Sebuah gunung api bawah laut di Laut Bismarck, sebelah utara Papua Nugini, sebelah Papua, tengah menjadi perhatian para ilmuwan. Berdasarkan pengamatan satelit, aktivitas vulkanik yang berlangsung sejak awal Mei 2026 berpotensi melahirkan sebuah pulau baru di permukaan Bumi.
Fenomena langka ini dipantau menggunakan citra dari satelit Aqua dan Terra milik NASA. Dari luar angkasa, satelit merekam semburan uap, perubahan warna air laut, hingga hamparan batu apung vulkanik (pumice rafts) yang mengapung di sekitar lokasi letusan.
Letusan tersebut bermula pada 8 Mei 2026, ketika sensor seismik mendeteksi serangkaian gempa kecil di dasar laut. Tak lama kemudian, citra satelit memperlihatkan tanda-tanda adanya aktivitas vulkanik di bawah permukaan laut yang sebelumnya belum pernah dipetakan secara rinci.
Menurut para peneliti, material vulkanik yang terus dimuntahkan dari dasar laut perlahan menumpuk ke arah permukaan. Jika proses ini terus berlangsung, endapan lava dan abu vulkanik dapat muncul di atas permukaan laut dan membentuk daratan baru. Namun, apakah pulau tersebut akan bertahan lama masih menjadi tanda tanya.
"Para ilmuwan kini mengamati dengan saksama apakah peristiwa yang berlangsung perlahan ini benar-benar akan menembus permukaan laut dan meninggalkan daratan baru yang permanen," demikian laporan yang dikutip dari The Daily Galaxy, Rabu (8/7/2026).
Fenomena seperti ini memang pernah terjadi sebelumnya. Salah satu contoh paling terkenal adalah Surtsey di Islandia yang muncul akibat letusan gunung api bawah laut pada 1963 dan masih bertahan hingga kini. Sebaliknya, banyak pulau vulkanik lain hanya bertahan beberapa bulan atau tahun sebelum kembali terkikis ombak.
Menariknya, perkembangan letusan kali ini hampir seluruhnya dipantau dari luar angkasa. Citra satelit memperlihatkan kolom uap yang menjulang beberapa kilometer ke atmosfer, air laut berubah warna akibat campuran abu dan mineral vulkanik, serta hamparan batu apung yang hanyut mengikuti arus laut.
Para ilmuwan menyebut batu apung tersebut terbentuk ketika lava kaya gas mendingin dengan cepat sehingga menghasilkan batu berpori yang cukup ringan untuk mengapung di permukaan laut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Meski peluang lahirnya pulau baru cukup besar, para ahli mengingatkan bahwa ombak dan erosi laut dapat dengan cepat menghancurkan material vulkanik yang masih rapuh. Karena itu, banyak pulau hasil letusan bawah laut menghilang kembali tak lama setelah muncul.
"Para ahli meyakini letusan ini kemungkinan tidak akan berkembang menjadi letusan eksplosif. Namun, mereka masih belum dapat memastikan apakah material vulkanik yang terus menumpuk akan membentuk pulau yang stabil atau justru terkikis oleh gelombang laut," tulis laporan itu lagi.
Selain berpotensi menciptakan daratan baru, letusan ini juga memberi kesempatan langka bagi ilmuwan untuk mempelajari bagaimana sebuah pulau vulkanik terbentuk sejak awal. Selama ini, proses tersebut jarang dapat diamati secara langsung karena sebagian besar gunung api bawah laut berada di lokasi terpencil dan sulit dipantau.
Dengan bantuan satelit, para peneliti kini dapat mengikuti perkembangan letusan hampir secara real time, mulai dari munculnya gempa bawah laut, semburan material vulkanik, hingga kemungkinan lahirnya pulau baru.
Meski hasil akhirnya belum bisa dipastikan, fenomena di Laut Bismarck menunjukkan bahwa permukaan Bumi terus berubah. Bahkan saat ini, jauh di bawah laut, alam masih terus membangun daratan baru sedikit demi sedikit.
Simak Video "Badan Geologi Ingatkan Potensi Bahaya Gunung Tangkubanparahu"
(rns/fay)