Selama lebih dari dua dekade, International Space Station (ISS) menjadi simbol kerja sama internasional dalam eksplorasi antariksa. Namun, jika ISS benar-benar dipensiunkan pada 2030 dan stasiun luar angkasa komersial belum siap beroperasi, dunia bisa memasuki babak baru, stasiun antariksa Tiangong milik China berpotensi menjadi satu-satunya laboratorium berawak permanen di orbit Bumi.
Situasi ini bukan terjadi secara kebetulan. Semuanya berawal lebih dari satu dekade lalu, ketika Amerika Serikat mengesahkan Wolf Amendment pada 2011. Aturan tersebut membatasi kerja sama bilateral antara NASA dan pemerintah China, sehingga praktis menutup peluang China untuk bergabung dalam program ISS.
Akibatnya, China memilih mengembangkan jalannya sendiri. Alih-alih bergabung dengan ISS, Negeri Tirai Bambu membangun program antariksa berawak secara mandiri yang berpuncak pada peluncuran stasiun antariksa Tiangong. Stasiun modular itu mulai beroperasi pada 2021 dan kini menjadi salah satu dari hanya dua stasiun luar angkasa yang dihuni manusia secara permanen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China memang bukan mitra ISS sejak awal, bahkan sebelum Wolf Amendment diberlakukan. Namun, undang-undang tersebut membuat kerja sama langsung antara NASA dan badan antariksa China menjadi jauh lebih sulit secara hukum maupun politik.
"China tidak pernah menjadi mitra ISS, dan keberatan Amerika Serikat terhadap keterlibatan China sudah muncul sebelum 2011. Namun Wolf Amendment memperkeras pemisahan yang sebelumnya memang sudah mulai terbentuk," demikian menurut laporan yang dikutip dari SpaceDaily.
Dengan kata lain, Wolf Amendment bukan satu-satunya alasan lahirnya Tiangong, tetapi menjadi faktor penting yang mempercepat keputusan China membangun stasiun antariksa sendiri. Saat ini, ISS masih jauh lebih besar dibanding Tiangong dan melibatkan lima badan antariksa utama, yakni NASA, Roscosmos, ESA, JAXA, dan Canadian Space Agency.
Sebaliknya, Tiangong dioperasikan oleh China Manned Space Agency (CMSA) dan memiliki ukuran sekitar sepertiga ISS. Namun, garis waktu kedua program mulai bersinggungan. NASA menargetkan ISS pensiun sekitar 2030. Di sisi lain, beberapa perusahaan swasta di Amerika Serikat memang tengah mengembangkan stasiun luar angkasa komersial sebagai penerus ISS, tetapi sebagian besar masih berada dalam tahap pembangunan.
Jika proyek-proyek tersebut mengalami keterlambatan, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun antariksa yang dihuni manusia untuk sementara waktu. Meski begitu, para analis menekankan bahwa skenario ini belum tentu terjadi, melainkan bergantung pada kesiapan stasiun komersial pengganti ISS.
Meski dibangun dan dikelola China, Tiangong tidak sepenuhnya tertutup bagi dunia internasional. Menurut United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA), stasiun ini telah membuka peluang bagi eksperimen ilmiah dari berbagai negara. Hingga kini, penelitian dari lebih dari belasan negara telah dipilih untuk dilakukan di Tiangong, termasuk dari Eropa, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan antariksa kini memasuki babak baru. Jika pada era Perang Dingin kompetisi didominasi Amerika Serikat dan Uni Soviet, kini peta kekuatan mulai bergeser dengan munculnya China sebagai pemain utama.
Apabila ISS benar-benar dipensiunkan sesuai jadwal dan stasiun komersial belum siap mengambil alih, Tiangong bukan hanya akan menjadi laboratorium antariksa terbesar yang masih aktif, tetapi juga simbol perubahan keseimbangan kekuatan dalam eksplorasi luar angkasa.
(rns/rns)