Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Suhu Bumi Naik, Pakar Ingatkan Risiko Banjir hingga Angin Kencang

Suhu Bumi Naik, Pakar Ingatkan Risiko Banjir hingga Angin Kencang


Agus Tri Haryanto - detikInet

Jakarta terpantau mendung hingga hujan deras pada hari Selasa (27/1/2026) pagi. BPBD DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di wilayah Jakarta periode 26 Januari hingga 1 Februari 2026.
Suhu Bumi Naik, Pakar Ingatkan Risiko Banjir hingga Angin Kencang Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Laju pemanasan global dalam satu dekade terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dalam 10 tahun terakhir, kecepatan pemanasan global tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan periode 1970-an. Saat ini, suhu Bumi diketahui telah meningkat sekitar 0,35 derajat Celcius dan berdampak pada meningkatnya intensitas cuaca ekstrem.

Pakar klimatologi dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, menjelaskan bahwa kenaikan suhu Bumi memicu berbagai perubahan lingkungan, salah satunya mencairnya es di wilayah Kutub Utara. Kondisi tersebut menyebabkan volume air laut meningkat sehingga berpotensi menurunkan ketinggian wilayah dataran rendah.

Selain itu, peningkatan suhu global juga mendorong meningkatnya potensi bencana alam. Suhu yang semakin tinggi menyebabkan tingkat penguapan meningkat sehingga peluang terjadinya hujan juga semakin besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya," jelas Emilya sebagaimana dikutip dari website UGM, Kamis (2/4/2026).

Menurut Emilya, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui berbagai upaya mitigasi agar kenaikan suhu Bumi tidak terus berlanjut. Pasalnya, peningkatan suhu juga dapat memicu kekeringan serta meningkatkan potensi angin kencang yang berisiko menimbulkan kerusakan.

Ia menjelaskan bahwa angin kencang dapat menyebabkan berbagai dampak seperti pohon tumbang hingga kerusakan pada atap rumah. Di sisi lain, peningkatan suhu yang memicu kemarau lebih cepat dan lebih kering juga berpotensi mengganggu sektor pangan.

"Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga," jelasnya.

Emilya menuturkan bahwa pemanasan global menjadi faktor utama meningkatnya suhu Bumi. Berbagai aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, menyebabkan peningkatan gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.

Kondisi tersebut membuat radiasi matahari yang sampai ke Bumi lebih banyak diserap dibandingkan dipantulkan kembali ke atmosfer.

"Nah suhu yang makin panas itu kemudian juga menimbulkan dampak kenaikan suhu terhadap permukaan bumi," katanya.

Ia menjelaskan bahwa suhu yang semakin panas akan meningkatkan proses evaporasi dan transpirasi. Ketika jumlah uap air di lapisan troposfer meningkat, maka proses pembentukan awan juga menjadi lebih besar.

Jika jumlah awan meningkat, maka potensi terjadinya hujan juga akan semakin tinggi. Intensitas hujan yang tinggi ini dapat menyebabkan genangan air di sejumlah wilayah.

Namun pada musim kemarau, kondisi tersebut berbeda. Pada periode ini, monsoon Australia membawa uap air dari wilayah selatan ke utara menuju kawasan dengan tekanan udara lebih tinggi di Asia, sehingga uap air tersebut hanya melintas di wilayah Indonesia.

"Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau itu menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau," ungkap Emilya.

Menghadapi potensi kemarau yang lebih panjang, Emilya mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi, salah satunya melalui regulatory harvesting atau menangkap air hujan dari atap rumah.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk memperbanyak upaya penyimpanan air dalam berbagai bentuk serta menggunakan air secara bijak sesuai kebutuhan.

"Jadi air digunakan sesuai dengan fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan," pungkasnya.




(agt/afr)








Hide Ads
LIVE