Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Temuan Fosil 'Little Foot' Bisa Tulis Ulang Sejarah Evolusi Manusia

Temuan Fosil 'Little Foot' Bisa Tulis Ulang Sejarah Evolusi Manusia


Rachmatunnisa - detikInet

Hominin Little Foot
Foto: La Trobe University/University of Cambridge
Jakarta -

Temuan fosil hominin yang disebut sebagai 'Little Foot' mungkin saja akan menulis ulang sejarah evolusi manusia. Temuan ini mengusik hipotesis panjang bahwa kerangka purba tersebut termasuk dalam spesies yang sudah dikenal. Sebaliknya, studi terbaru menunjukkan kemungkinan Little Foot berasal dari spesies manusia purba yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.

Mengenal Little Foot

Little Foot secara resmi dikenal sebagai StW 573. Ia adalah salah satu fosil hominin paling lengkap yang pernah ditemukan. Kerangka yang ditemukan di Sterkfontein Caves, Afrika Selatan ini diperkirakan berusia antara 2 hingga 3 juta tahun dan selama puluhan tahun membuat para ilmuwan terpukau karena kelengkapannya.

Selama bertahun-tahun, Little Foot dianggap sebagai anggota genus Australopithecus, sebuah kelompok hominin yang berjalan tegak namun memiliki otak kecil. Namun studi terbaru yang dipimpin oleh para peneliti dari La Trobe University (Australia) dan University of Cambridge (Inggris) menunjukkan bahwa fosil ini tidak cocok dimasukkan ke dalam spesies Australopithecus prometheus maupun Australopithecus africanus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dugaan Spesies yang Berbeda

Dalam studi terkini, tim ilmuwan memeriksa beragam karakter anatomi fosil Little Foot, termasuk bentuk tengkorak, struktur wajah, susunan gigi, proporsi anggota badan, dan anatomi panggul, untuk melihat apakah fosil tersebut benar-benar sesuai dengan spesies yang sudah ada. Hasilnya ternyata mengejutkan.

"Fosil ini tetap menjadi salah satu penemuan paling penting dalam catatan hominin dan identitas sebenarnya adalah kunci untuk memahami masa lalu evolusi kita," kata Dr. Jesse Martin, paleoantropolog dari La Trobe University dan salah satu penulis studi tersebut, dikutip dari Earth.com.

ADVERTISEMENT

"Kami berpikir, kasus ini jelas bukan merupakan A. prometheus atau A. africanus. Ini lebih mungkin merupakan kerabat manusia yang sebelumnya tidak dikenal," tambahnya.

Dengan kata lain, alih-alih cocok ke dua spesies yang selama ini diajukan, Little Foot justru menunjukkan kombinasi karakteristik yang tidak sejalan dengan kedua spesies tersebut, sehingga membuka kemungkinan bahwa ini adalah spesies hominin baru yang sama sekali berbeda.

Para peneliti berpendapat, temuan ini bukan sekadar soal pemberian nama baru. Identifikasi spesies hominin adalah salah satu pilar dalam memahami bagaimana cabang evolusi manusia berkembang dan bercabang dari leluhur primitifnya.

Jika Little Foot benar tergolong spesies yang berbeda, maka Sterkfontein Cave mungkin menjadi rumah bagi lebih dari satu jenis hominin yang hidup berdampingan. Hal ini menambah kompleksitas gambaran evolusi, yang bukan lagi linier, melainkan lebih seperti 'pohon bercabang' dengan banyak percabangan yang saling tumpang tindih.

Lebih jauh, klasifikasi yang tepat terhadap Little Foot akan membantu ilmuwan memperbaiki pemahaman aspek-aspek penting untuk memahami ciri yang membedakan kita dari kerabat evolusi yang lain, meliputi cara berjalan, perkembangan otak, bahkan pola diet dari leluhur manusia purba ini,

Tim peneliti kini tengah bekerja untuk menentukan di mana Little Foot berada di pohon evolusi manusia, sebuah proses yang memerlukan analisis anatomi yang lebih dalam dan pembandingan dengan fosil lainnya. Upaya ini termasuk penggunaan teknologi modern seperti pemetaan 3D dan analisis morfometrik untuk menggali detail struktural yang lebih tajam.

Studi ini dipublikasikan dalam American Journal of Biological Anthropology dan dipandang sebagai salah satu penemuan penting yang dapat mengubah cara kita memahami sejarah awal hominin di Afrika.




(rns/rns)







Hide Ads
LIVE