Para ilmuwan mengungkap misteri besar dalam sejarah manusia, populasi manusia di wilayah Eropa pernah 'lenyap' secara drastis sekitar 5.000 tahun lalu. Temuan ini membuka babak baru dalam memahami bagaimana peradaban manusia bisa runtuh dalam waktu relatif singkat.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Ecology & Evolution menemukan adanya perubahan populasi besar-besaran di wilayah sekitar Paris, Prancis. Studi ini berfokus pada sebuah makam megalitik di Bury yang berisi sisa-sisa lebih dari 300 individu.
Dari analisis DNA, para ilmuwan menemukan adanya dua kelompok manusia yang berbeda, dipisahkan oleh jeda waktu sekitar 200 tahun. Kelompok pertama memiliki keragaman genetik tinggi dan berasal dari komunitas petani yang tersebar luas di Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kelompok kedua yang muncul setelahnya justru jauh lebih homogen dan sebagian besar berasal dari wilayah Iberia (Spanyol dan Prancis selatan). Perubahan drastis ini tidak terjadi secara bertahap, melainkan menunjukkan adanya pergantian populasi secara total.
"Temuan ini menunjukkan pergantian populasi pada akhir milenium keempat SM," tulis tim peneliti dalam studi tersebut, seperti dikutip dari Popular Mechanic.
Para ilmuwan menduga bahwa penyebab utama hilangnya populasi awal ini adalah kombinasi dari berbagai faktor, termasuk penyakit, tekanan lingkungan, dan perubahan demografi. Dalam penelitian tersebut, ditemukan jejak patogen kuno seperti wabah pes dan penyakit demam berulang yang ditularkan kutu. Kondisi ini diyakini memicu penurunan populasi secara drastis.
Selain itu, data lingkungan juga mendukung temuan ini. Analisis serbuk sari menunjukkan bahwa hutan kembali tumbuh di wilayah tersebut selama periode kosong, yang menandakan bahwa lahan pertanian ditinggalkan. Fenomena ini mirip dengan dampak yang terjadi setelah pandemi besar dalam sejarah, di mana populasi menurun tajam dan aktivitas manusia berhenti.
Para peneliti juga menemukan bahwa krisis ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi kemungkinan meluas ke seluruh Eropa barat laut. Kekosongan populasi ini kemudian diisi oleh kelompok manusia lain dari wilayah sekitar.
"Penurunan populasi yang luas menciptakan kekosongan yang kemudian diisi oleh kelompok tetangga," tulis para peneliti.
Temuan ini menunjukkan bahwa sejarah manusia tidak selalu berjalan stabil. Bahkan, peradaban besar bisa runtuh akibat kombinasi faktor lingkungan dan biologis. Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa manusia modern pun tidak sepenuhnya kebal terhadap krisis serupa, terutama di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan penyakit menular.
Dengan bantuan teknologi DNA dan analisis arkeologi modern, para ilmuwan kini semakin mampu mengungkap peristiwa besar yang pernah mengubah jalannya sejarah manusia, termasuk momen ketika populasi manusia hampir 'menghilang' dari suatu wilayah.
(rns/rns)