Proyek pencarian sinyal kecerdasan dari luar Bumi yang dikenal sebagai SETI@home kini memasuki tahap terakhir setelah puluhan tahun mengumpulkan data radio dari luar angkasa. Dari milyaran deteksi sinyal yang terakumulasi, para ilmuwan berhasil menyaringnya menjadi 100 sinyal radio misterius.
Seratus sinyal yang telah dipilah ini, dianggap paling layak untuk ditindaklanjuti karena tak bisa dijelaskan oleh interferensi dari Bumi. Untuk diketahui, SETI@home diluncurkan pada 1999 oleh para peneliti di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, sebagai inisiatif ilmiah yang memanfaatkan jaringan komputer sukarela di seluruh dunia.
Jaringan ini memproses data radio yang terekam oleh observatorium antena radio besar seperti Arecibo. Hingga penghentian proyek pada 2020, perangkat lunak SETI@home telah menganalisis sekitar 12 miliar sinyal narrowband yang kemudian disaring melalui berbagai algoritma kompleks menjadi ratusan kandidat yang paling menarik.
"Sampai sekitar 2016, kami benar-benar tidak tahu apa yang akan kami lakukan dengan deteksi yang telah kami kumpulkan. Kami belum menemukan cara untuk melakukan seluruh analisis tahap kedua," ujar David Anderson, ilmuwan komputer di UC Berkeley dan salah satu pendiri SETI@home, dikutip dari The Daily Galaxy, Senin (9/2/2026).
Proses pemilahan sinyal melibatkan penyaringan interferensi dari sumber di Bumi seperti satelit, radar, gelombang radio komunikasi, serta derau (noise) lain yang bisa meniru sinyal luar angkasa. Tim kemudian mengembangkan algoritma baru untuk menandai sinyal yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan terestrial, menjadikannya layak untuk observasi lanjutan menggunakan teleskop radio yang lebih sensitif.
Meski para peneliti telah mempersempit daftar menjadi 100 sinyal yang paling menarik, mereka tetap berhati-hati. Astronom UC Berkeley, Eric Korpela, mengatakan bahwa keterbatasan sumber daya manusia dalam menelaah setiap sinyal secara mendalam masih menjadi kendala.
"Tidak mungkin untuk melakukan investigasi penuh terhadap setiap sinyal yang kita deteksi, karena itu masih membutuhkan manusia dan pengamatan secara langsung," kata Korpela.
Anderson juga mencatat bahwa kendati mereka tidak menemukan kontak langsung, proyek ini telah menetapkan tingkat sensitivitas baru dalam pencarian sinyal sempit di langit besar.
"Jika kita tidak menemukan ET, yang dapat kita katakan adalah bahwa kita telah menetapkan tingkat sensitivitas baru. Jika ada sinyal di atas kekuatan tertentu, kita akan menemukannya," ujarnya.
Penyaringan hingga hanya menyisakan 100 sinyal memberi para astronom fokus untuk melakukan observasi ulang dan penelitian intensif, termasuk kemungkinan pemanfaatan teleskop seperti FAST di China untuk memverifikasi apakah sinyal-sinyal misterius tersebut merupakan tanda nyata dari kecerdasan ekstraterestrial atau sekadar fenomena alam yang belum dipahami.
Simak Video "Video: China Hubungi NASA, Tanda Dua Negara Mulai Akur?"
(rns/fay)