Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gelombang Panas Eropa Pecahkan Rekor, Listrik hingga Transportasi Terdampak

Gelombang Panas Eropa Pecahkan Rekor, Listrik hingga Transportasi Terdampak


Rachmatunnisa - detikInet

People cool off in the Trocadero fountain in front of the Eiffel Tower as temperatures rise in Paris during a heatwave affecting a large part of France, June 23, 2026. REUTERS/Abdul Saboor
Foto: REUTERS/Abdul Saboor
Jakarta -

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kembali memecahkan rekor suhu di sejumlah negara. Fenomena ini bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga melumpuhkan transportasi, membebani rumah sakit, hingga mengganggu pasokan listrik.

Yang paling mengkhawatirkan, para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Mereka menyebut suhu ekstrem seperti ini akan semakin sering muncul jika pemanasan global terus berlanjut.

Sejak mulai melanda pada 20 Juni, suhu di berbagai wilayah Eropa terus meningkat. Jerman, Polandia, Republik Ceko, Denmark, hingga Hungaria mencatat rekor suhu baru dengan temperatur di sejumlah lokasi menembus 40 derajat Celsius. Di Jerman bahkan tercatat suhu lebih dari 41 derajat Celsius, memecahkan rekor nasional yang baru dibuat sehari sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa layanan kereta di Jerman dikurangi karena suhu tinggi dapat memengaruhi rel. Operasional trem di sejumlah kota juga dihentikan sementara. Di Swedia, rel kereta dilaporkan melengkung akibat panas sehingga mengganggu perjalanan.

Sementara di Prancis dan Swiss, beberapa reaktor nuklir harus dikurangi kapasitasnya karena air sungai yang digunakan sebagai pendingin ikut menghangat. Italia juga menghadapi ancaman lain. Air laut mulai masuk ke Sungai Po akibat debit air yang menurun, meningkatkan kadar garam dan mengganggu sektor pertanian.

ADVERTISEMENT

Tak cuma itu, dampak terbesar dirasakan sektor kesehatan. Rumah sakit di berbagai negara melaporkan lonjakan pasien akibat dehidrasi, serangan panas (heat stroke), hingga memburuknya penyakit kronis.

Prancis menjadi negara yang paling terdampak. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) selama gelombang panas, dengan mayoritas korban berusia di atas 65 tahun. Angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah setelah seluruh data terkumpul.

Menurut para ilmuwan, gelombang panas kali ini diperparah oleh fenomena heat dome, yakni area bertekanan tinggi yang bertindak seperti 'tutup' raksasa di atmosfer. Udara panas terperangkap di bawahnya sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari.

Namun, keberadaan heat dome saja tidak cukup menjelaskan tingginya suhu tahun ini. Studi para peneliti menunjukkan perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil membuat gelombang panas seperti ini jauh lebih mungkin terjadi. Bahkan suhu malam yang sangat panas kini sekitar 100 kali lebih mungkin terjadi dibanding sekitar dua dekade lalu. Secara keseluruhan, para ilmuwan menyebut gelombang panas Juni 2026 hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh pemanasan global.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dampak panas ekstrem kini telah berubah menjadi krisis kesehatan.

"Saat ini sekitar 150 juta orang hidup dalam kondisi panas ekstrem. Ratusan orang meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai kewalahan," kata Tedros seperti dikutip dari France 24.

Ia mengingatkan bahwa gelombang panas yang dahulu dianggap sebagai kejadian langka kini semakin sering terjadi.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, gelombang panas yang dulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun. Kita sebenarnya sudah diperingatkan," ujarnya.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan pusat gelombang panas kini bergeser ke Eropa Tengah dan kawasan Balkan. Meski suhu mulai turun di sebagian wilayah Eropa Barat, dampaknya terhadap kesehatan diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

Para ilmuwan menegaskan bahwa Eropa merupakan salah satu kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Karena itu, kejadian seperti ini diperkirakan tidak lagi menjadi fenomena yang terjadi sekali dalam beberapa dekade, melainkan dapat berulang dengan intensitas yang semakin besar jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan.




(rns/rns)






Hide Ads