×
Ad

Bukan Godzilla El Nino, BRIN Wanti-wanti Kemarau Berkepanjangan 2026

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 22 Jun 2026 07:15 WIB
Ilustrasi kekeringan sebagai dampak El Nino. Foto: (Freepik)
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan Indonesia tidak menghadapi ancaman Godzilla El Niño pada 2026. Meski peluang terjadinya El Niño ekstrem sangat kecil, masyarakat dan pemerintah tetap diminta waspada terhadap musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dalam laporan perkembangan El Niño 2026, menjelaskan berdasarkan hasil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan El Niño super kuat atau Godzilla El Niño yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015.

"El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis," jelas Albertus dikutip Senin (22/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengganggu pola pembentukan awan hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, perairan Indonesia yang hangat menjadi pusat pembentukan awan dan hujan. Namun saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan bergeser ke arah Pasifik Tengah sehingga curah hujan di Indonesia berkurang secara signifikan.

Dari prediksi BRIN lanjut Albertus, puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering.

"Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen," jelasnya.

Albertus menegaskan bahwa peluang munculnya Godzilla El Niño tahun ini sangat kecil karena beberapa faktor ilmiah. Salah satunya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase posisi normal (neutral), diprediksi hingga April 2027, seperti gambar di bawah ini.

Sumber: https://www.jamstec.go.jp/aplinfo/sintexf/e/seasonal/outlook.html


Selain itu, Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Niño kuat pada periode 2023-2024, sehingga secara fisik lautan belum memiliki cukup energi untuk kembali membentuk El Niño super ekstrem dalam waktu yang berdekatan.

Meski demikian lanjut Albertus, BRIN menemukan adanya sinyal peningkatan risiko El Niño ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Niño pada periode tersebut diperkirakan meningkat hingga mendekati 40 persen.

"Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah," tegasnya.



Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"


(agt/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork