahan anatomi lain yang sangat penting, yakni munculnya kepala. Ketika hewan memiliki mulut dan anus yang terpisah, bagian depan tubuh menjadi pusat aktivitas mencari makanan. Organ-organ indera seperti mata, hidung, dan alat pengecap pun berkembang di sekitar mulut agar hewan lebih mudah menemukan makanan.

Selanjutnya, otak berkembang di dekat organ-organ tersebut agar proses pengolahan informasi berlangsung lebih efisien.

"Begitu Anda memiliki mulut dan anus, Anda ingin mulut berada di tempat makanan berada. Itu berarti Anda membutuhkan organ indera di dekat mulut, dan otak harus berada sedekat mungkin dengan organ-organ itu. Dari situlah kepala berevolusi," ujar Packham.

Ia kemudian merangkum proses itu dengan kalimat yang mengundang senyum, "Singkatnya, tanpa anus, tidak akan ada kepala."

Menurut Packham, kisah evolusi menunjukkan bahwa manusia bukanlah tujuan akhir dari proses tersebut. Ia berharap masyarakat melihat evolusi sebagai proses yang terus berlangsung dan memahami bahwa manusia hanyalah salah satu bagian dari sejarah panjang kehidupan di Bumi.

"Serial ini ingin menunjukkan bahwa kita bukan tujuan akhir evolusi, dan evolusi belum berhenti. Kita hanyalah bagian dari sebuah kisah yang akan terus berlanjut selama miliaran tahun ke depan," kata Packham.

Temuan dan penjelasan ini juga menjadi pengingat bahwa perubahan biologis yang tampak sederhana dapat mengubah seluruh ekosistem. Dalam kasus evolusi saluran pencernaan, inovasi yang membuat hewan makan lebih efisien ternyata diduga ikut mengubah wajah kehidupan di Bumi untuk selamanya.



(rns/rns)




Hide Ads