Penemuan fosil kera purba berusia sekitar 18 juta tahun di Afrika memicu perhatian besar ilmuwan. Pasalnya, fosil ini ditemukan di lokasi yang tak terduga dan berpotensi mengubah teori tentang asal-usul manusia.
Fosil tersebut ditemukan di wilayah Wadi Moghra, Mesir utara, bukan di Afrika Timur yang selama ini dianggap sebagai pusat evolusi kera modern. Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa nenek moyang kera modern, termasuk manusia, berasal dari Afrika Timur. Namun penemuan baru ini justru menunjukkan kemungkinan lain.
Baca juga: Kenapa Ada Banyak Minyak di Timur Tengah? |
Shorouq Al-Ashqar, paleontolog sekaligus penulis utama studi, mengaku temuan ini cukup mengejutkan. "Menemukan fosil kera di wilayah ini sangat signifikan dan agak mengejutkan," ujar Shorouq Al-Ashqar, paleontolog dan penulis utama studi ini, dikutip dari Live Science, Senin (30/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fosil tersebut terdiri dari fragmen rahang dan gigi yang telah aus, namun cukup untuk mengidentifikasi spesies baru. Para peneliti menamai spesies ini Masripithecus moghraensis, yang hidup sekitar 17-18 juta tahun lalu.
Analisis menunjukkan bahwa Masripithecus moghraensis berada sangat dekat dengan garis evolusi yang mengarah ke semua kera modern, termasuk manusia. Artinya, makhluk ini kemungkinan merupakan kerabat dekat dari nenek moyang terakhir kera modern.
Peta yang menunjukkan penyebaran kera, termasuk Masripithecus moghraensis, pada zaman Miosen. Foto: Mauricio AntΓ³n via Live Science |
Bisa Ubah Peta Evolusi Manusia
Penemuan ini menantang teori lama yang menempatkan Afrika Timur sebagai pusat evolusi kera. Erik Seiffert, ahli biologi evolusi dari University of Southern California dan salah satu penulis studi, menyebut kemungkinan baru terkait asal-usul kera.
"Kemungkinan terbesar adalah (nenek moyang itu hidup) di bagian utara wilayah Afro-Arabia," ujar Seiffert.
Dengan kata lain, asal-usul kera modern bisa jadi berada di Afrika utara atau wilayah sekitarnya. Meski menarik, tidak semua ilmuwan sepakat dengan kesimpulan tersebut. Beberapa ahli menilai bukti yang ada masih terbatas.
Sergio AlmΓ©cija, antropolog biologis dari Institut Paleontologi Miquel Crusafont, menekankan pentingnya temuan ini, tetapi tetap berhati-hati. "Setiap penemuan fosil kera baru sangat berharga karena kelangkaannya," kata AlmΓ©cija.
Namun ia juga menyebut bahwa diperlukan fosil yang lebih lengkap sebelum teori besar tentang asal-usul kera diubah. Salah satu alasan perdebatan ini terjadi adalah karena fosil kera purba sangat jarang ditemukan. Banyak bagian penting sejarah evolusi masih belum terungkap.
Penemuan di Mesir ini menunjukkan bahwa masih banyak wilayah yang belum dieksplorasi dan bisa menyimpan bukti penting tentang asal-usul manusia. Jika temuan ini terbukti melalui penelitian lanjutan, maka peta evolusi manusia bisa berubah signifikan. Alih-alih hanya berfokus di Afrika Timur, ilmuwan mungkin harus melihat wilayah Afrika utara dan sekitarnya sebagai kunci memahami asal-usul manusia dan kera modern.
(rns/fay)
