Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ngeri! BRIN Temukan Logam Berat Cemari Teluk Jakarta

Ngeri! BRIN Temukan Logam Berat Cemari Teluk Jakarta


Agus Tri Haryanto - detikInet

Sejumlah nelayan melintasi proyek reklamasi di kawasan laut Teluk Jakarta, tepatnya di Cilincing, Jakarta Utara, Senin (20/4/2026). Di tengah hamparan laut yang kini dipenuhi aktivitas pembangunan, perahu-perahu nelayan tampak bergerak perlahan, mencari celah di antara struktur proyek yang kian mendominasi perairan.
Ilustrasi Teluk Jakarta. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan terbaru terkait pencemaran di Teluk Jakarta. Tim peneliti menemukan lima jenis logam berat mencemari sedimen dasar laut di kawasan tersebut, yakni seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd).

Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi logam berat lebih tinggi ditemukan di wilayah pesisir yang berdekatan dengan daratan, kawasan padat penduduk, dan area industri. Kondisi tersebut mengindikasikan kuatnya pengaruh aktivitas manusia terhadap kualitas lingkungan laut di Teluk Jakarta.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN Idha Yulia Ikhsani mengatakan seng (Zn) menjadi salah satu logam pencemar dominan berdasarkan analisis sejumlah indeks lingkungan seperti Enrichment Factor (EF), Geoaccumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Pollution Load Index (PLI).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, kadar Zn, Pb, dan Cu di beberapa lokasi juga disebut telah melampaui ambang batas standar internasional.

ADVERTISEMENT

"Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, terutama bagi organisme dasar perairan (bentik) yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen," kata Idha, dikutip Senin (11/5/2026).

Menurut Idha, Teluk Jakarta saat ini menghadapi tekanan lingkungan cukup serius akibat aktivitas antropogenik atau aktivitas manusia yang terus meningkat di kawasan Jabodetabek.

"Teluk Jakarta merupakan salah satu kawasan pesisir terpenting di Indonesia, baik dari sisi ekonomi, transportasi, perikanan, maupun pemukiman. Namun pesatnya urbanisasi dan industrialisasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah memberikan tekanan besar terhadap kualitas lingkungannya," tuturnya.

Ia menjelaskan sedimen dasar laut berperan sebagai tempat akumulasi polutan yang berasal dari sungai, limbah domestik, aktivitas industri, hingga kawasan pelabuhan dan perkapalan.

Mengingat sifat logam berat yang sulit terurai, sedimen tercemar berpotensi menjadi sumber pencemaran jangka panjang dan sewaktu-waktu dapat melepaskan kembali zat berbahaya ke kolom air laut.

BRIN menyebut pencemaran logam berat di Teluk Jakarta berasal dari berbagai sumber, mulai dari limbah industri, aktivitas pelabuhan dan kapal, limpasan kawasan padat penduduk, hingga residu aktivitas pertanian yang terbawa aliran sungai menuju pesisir.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN lainnya, Lestari, menjelaskan pihaknya juga melakukan penilaian risiko menggunakan metode Risk Assessment Code (RAC) untuk melihat potensi logam berat terserap organisme laut.

Hasilnya, kandungan seng (Zn) di hampir seluruh titik pengamatan memiliki potensi tinggi masuk ke rantai makanan melalui organisme laut. Sementara Cu dan Pb cenderung lebih stabil dalam sedimen, meski tetap berpotensi terserap biota laut.

"Logam berat yang terserap dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, terutama kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya. Jika organisme tersebut dikonsumsi manusia secara terus-menerus, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang," jelasnya.

Sementara itu, periset Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Rachma Puspitasari menemukan adanya potensi risiko non-karsinogenik bagi manusia akibat akumulasi kadmium (Cd) dalam jaringan kerang hijau.

"Karena itu, pencemaran logam berat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut," ungkapnya.

BRIN menilai penanganan pencemaran Teluk Jakarta perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pengendalian limbah industri, peningkatan pengolahan limbah domestik, pengawasan kualitas sungai yang bermuara ke teluk, hingga edukasi masyarakat terkait konsumsi hasil laut dan perlindungan lingkungan pesisir.

Dengan langkah berkelanjutan, kualitas lingkungan Teluk Jakarta diharapkan dapat membaik dan tetap mendukung ekosistem laut yang sehat serta sumber pangan yang aman bagi masyarakat.




(agt/afr)






Hide Ads