×
Ad

Cara China Bangun Pulau Buatan Raksasa dan Dampaknya

Adi Fida Rahman - detikInet
Senin, 26 Jan 2026 10:15 WIB
Ilustrasi. Foto: AI Generated via Times of India
Jakarta -

Membangun daratan di tengah samudra luas dalam waktu singkat terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, China telah mengubah kemustahilan itu menjadi kenyataan di Laut China Selatan.

Dalam satu dekade terakhir, Negeri Tirai Bambu ini telah menyulap terumbu karang yang terendam menjadi pulau-pulau buatan raksasa dengan kecepatan yang mencengangkan. Di balik kecanggihan rekayasanya, ada cara 'gila' yang dilakukan dan dampak lingkungan yang sangat masif di bawah permukaan laut.

Armada "Penyedot" Samudra

Dilansir dari laman Times of India, rahasia utama China terletak pada teknologi pengerukan (dredging) yang sangat agresif. Mereka mengerahkan kapal keruk suction cutter tercanggih, seperti Tian Kun Hao, yang mampu memotong dasar laut sekeras batu dan menyedotnya ke permukaan.

Kapal-kapal ini bekerja seperti vakum raksasa. Pasir, fragmen koral, dan sedimen dari dasar laut disedot, lalu disemprotkan melalui pipa-pipa raksasa menuju area terumbu karang dangkal. Dengan volume material yang mencapai jutaan meter kubik, China berhasil memunculkan daratan baru yang cukup luas untuk membangun landasan pacu pesawat hanya dalam hitungan bulan.

Dampak Mengerikan di Balik Beton

Meskipun secara teknis ini adalah prestasi luar biasa, dampak ekologis yang ditimbulkan sangatlah besar dan mengkhawatirkan. Proses penyemprotan pasir secara masif menciptakan awan sedimen tebal di dalam air.

Para ilmuwan laut menjelaskan bahwa sedimen ini berfungsi seperti "kabut asap" bagi penghuni laut. Ia menghalangi cahaya matahari yang sangat dibutuhkan oleh padang lamun dan terumbu karang untuk berfotosintesis. Tak hanya itu, ketika sedimen mengendap, ia akan menimbun dan "mencekik" karang yang masih hidup, memutus aliran oksigen, dan membunuh organisme yang telah tumbuh selama ribuan tahun.

Kerusakan yang Tak Bisa Diperbaiki

Banyak ahli biologi laut memperingatkan bahwa kerusakan ini bersifat permanen. Terumbu karang adalah struktur hidup yang tumbuh sangat lambat-hanya beberapa sentimeter per tahun. Ketika sebuah ekosistem karang dikubur di bawah jutaan ton pasir dan beton, peluangnya untuk pulih kembali hampir nol dalam skala waktu manusia.

Selain menghancurkan rumah bagi ribuan spesies ikan, pulau-pulau buatan ini juga mengubah pola arus laut alami. Perubahan arus ini mengganggu distribusi larva ikan dan nutrisi di seluruh kawasan, yang pada akhirnya mengancam ketahanan pangan bagi jutaan orang di negara-negara sekitar yang bergantung pada hasil laut.

Fakta di Bawah Permukaan

Dari atas, pulau-pulau ini terlihat seperti keajaiban teknik sipil yang modern dan strategis. Namun, di bawah garis air, realitasnya jauh lebih kelam. Pembangunan pulau buatan di perairan sensitif membawa biaya lingkungan yang jauh melampaui apa yang terlihat di permukaan.

Informasi ini didasarkan pada riset dari Earth Island Institute, yang terus memantau perubahan drastis di kawasan tersebut. Apa yang dibangun China dalam sedekade mungkin bertahan selamanya sebagai daratan, namun apa yang dihancurkannya di bawah laut mungkin tidak akan pernah kembali.



Simak Video "Video: China Anggap Starlink Ancaman, Labrak Satelit Elon Musk di PBB!"

(afr/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork