Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tsunami Raksasa 481 Meter Hantam Alaska, Ilmuwan Cemas

Tsunami Raksasa 481 Meter Hantam Alaska, Ilmuwan Cemas


Fino Yurio Kristo - detikInet

padang es
Sebuah wilayah di Alaska. Foto: (Eric Guth/BBC)
Jakarta -

Sebuah megatsunami di Alaska tahun lalu di sebuah fyord yang sering dikunjungi kapal pesiar, merupakan peringatan keras akan risiko longsoran batu pesisir dan penyusutan gletser terkait krisis iklim. Fyord adalah teluk laut panjang, sempit, dan dalam dengan tebing curam di kedua sisi, terbentuk dari erosi gletser ribuan tahun

Ilmuwan mencatat tsunami tertinggi kedua di dunia menghantam fyord Tracy Arm di Alaska tenggara Agustus 2025, akibat longsoran batu besar di sekitar ujung gletser. Tsunami tersebut mencapai ketinggian 481 meter. Sebagai perbandingan, Menara Eiffel tingginya 330 meter.

Menurut penelitian yang diterbitkan jurnal Science dan dipimpin Dan Shugar, ahli geomorfologi Universitas Calgary, rangkaian peristiwa dimulai pukul 05.26 waktu setempat 10 Agustus 2025. Longsoran besar runtuh sejauh 1 km secara vertikal ke gletser South Sawyer dan meluncur ke dalam fyord sempit sepanjang 48 km tersebut, menghasilkan tsunami raksasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak ada korban jiwa karena kejadian itu berlangsung pagi buta. Area tersebut rata-rata dikunjungi sekitar tiga kapal pesiar yang melintas setiap harinya, beserta kapal-kapal lain yang berlayar beberapa kilometer dari lokasi.

Hanya beberapa jam setelah tanah longsor terjadi, sebuah kapal wisata dan perahu wisata National Geographic dijadwalkan memasuki fyord tersebut. Sehari sebelumnya, dua kapal pesiar yang membawa ribuan penumpang mengunjungi daerah itu, dan satu kapal pesiar lagi dijadwalkan tiba hari berikutnya.

ADVERTISEMENT

"Dengan wilayah fyord yang semakin sering dikunjungi kapal pesiar dan perubahan iklim yang membuat kejadian serupa lebih mungkin terjadi, peristiwa tak terduga yang nyaris memakan korban ini menyoroti meningkatnya risiko tanah longsor dan tsunami di lingkungan pesisir," ungkap peneliti yang dikutip detikINET dari Guardian.

Tsunami ini hanya sedikit lebih kecil dari tsunami tertinggi dunia, yang tercatat di Teluk Lituya, Alaska, tahun 1958 dengan ketinggian 530 meter. Studi tersebut juga menemukan tanah longsor itu menghasilkan gelombang seismik periode panjang yang setara gempa bumi bermagnitudo 5,4.

Kesaksian saksi mata menyoroti dampak tsunami. Sekelompok pemain kayak yang berkemah di Pulau Harbor sekitar 55 km jauhnya, melaporkan air menerjang melewati tenda mereka, dan menyapu salah satu kayak beserta perlengkapan lainnya.

Pengamat lain di atas kapal motor di Teluk No Name, sekitar 50 km dari lokasi longsor, menggambarkan melihat puncak gelombang setinggi 2 hingga 2,5 meter di sepanjang garis pantai dari arah Tracy Arm, yang kemudian diikuti gelombang kedua setinggi sekitar 1 meter.

Tsunami yang dihasilkan tanah longsor dapat jauh lebih tinggi daripada tsunami akibat gempa karena variasi kedalaman air lokal yang lebih besar serta perpindahan kolom air secara langsung akibat runtuhnya lereng. Efek ini sangat terasa di badan air yang terkurung seperti fyord.

"Tanpa penyusutan gletser yang cepat, longsoran tersebut kemungkinan besar takkan menghasilkan gelombang sebesar itu, karena bebatuan akan runtuh sepenuhnya ke atas lapisan es gletser atau mungkin bahkan tidak akan terjadi sama sekali," sebut peneliti, merujuk menyusutnya gletser akibat perubahan iklim.

Beberapa tahun terakhir, fyord dengan gletser yang kian menyusut menjadi tujuan wisata yang semakin populer bagi kapal pesiar. Jumlah penumpang kapal pesiar tahunan di Alaska meningkat dari sekitar 1 juta orang pada tahun 2016 menjadi 1,6 juta orang di 2025.

Peneliti pun menekankan skala maupun potensi bahaya peristiwa semacam itu. Mereka menyerukan langkah-langkah mitigasi risiko lebih kuat, termasuk pemantauan sistematis terhadap lereng-lereng yang tidak stabil.




(fyk/fay)




Hide Ads