Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mengenal Selat Hormuz yang 'Ajaib' Secara Geologi

Mengenal Selat Hormuz yang 'Ajaib' Secara Geologi


Rachmatunnisa - detikInet

FILE PHOTO: An aerial view of the Iranian shores and the island of Qeshm in the strait of Hormuz, December 10, 2023. REUTERS/Stringer/File Photo
Foto: REUTERS/Nicolas Economou
Jakarta -

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia. Namun di balik perannya yang strategis, kawasan ini menyimpan kisah geologi yang luar biasa. Wilayah ini hasil dari tabrakan dua benua raksasa yang terjadi jutaan tahun lalu.

Dikutip dari National Geographic, Selat Hormuz bukan sekadar perairan sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman, melainkan 'laboratorium alami' yang memperlihatkan proses pembentukan Bumi secara langsung. Sekitar seperempat perdagangan minyak dunia bahkan melewati jalur ini, menjadikannya salah satu titik paling penting di Bumi.

Fenomena unik ini bermula sekitar 35 juta tahun lalu, ketika Lempeng Arab bergerak ke utara dan bertabrakan dengan Lempeng Eurasia. Tabrakan ini tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan berlangsung sangat lama dan masih terus berlangsung hingga sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mark Allen, kepala Departemen Ilmu Bumi di Durham University, Inggris, menjelaskan bahwa proses tersebut sangat kompleks dan berkelanjutan. "Proses tabrakan benua tidak terjadi dalam sekejap," ujar Allen.

Ia menambahkan bahwa gaya besar di dalam Bumi masih terus bekerja bahkan setelah kedua benua 'menyatu'. Akibat tabrakan tersebut, lapisan kerak Bumi terlipat dan menebal, membentuk Pegunungan Zagros di Iran.

ADVERTISEMENT

Pada saat yang sama, tekanan tersebut menciptakan cekungan yang kemudian terisi air dan menjadi Teluk Persia serta Selat Hormuz. Tak hanya itu, kawasan ini juga memiliki struktur geologi langka yang disebut ophiolite, yaitu batuan dari dasar samudra yang terdorong naik ke permukaan.

Mike Searle, profesor ilmu kebumian dari University of Oxford, Inggris, menyebut kawasan ini sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat fenomena tersebut. "Ini adalah salah satu kompleks ophiolite terbesar dan terbaik di dunia," ujar Searle.

Batuan ini biasanya berada jauh di dasar laut, namun di Selat Hormuz bisa terlihat langsung di permukaan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Keunikan geologi ini juga menghasilkan bentang alam dramatis, mulai dari tebing batu curam, lembah yang terendam air laut, hingga pulau-pulau dengan warna tanah yang mencolok.

Selain itu, wilayah ini juga dikenal dengan kubah garam (salt domes), yaitu lapisan garam purba yang terdorong ke atas akibat tekanan tektonik. Dalam beberapa kasus, garam tersebut bahkan mengalir seperti gletser batu di lereng pegunungan.

Menariknya, proses geologi yang sama juga menjadi alasan mengapa kawasan ini kaya akan minyak dan gas. Selama ratusan juta tahun sebelum tabrakan benua, wilayah ini berada di bawah laut dangkal yang memungkinkan terbentuknya cadangan hidrokarbon dalam jumlah besar.

Ketika lempeng bertabrakan, cadangan tersebut terperangkap di bawah lapisan batuan, menciptakan sumber energi yang kini menjadi tulang punggung ekonomi global. Namun, kondisi geologi ini juga membuat Selat Hormuz menjadi wilayah yang rentan. Pergerakan lempeng yang masih aktif dapat memicu gempa dan perubahan lanskap di masa depan.

Di sisi lain, bentuknya yang sempit menjadikannya 'chokepoint' penting, yakni jalur sempit yang jika terganggu bisa berdampak besar pada ekonomi dunia. Selat Hormuz pada akhirnya bukan hanya soal geopolitik atau perdagangan energi. Ia adalah hasil dari kekuatan alam yang bekerja selama puluhan juta tahun, menghubungkan sejarah Bumi dengan kehidupan modern manusia.




(rns/rns)




Hide Ads
LIVE