Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Belajar dari Kebakaran TPA Jatiwaringin, Perlu Ada Kamera Termal dan Drone

Belajar dari Kebakaran TPA Jatiwaringin, Perlu Ada Kamera Termal dan Drone


Rachmatunnisa - detikInet

Hari ke-10 Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin, Asap Masih Mengepul
Suasana hari ke-10 kebakaran TPA Jatiwaringin, asap masih mengepul (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta -

Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kembali menjadi sorotan setelah terjadinya insiden di TPA Jatiwaringin. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), risiko kebakaran dapat ditekan dengan memanfaatkan teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini, bukan hanya mengandalkan upaya pemadaman saat api sudah membesar.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta mengatakan, pencegahan kebakaran harus dimulai dari pengelolaan TPA yang lebih terkontrol, termasuk memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi titik panas (hotspot) sejak dini.

"Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca," kata Wahyu dalam diskusi di Media Lounge BRIN, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (9/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pendekatan berbasis sains dapat membantu mendeteksi potensi kebakaran sebelum api meluas. Beberapa parameter yang dapat dipantau meliputi suhu permukaan dan bawah permukaan timbunan sampah, anomali panas, konsentrasi gas tertentu, jumlah hari tanpa hujan, kelembapan udara, hingga kecepatan dan arah angin.

"Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Wahyu menjelaskan, secara ilmiah kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar tersedia melimpah dalam bentuk plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga sampah organik yang telah mengering.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu PurwantaPeneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta. Foto: Rachmatunnisa/detikINET

Selain itu, gas landfill seperti metana juga dapat menjadi bahan bakar pada kondisi tertentu. Sementara oksigen masuk melalui permukaan, retakan, maupun rongga di dalam timbunan sampah. Namun, menurut Wahyu, sumber penyalaan awal sering kali sulit dipastikan.

"Secara umum, pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan. Namun, untuk suatu kejadian tertentu, termasuk kebakaran TPA Jatiwaringin, penyebab spesifik sebaiknya tidak disimpulkan sebelum ada hasil investigasi yang memadai," jelasnya.

Selain sistem pemantauan, Wahyu menilai pengelolaan sampah juga harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Ia menegaskan tidak ada satu teknologi yang cocok diterapkan di semua TPA.

"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," katanya.

Menurutnya, sampah organik sebaiknya diolah melalui pengomposan atau biodigester, sedangkan material yang masih memiliki nilai ekonomi perlu dipilah untuk didaur ulang. Sementara fraksi sampah yang mudah terbakar dapat dimanfaatkan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau diolah menggunakan teknologi waste-to-energy yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.

Wahyu menegaskan pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan di dalam kawasan TPA. Upaya jangka panjang harus dimulai dengan mengurangi volume sampah campuran yang berakhir di fasilitas tersebut.

"Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat sehingga fasilitas akhir lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol," pungkasnya.



(rns/fay)






Hide Ads