×
Ad

Kolom Telematika

Skenario Operasi Pembukaan Selat Hormuz dalam Simulasi Komputer

Dr. Budi Sulistyo, Dr. Dimitri Mahayana, Ir. Agus Nggermanto - detikInet
Selasa, 31 Mar 2026 15:16 WIB
Selat Hormuz (Foto: Getty Images/Eva Sanabria)
Jakarta -

Selat Hormuz adalah jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas setiap hari. Sejak 28 Februari 2026 (hari pertama serangan udara AS-Israel ke Iran), selat ini berubah menjadi arena konfrontasi militer langsung. Tiga puluh hari berlalu sekarang, dan pertanyaan mendasar masih belum terjawab: Dari semua pilihan operasi tersedia di meja Washington, mana paling mungkin membuka selat itu kembali, dan mana yang paling berisiko berakhir kekalahan diplomatik?

Dalam praktik analisis modern, pertanyaan seperti ini bisa didekati dengan simulasi information communication technology (ICT). Secara teknis, ini dikerjakan menggunakan berbagai perangkat lunak, mulai spreadsheet sederhana seperti Microsoft Excel hingga bahasa pemrograman kompleks seperti MATLAB atau Python. Perbedaannya bukan lagi pada konsep, melainkan pada skala, bahwa semakin kompleks sistem yang ingin disimulasikan, maka semakin dibutuhkan efisiensi komputasi yang biasanya hanya bisa dicapai dengan pendekatan pemrograman.

Artikel ini menggunakan pendekatan tersebut dengan menggabungkan dua kerangka utama: Model sistem dinamis dan simulasi stokastik berbasis Monte Carlo. Sistem dinamis digunakan untuk memodelkan bagaimana variabel-variabel kunci berubah dari waktu ke waktu dan saling mempengaruhi. Sementara pendekatan stokastik memungkinkan model menangkap unsur ketidakpastian yang melekat dalam konflik nyata, dengan merepresentasikan berbagai kemungkinan kejadian yang tidak sepenuhnya diprediksi.

Di atas kerangka tersebut, simulasi Monte Carlo dijalankan dengan mengulang proses ribuan kali, sehingga menghasilkan spektrum kemungkinan hasil, bukan satu angka tunggal. Secara sederhana, model ini bekerja seperti 'mesin skenario' yang dijalankan berulang kali oleh komputer. Atau sistem ini melacak perubahan tiga variabel kunci setiap minggu lalu mensimulasikan berbagai jalur perkembangan konflik.

Dalam studi ini, sebanyak 10.000 simulasi dijalankan per skenario. Hasilnya bukan satu prediksi pasti, melainkan distribusi kemungkinan yakni memberikan gambaran tentang hasil mana paling mungkin terjadi dan mana berisiko tinggi. Tiga variabel yang berevolusi setiap minggu itu adalah kapabilitas militer AS dan Israel (stok amunisi presisi, interseptor rudal, kemampuan operasional pangkalan); kapabilitas Iran mempertahankan ancaman di Hormuz (peluncur rudal aktif, armada kapal cepat serang, ranjau, kemampuan koordinasi komando); dan kondisi politik domestik AS (dukungan publik, kapasitas Kongres mendanai operasi). Ketiganya saling mempengaruhi, dan hasil konflik -apakah Hormuz terbuka, terjadi gencatan senjata, atau AS menarik diri?- muncul dari dinamika interaksi di antara ketiga variabel tersebut.

Pun demikian, seluruh angka dan distribusi probabilitas yang tersaji dalam tulisan ini adalah hasil prediksi simulasi, bukan fakta lapangan/intelijen/ ramalan. Ia dihasilkan model komputasi berbasis akal imitasi (AI) yang dibangun di atas asumsi-asumsi yang dapat diperdebatkan dan parameter yang tidak sepenuhnya terverifikasi. Analisis ini sendiri ditulis pada hari ke-29 konflik, ketika dua perkembangan baru mengubah lanskap secara signifikan. Pada 28 Maret, kelompok Houthi di Yaman sekutu Iran menembakkan rudal balistik ke Israel. Keesokan harinya, Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ultimatum seluruh universitas Amerika di kawasan Asia Barat dinyatakan target sah balasan atas serangan yang mengenai dua universitas di Iran. Jadi, universitas seperti Texas A&M di Qatar dan NYU di Abu Dhabi masuk dalam daftar sasaran potensial.

Serangan terhadap kampus akan menarik negara-negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab langsung ke pusaran konflik. Sementara itu, pada hari yang sama, Iran justru menyetujui 20 kapal berbendera Pakistan melintas Hormuz, sementara Pakistan bersama Turki, Mesir, dan Arab Saudi menggelar pertemuan darurat di Islamabad untuk mendorong de-eskalasi. Dua sinyal yang saling berlawanan ini (eskalasi ancaman dan gestur diplomatic) menjadi latar penting untuk membaca hasil-hasil simulasi berikut.



Simak Video "Video: Warga 'Panic Buying' BBM, Antrean SPBU di Purwakarta Picu Kemacetan"


(fay/fyk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork