Penurunan drastis permukaan air membuka sejarah yang lama tersembunyi. Para arkeolog dibuat terkejut setelah sisa-sisa kota kuno muncul ke permukaan akibat surutnya air di sebuah wilayah yang terdampak kekeringan ekstrem.
Fenomena ini terjadi ketika air di sebuah waduk menyusut. Saat itu terjadi, reruntuhan kota yang sebelumnya tenggelam selama bertahun-tahun muncul. Kota tersebut diperkirakan berasal dari Zaman Perunggu, dengan usia mencapai lebih dari 3.000 tahun.
Temuan ini mencakup berbagai struktur penting, mulai dari bangunan besar hingga sistem tata kota yang masih terlihat jelas. Dinding-dinding bangunan, jalan, hingga sisa-sisa pemukiman menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat kehidupan yang maju pada masanya.
Para arkeolog menyebut kondisi ini sebagai penemuan langka, karena biasanya situs seperti ini sulit diakses akibat tertutup air dan sedimen selama puluhan tahun. Namun di balik penemuan spektakuler ini, tersimpan kekhawatiran besar. Surutnya air yang membuka situs kuno ini terjadi bukan tanpa sebab, melainkan akibat kekeringan berkepanjangan yang melanda wilayah tersebut.
Dikutip dari The Cool Down, fenomena serupa juga terjadi di berbagai tempat lain di dunia. Di Turki, misalnya, turunnya permukaan air di bendungan mengungkap struktur berusia hingga 11.000 tahun yang sebelumnya terkubur di bawah air dan tanah.
Para peneliti menegaskan bahwa meski temuan ini memberi peluang besar untuk mempelajari masa lalu, kondisi yang menyebabkannya justru menjadi peringatan serius. Air yang menyusut bukan hanya membuka situs sejarah, tetapi juga menandakan krisis lingkungan yang semakin nyata, mulai dari perubahan iklim hingga berkurangnya sumber air bagi manusia.
Kini, para arkeolog berpacu dengan waktu untuk mendokumentasikan dan meneliti situs tersebut sebelum air kembali naik atau struktur semakin rusak akibat paparan udara.
Simak Video "Video: Arkeolog Temukan Permukiman Danau Tertua Eropa di Albania"
(rns/rns)