Kita menyaksikan dengan penuh kekaguman saat empat astronaut NASA melakukan perjalanan mengelilingi sisi jauh Bulan sebelum memulai perjalanan pulang yang memakan waktu lima hari. Mereka mengirimkan gambar-gambar spektakuler Planet Bumi, serta permukaan berbatu Bulan.
Foto tersebut menyoroti rapuhnya eksistensi manusia, terutama terkait krisis iklim dan bahaya lain. Namun, pemerintahan Donald Trump dinilai bermusuhan dengan sains. Mereka menyingkirkan ribuan ilmuwan dan secara sistematis membongkar institusi penelitian. Ini dirinci mantan ilmuwan Institut Studi Luar Angkasa Goddard NASA, Kate Marvel, dalam esai di New York Times.
Marvel berpendapat foto itu mengingatkan Bumi telah berubah drastis sejak terakhir kali astronaut pergi ke Bulan di 1972. "Begitu pula dengan NASA. Pemotongan anggaran, kekacauan, dan campur tangan politik kini mengancam inti ilmu pengetahuan yang memotivasi dan memungkinkan eksplorasi luar angkasa," tulisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah laporan tahun 2025 oleh Komite Senat AS menyimpulkan bahwa NASA secara prematur dan ilegal bertindak berdasarkan usulan anggaran tahun 2026 dari Trump yang sangat kontroversial, jauh sebelum Kongres memiliki kesempatan untuk menyetujuinya.
Di Januari, para pembuat undang-undang memutuskan anggaran NASA sebagian besar tidak berubah. Meski demikian, seiring bayang-bayang pemotongan anggaran dan melonjaknya penyangkalan terhadap perubahan iklim, lebih dari 10.000 pakar sains bergelar doktor meninggalkan pekerjaan tahun lalu dalam eksodus cendekiawan lintas lembaga skala nasional.
Nah, Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) Gedung Putih merilis usulan anggaran 2027 untuk NASA, dua hari setelah misi Artemis 2 diluncurkan dari Kennedy Space Center. Usulan ini berusaha memangkas direktorat sains dengan mengusulkan pengurangan anggaran hingga mencapai 47 persen. Usulan tersebut mengejutkan komunitas sains dan para pembuat undang-undang.
Marvel mengatakan telah merasakan sendiri serangan pemerintahan Trump terhadap sains. Dua minggu lalu ia meninggalkan badan tersebut, menulis dalam surat pengunduran dirinya bahwa ia ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Menjelang bulan Maret ini, kekacauan terjadi terus-menerus dan serangan terhadap pekerjaan kami semakin meningkat. Saat itulah saya tahu sudah waktunya untuk pergi," sebutnya.
Marvel juga berpendapat bahwa penelitian lingkungan sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik. "Tugas kami adalah mempelajari hukum fisika, yang akan tetap benar tidak peduli siapa pun yang berkuasa," sebutnya yang dikutip detikINET dari Futurism.
Pemerintahan Trump telah mencoba memerintahkan penghentian misi-misi satelit yang berfokus pada perubahan iklim dan bahkan menghilangkan semua penyebutan perubahan iklim saat merilis laporan tahunan terbarunya mengenai suhu global.
Bagi Marvel, menolak pemahaman lebih dalam tentang Bumi dan iklimnya sama saja dengan menyabotase diri sendiri. "NASA sedang mencekik saluran ilmiah dan mengurangi kemampuan kita untuk melihat dan memahami planet kita. Tanpa sains, gambar-gambar menakjubkan Bumi dari luar angkasa hanya sekadar foto cantik. Kita semua berhak mendapatkan hal yang jauh lebih dari itu," pungkasnya.
(fyk/rns)