Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tak Disangka, Profesi Pemulung Kini Merambah Luar Angkasa

Tak Disangka, Profesi Pemulung Kini Merambah Luar Angkasa


Rachmatunnisa - detikInet

Robot pembersih sampah luar angkasa
Robot pembersih sampah luar angkasa (Foto: The New York Post)
Jakarta -

Perlombaan antariksa tak lagi hanya soal mengirim astronaut, membangun stasiun luar angkasa, atau mendarat di Bulan dan Mars. Kini, perusahaan-perusahaan antariksa mulai berlomba menjadi 'pemulung' pertama di orbit Bumi dengan mengembangkan teknologi untuk membersihkan ribuan ton sampah antariksa.

Perubahan ini dipicu oleh semakin padatnya orbit Bumi akibat ledakan jumlah satelit yang diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut NASA, terdapat lebih dari 100 juta serpihan sampah antariksa berukuran di atas 1 milimeter yang mengorbit Bumi, dengan total berat sekitar 6.000 ton. Bahkan serpihan sekecil serpihan cat sekalipun dapat merusak satelit karena melaju dengan kecepatan lebih dari 27.000 km/jam.

Dr. Chiranjeevi Phanindra, pendiri dan CEO Cosmoserve Space, mengatakan jumlah objek yang diluncurkan ke luar angkasa terus meningkat drastis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama tujuh dekade terakhir kita telah meluncurkan sekitar 20.000 objek ke luar angkasa. Kini kita berbicara tentang kemungkinan meluncurkan hingga satu juta satelit hanya dalam 10 tahun ke depan," ujar Phanindra seperti dikutip dari New York Post, Jumat (10/7/2026).

Selama ini, upaya membersihkan sampah antariksa lebih banyak dilakukan pemerintah. Namun, mulai 2027, aturan baru dari Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat mewajibkan operator satelit mengeluarkan satelit yang sudah tidak berfungsi dari orbit rendah Bumi maksimal lima tahun setelah masa operasinya berakhir. Sebelumnya, pedoman yang berlaku memberi waktu hingga 25 tahun.

ADVERTISEMENT

Aturan tersebut membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan swasta yang mengembangkan teknologi pembersihan sampah antariksa. Phanindra memperkirakan nilai industri ini dapat mencapai sekitar USD 8 miliar atau sekitar Rp 144 triliun.

Setiap perusahaan menawarkan pendekatan berbeda untuk membersihkan orbit Bumi. Cosmoserve Space, misalnya, mengembangkan lengan robot lunak yang bekerja layaknya tanaman Venus flytrap, yakni menjepit sampah antariksa sebelum membawanya keluar dari orbit.

Sementara perusahaan KMI mengembangkan teknologi yang mampu menangkap objek di luar angkasa tanpa memerlukan adaptor khusus. Teknologi tersebut bahkan telah didemonstrasikan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Selain menggunakan lengan robot, sejumlah perusahaan lain mengembangkan jaring raksasa untuk menangkap sampah antariksa atau menyemprotkan gas ke objek agar kecepatannya berkurang sehingga jatuh kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar.

Menurut Adam Kall, pendiri KMI, teknologi yang dikembangkan untuk membersihkan sampah antariksa sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih luas. Kemampuan menangkap dan memindahkan satelit dapat dimanfaatkan untuk membangun berbagai infrastruktur di luar angkasa.

"Ketika kami berbicara tentang pembersihan sampah, sebenarnya kami sedang membicarakan logistik di luar angkasa," kata Kall.

Ia menjelaskan teknologi tersebut nantinya bisa digunakan untuk memindahkan satelit yang masih berfungsi ke orbit baru, mengirim material ke pabrik di luar angkasa, hingga membantu pembangunan struktur besar di orbit.

"Saya pikir masa depan ada pada konstruksi di luar angkasa. Jika kita bisa meluncurkan tiga bagian pesawat antariksa lalu menyatukannya di orbit, kita akan memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya," ujarnya.

Dengan semakin padatnya orbit Bumi dan meningkatnya jumlah satelit, teknologi pembersihan sampah antariksa diperkirakan akan menjadi salah satu fondasi penting bagi ekonomi antariksa di masa depan. Perusahaan yang lebih dulu menguasai teknologi ini berpeluang menjadi pemain utama dalam industri luar angkasa yang terus berkembang.



(rns/fay)






Hide Ads