Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Studi: Apple Watch Ungguli Medis Standar Deteksi Masalah Jantung Lansia

Studi: Apple Watch Ungguli Medis Standar Deteksi Masalah Jantung Lansia


Adi Fida Rahman - detikInet

Apple Watch
Studi: Apple Watch mengungguli medis standar dalam deteksi masalah jantung lansia (Foto: via Medpagetoday)
Jakarta -

Sebuah uji klinis acak terbaru menunjukkan smartwatch mampu mengungguli perawatan kardiologi standar dalam mendeteksi atrial fibrillation (AF atau Afib), khususnya pada kelompok lansia dengan risiko stroke tinggi. Temuan ini berasal dari EQUAL trial, studi yang dilakukan di Belanda dan dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology.

Dalam studi tersebut, skrining menggunakan Apple Watch berhasil mendeteksi Afib baru pada 9,6% peserta dalam waktu 180 hari. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perawatan spesialis jantung standar yang hanya menemukan Afib pada 2,3% pasien. Secara statistik, penggunaan smartwatch meningkatkan peluang deteksi Afib lebih dari empat kali lipat (hazard ratio 4,40; 95% CI 1,66-11,66).

Peneliti menghitung bahwa jumlah orang yang perlu disaring (number needed to screen) hanya 14 untuk menemukan satu kasus Afib baru. Laju deteksi mencapai sekitar 1,6 diagnosis Afib per 100 pasien-bulan pada kelompok berisiko tinggi. Menariknya, sekitar 43% episode Afib yang terdeteksi melalui Apple Watch bersifat tanpa gejala, sehingga kemungkinan besar tidak akan terdeteksi melalui pemeriksaan rutin berbasis keluhan pasien.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejauh pengetahuan kami, ini adalah uji klinis acak pertama yang mengevaluasi skrining Afib berbasis smartwatch pada populasi dengan risiko stroke tinggi," tulis tim peneliti yang dipimpin Michiel Winter, MD, PhD, dari Amsterdam University Medical Center.

ADVERTISEMENT

Mereka juga menegaskan bahwa studi ini menjadi bukti pertama bahwa kombinasi pemantauan photoplethysmography (PPG) dan electrocardiography (ECG) pada smartwatch dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam sistem telemonitoring 24 jam dalam praktik klinis rutin.

Meski deteksi Afib meningkat signifikan, studi ini belum dirancang untuk menilai dampak klinis jangka panjang dari diagnosis yang lebih dini tersebut. Semua pasien yang terdiagnosis Afib memang langsung mendapatkan terapi antikoagulan, namun pada evaluasi enam bulan, angka kunjungan ke unit gawat darurat maupun kejadian kardiovaskular mayor tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok Apple Watch dan kelompok kontrol.

Peneliti mencatat bahwa manfaat klinis dari pengobatan Afib yang terdeteksi melalui skrining wearable masih perlu dikonfirmasi lewat uji lanjutan, seperti studi REGAL dan SAFER yang saat ini sedang berlangsung. Meski demikian, mereka menilai hasil EQUAL trial menempatkan skrining berbasis smartwatch sebagai jembatan praktis antara deteksi digital populasi luas dan terapi medis berbasis bukti.

Sebelumnya, studi STROKE STOP di Swedia juga menunjukkan manfaat bersih yang kecil dari skrining Afib menggunakan smartwatch dan perangkat wearable lain pada populasi lansia umum. Namun, efektivitas teknologi ini pada kelompok berisiko tinggi belum pernah diuji secara komprehensif di dunia nyata hingga EQUAL trial dilakukan.

Apple WatchApple Watch Lebih Unggul Deteksi Aritmia Jantung pada Lansia Berisiko Stroke Foto: via Medpagetoday

"Perangkat wearable yang menggabungkan pemantauan denyut nadi dan aktivitas listrik jantung melalui PPG dan ECG sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Namun, efektivitasnya untuk skrining Afib pada pasien berisiko tinggi belum pernah dievaluasi secara nyata," ujar Nicole van Steijn, kandidat doktor di Amsterdam University Medical Center sekaligus salah satu penulis studi.

Menurut Winter, penggunaan smartwatch membantu dokter mempercepat proses diagnosis pada pasien yang sebelumnya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung. Dibandingkan alat lain seperti implantable loop recorder atau patch ECG, smartwatch menawarkan kompromi yang lebih nyaman antara kenyamanan penggunaan dan pemantauan jangka panjang.

EQUAL trial dilakukan di dua pusat layanan kesehatan di Belanda antara November 2022 hingga Desember 2023. Studi ini melibatkan pasien rawat jalan berusia 65 tahun ke atas dengan risiko stroke tinggi. Dari hampir 2.000 pasien yang disaring, sebanyak 437 orang memenuhi kriteria risiko CHA2DS2-VASc yang memungkinkan terapi antikoagulan bila Afib terdeteksi. Peserta kemudian diacak ke dalam dua kelompok: pemantauan Apple Watch selama enam bulan atau perawatan standar.

Rata-rata usia peserta adalah 75 tahun, dengan 46,7% perempuan dan skor CHA2DS2-VASc median sebesar 3,0. Kelompok intervensi diminta mengenakan Apple Watch setidaknya 12 jam per hari saat terjaga dan merekam ECG satu sadapan selama 30 detik jika muncul gejala atau notifikasi irama tidak teratur. Semua rekaman ECG dinilai oleh tim telemonitoring independen dalam waktu maksimal 24 jam.

Sebaliknya, kelompok kontrol menjalani perawatan sesuai kebijakan dokter spesialis jantung masing-masing, yang dapat mencakup ECG 12 sadapan, Holter, telemetri rumah sakit, atau perangkat ECG genggam. Selama masa tindak lanjut, sekitar seperempat peserta di kedua kelompok juga menjalani pemantauan irama jantung tambahan.

Algoritma Apple Watch tercatat memiliki nilai prediksi positif sekitar 54%. Dari 37 peserta yang terdeteksi berpotensi Afib oleh smartwatch, 20 di antaranya akhirnya terkonfirmasi secara klinis. Peneliti menilai angka ini sebanding dengan sistem interpretasi otomatis ECG di praktik klinis, di mana kesalahan diagnosis juga masih kerap terjadi tanpa verifikasi dokter.

Meski demikian, peneliti mengakui adanya keterbatasan, termasuk desain studi terbuka tanpa perangkat tiruan (sham device) serta jumlah kejadian Afib yang relatif terbatas. Kendati begitu, EQUAL trial memperkuat bukti bahwa smartwatch bukan sekadar aksesori teknologi, melainkan alat potensial untuk meningkatkan deteksi dini gangguan irama jantung pada kelompok berisiko tinggi.




(afr/fay)






Hide Ads