Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Teknologi Gila Artemis II: Streaming 4K & Blackout 6 Menit Mencekam

Teknologi Gila Artemis II: Streaming 4K & Blackout 6 Menit Mencekam


Adi Fida Rahman - detikInet

Misi Artemis II NASA berhasil diluncurkan dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida. (Reuters: Joe Skipper)
Teknologi Gila Artemis II: Streaming 4K & Blackout 6 Menit Mencekam. Foto: Reuters: Joe Skipper
Jakarta -

Ketika kapsul Orion milik NASA menyentuh Samudra Pasifik pada Jumat (10/4/2026) pukul 19.07 waktu setempat atau 07.07 WIB Sabtu (11/4/2026), empat astronaut Artemis II resmi menuntaskan perjalanan sejauh 1,12 juta km. Ini perjalanan manusia terjauh ke bulan dalam lebih dari 53 tahun.

Tapi di balik momen splashdown yang mengharukan itu, ada serangkaian teknologi canggih yang benar-benar diuji untuk pertama kalinya dengan nyawa manusia di dalamnya.

Dalam konferensi pers pasca-splashdown yang digelar di Johnson Space Center, Houston, para petinggi NASA membeberkan detail teknis yang selama ini hanya diketahui kalangan dalam. Berikut empat teknologi paling "gila" yang membuat Artemis II berhasil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT



Streaming Video 4K dari Orbit Bulan Lewat Laser

Bayangkan menonton video 4K yang direkam 406.000 km dari Bumi-dan bisa diunduh hampir real-time. Itulah yang berhasil dilakukan NASA dalam Artemis II menggunakan sistem Optical Communications atau laser communications.

Sistem ini menggantikan gelombang radio konvensional dengan pancaran laser inframerah yang jauh lebih padat kapasitasnya. Hasilnya: bandwidth pengiriman data melonjak drastis, cukup untuk mentransmisikan video resolusi tinggi langsung dari kapsul Orion saat mengorbit bulan.

A view of the Moon and the Earth as the Artemis II mission's Orion spacecraft approaches to reach its furthest distance from Earth, in this screengrab taken from a livestream video on April 6, 2026. NASA/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.Astronaut Artemis II melakukan streaming 4K dari luar angkasa Foto: via REUTERS/NASA

Dr. Lori Glaze, Kepala Program Artemis NASA, menyebutnya sebagai "demonstrasi yang luar biasa" dan mengisyaratkan bahwa teknologi ini akan terus dikembangkan untuk misi-misi berikutnya-bahkan hingga misi ke Mars.

Menariknya, NASA mengungkap bahwa tautan optik ke jarak sejauh Mars sebenarnya sudah pernah diuji sebelumnya. Artinya, fondasi untuk komunikasi laser antar planet sudah mulai diletakkan jauh sebelum Artemis II terbang.

Heat Shield: Perisai Panas yang Menahan 2.800Β°C

Saat Orion menembus atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 39.700 km/jam, permukaan luarnya tersapu plasma bersuhu ribuan derajat Celsius-panas yang cukup untuk melelehkan baja dalam hitungan detik. Satu-satunya yang berdiri di antara empat astronaut dan kematian adalah heat shield buatan Michoud Assembly Facility.

Heat shield Orion menggunakan material Avcoat-sejenis ablator yang sengaja dirancang untuk terbakar secara terkontrol, membuang panas ke luar sambil menjaga suhu di dalam kapsul tetap aman. Proses pembuatannya melibatkan ribuan tukang las dan teknisi yang bekerja selama bertahun-tahun.

Salah satu kekhawatiran utama sebelum misi adalah apakah performa heat shield Artemis II akan konsisten dengan Artemis I-misi tanpa awak yang dilakukan 2022. NASA langsung menurunkan dua pakar heat shield ke kapal USS Martha segera setelah kapsul mendarat untuk melakukan inspeksi di tempat.

Howard Hugh, Manajer Program Orion, menyatakan tim sedang mengumpulkan data dari kamera inframerah udara, penyelam bawah air, dan pemindaian langsung setelah Orion naik ke geladang kapal. Laporan lengkap diperkirakan rampung dalam 30 hari ke depan.

6 Menit Tanpa Sinyal

"Kalau kamu nggak deg-degan saat membawa pesawat luar angkasa ini pulang ke Bumi, mungkin kamu tidak punya denyut nadi." Begitu kata Rick Henfling, Flight Director Artemis II, menggambarkan momen reentry yang paling dinanti sekaligus paling menakutkan dalam seluruh misi.

Selama 6 menit penuh, kapsul Orion benar-benar terputus dari seluruh komunikasi. Tidak ada data. Tidak ada suara astronaut. Tidak ada cara untuk tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana-kecuali menunggu.

Ini terjadi karena saat kapsul menghantam atmosfer dengan kecepatan hipersonik, gesekan udara menghasilkan selubung plasma bersuhu ribuan derajat yang memblokir semua frekuensi radio. Tidak ada gelombang elektromagnetik yang mambus melewatinya-tidak sinyal, tidak data telemetri, tidak komunikasi suara.

Yang membuat insinyur NASA tenang? Blackout ini persis sesuai prediksi model mereka-dimulai tepat waktu, berakhir tepat waktu. Henfling menjelaskan bahwa konsistensi ini justru menjadi konfirmasi bahwa kapsul terbang sesuai jalur yang direncanakan. Saat saluran komunikasi kembali terbuka, tiga parasut utama sudah terkembang sempurna.

Berbeda dengan Space Shuttle yang punya antena di ekor sehingga blackout-nya lebih pendek, Orion menghadapi 6 menit penuh karena geometri kapsulnya yang berbeda. Ini bukan kekurangan-melainkan konsekuensi fisika yang sudah diperhitungkan matang.

Sihir Sistem Parasut Orion

Setelah blackout berakhir, tantangan teknis berikutnya adalah menghentikan kapsul yang melaju hampir 40.000 km/jam menjadi cukup lambat untuk mendarat di laut tanpa menghancurkan semua yang ada di dalamnya-termasuk empat manusia.

Orion menggunakan sistem parasut bertahap yang dirancang dan dikemas oleh teknisi Kennedy Space Center. Prosesnya dimulai dengan dua parasut drogue yang menstabilkan dan memperlambat kapsul dari kecepatan hipersonik, lalu diikuti tiga parasut utama berdiameter besar yang memangkas kecepatan lebih jauh.

Detik-detik Artemis II kembali ke BumiDetik-detik Artemis II kembali ke Bumi Foto: NASA

Howard Hugh mengaku saat momen tiga parasut utama terkembang sempurna, ia hampir histeris-"Saya terus bergumam 'ayok, ayok, ayok' sendirian, dan ada yang merekam video itu." Dari kecepatan 24.664 mph, sistem parasut berhasil memperlambat Orion hingga sekitar 16 mph (26 km/jam) sebelum menyentuh air.

Yang membuat capaian ini makin mengesankan: seluruh sistem, dari pengemasan parasut hingga kalkulasi trajektori reentry, melibatkan ribuan orang di berbagai fasilitas NASA-dan semuanya harus berfungsi sempurna tanpa ada kesempatan untuk mencoba ulang.

Mendarat di Bulan pada 2028

Foto Bumi dan Gerhana dari Balik Bulan oleh Artemis IIFoto Bumi dan Gerhana dari Balik Bulan oleh Artemis II Foto: NASA

Semua teknologi ini bukan tujuan akhir-melainkan fondasi. NASA mengumumkan target ambisius: kirim manusia ke permukaan bulan dalam dua tahun ke depan, bahkan dua kali pada 2028. Untuk itu, mereka sedang bekerja bersama SpaceX (Starship) dan Blue Origin (Blue Moon lander) sebagai wahana pendaratan.

Sebanyak 286 komponen dari Orion Artemis II sudah disiapkan untuk digunakan kembali di Artemis III. Data dari misi ini-termasuk soal kebocoran kecil di sistem pressurization yang sempat terdeteksi-akan langsung dianalisis dan diperbaiki sebelum misi berikutnya.

Amit Kshatriya, Associate Administrator NASA, menutup konferensi pers dengan kalimat yang mengena: "Lima puluh tiga tahun lalu manusia meninggalkan bulan. Kali ini, kita kembali untuk tinggal."




(afr/afr)








Hide Ads