×
Ad

Dinosaurus Rampas Umur Panjang Manusia!

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 04 Mei 2026 05:45 WIB
Foto: Caio Fantini via Science Daily
Jakarta -

Mamalia mungkin kesulitan memiliki umur panjang dan hal ini mungkin disebabkan oleh dinosaurus. Menurut Joao Pedro de Magalhaes, ahli mikrobiologi dari University of Birmingham, era dominasi dinosaurus benar-benar mengubah jalur evolusi hampir seluruh mamalia di Bumi.

Evolusi yang tadinya berpotensi mengarah pada umur panjang, beralih fokus menjadi reproduksi yang cepat. Itu karena tidak ada gunanya berusaha hidup lama jika pada akhirnya seekor dinosaurus akan memangsa. Demi mempertahankan kelangsungan hidup spesies, reproduksi yang cepat terbukti jauh lebih bermanfaat.

"Hipotesis saya adalah bahwa tekanan evolusi yang begitu lama pada mamalia purba untuk bereproduksi secara cepat telah menyebabkan hilangnya atau nonaktifnya gen-gen dan jalur yang berkaitan dengan umur panjang," tulis de Magalhães dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 2023 di jurnal BioEssays.

"Saya menyebutnya sebagai hipotesis leher botol umur panjang, yang semakin didukung fakta bahwa mamalia tidak punya sifat-sifat regeneratif," cetusnya dikutip detikINET dari Popular Mechanic, Senin (4/5/2026).

Meskipun manusia bersama gajah dan paus secara teoretis berpotensi hidup lebih lama daripada kebanyakan mamalia, Joao menilai setiap mamalia pada dasarnya masih hidup di bawah batasan genetik yang berasal dari era dinosaurus.

"Berevolusi di masa kekuasaan dinosaurus meninggalkan warisan jangka panjang bagi mamalia. Selama lebih dari 100 juta tahun saat dinosaurus predator dominan, mamalia umumnya berukuran kecil, aktif di malam hari, dan berumur pendek," sebutnya.

Tekanan bertahan hidup ini akhirnya menghilangkan gen-gen yang dibutuhkan untuk hidup lebih lama. Merujuk pada reptil dan hewan lain yang proses penuaan biologisnya jauh lebih lambat dibanding mamalia, ia berhipotesis bahwa selama Era Mesozoikum, mamalia mungkin kehilangan atau menonaktifkan gen yang berkaitan dengan umur panjang.

"Sejumlah mamalia purba terpaksa hidup di posisi bawah rantai makanan dan kemungkinan besar menghabiskan waktu selama 100 juta tahun di era dinosaurus untuk berevolusi agar bisa bertahan hidup melalui reproduksi yang cepat. Periode panjang tekanan evolusi tersebut, menurut pendapat saya, berdampak pada bagaimana manusia mengalami proses penuaan saat ini," paparnya.

Ia meyakini hilangnya enzim-enzim sejak Era Mesozoikum membatasi kemampuan banyak mamalia untuk memulihkan kerusakan pada tubuhnya. Sebagai contoh adalah hilangnya enzim yang dapat memulihkan kulit akibat paparan sinar ultraviolet, serta fakta bahwa gigi mamalia tidak terus tumbuh sepanjang hidupnya layaknya reptil.

Ia mengatakan bahwa dunia hewan menawarkan berbagai contoh perbaikan dan regenerasi sel yang luar biasa. Namun, beberapa informasi genetik semacam itu mungkin dianggap tidak diperlukan oleh mamalia purba, yang sudah cukup beruntung jika tidak berakhir menjadi santapan T-Rex.

Tentu ini semua masih berupa hipotesis, tapi ia merasa gagasan ini memiliki dasar penjelasan yang cukup kuat. "Ada banyak sudut pandang menarik yang bisa dieksplorasi dari gagasan ini, termasuk kemungkinan kanker lebih sering terjadi pada mamalia dibandingkan spesies lain akibat proses penuaan yang cepat tersebut," katanya.



Simak Video "Video: Melihat Fosil Stegosaurus 'Apex' di New York"

(fyk/fay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork