Erupsi Semeru Tepat Setahun di Tanggal yang Sama, Pertanda Apa?

Erupsi Semeru Tepat Setahun di Tanggal yang Sama, Pertanda Apa?

ADVERTISEMENT

Erupsi Semeru Tepat Setahun di Tanggal yang Sama, Pertanda Apa?

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 05 Des 2022 19:44 WIB
Gunung Semeru mengeluarkan material vulkanis yang terpantau dari Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Senin (5/12/2022). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di radius 15 Km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/nym.
Erupsi Merapi Tepat Setahun di Tanggal yang Sama, Pertanda Apa? Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq
Jakarta -

Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kembali erupsi. Seismograf merekam adanya getaran awan panas guguran. Menariknya, erupsi kali ini bertepatan dengan satu tahun peringatan erupsi Semeru pada 4 Desember 2021 lalu.

Kalangan orang-orang awam, mengaitkan kesamaan ini dengan hal-hal mistis dan berbagai pertanda. Tentu saja anggapan semacam ini tidak punya dasar ilmiah sama sekali.

"Orang awam bisa saja mengaitkan hal-hal semacam itu, bahwa tanggalnya bisa sama, bahwa Desember adalah bulannya bencana, dan lain sebagainya. Tapi yang jelas, secara ilmiah, meletusnya gunung api itu dapat diprediksi," kata Pakar Vulkanologi ITB Dr Eng Mirzam Abdurrachman, saat dihubungi, Senin (5/12/2022).

Mirzam menjelaskan, peristiwa meletusnya gunung api dapat diprediksi dengan melihat pola kebiasaan gunung api tersebut. Karenanya, aktivitas meletusnya gunung api yang mengikuti pola tertentu yang cenderung konstan, dapat dijadikan pegangan bagi para vulkanologis.

Vulkanologis, lanjutnya, dapat memprediksi dua jangka waktu, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek dapat terlihat dari banyaknya hewan yang turun gunung, aktivitas gas beracun, hingga mengamati proses biokimia yang terjadi.

Sedangkan dalam jangka panjang, vulkanologi dapat memprediksi letusan menggunakan data historis gunung api yang memiliki interval antar letusannya. Berdasarkan data dan pengamatan yang dilakukan, Mirzam berkesimpulan bahwa Gunung Semeru memiliki interval letusan jangka pendeknya yaitu 1-2 tahun.

"Erupsi Semeru ini menjadi contoh bagus bahwa jangankan gunung yang berbeda, gunung yang sama pun bisa berbeda karakternya, bagaimana terjadi letusannya dari waktu ke waktu," jelas Kepala Program Studi Teknik Geologi ITB ini.

Kabar baiknya, menurut dia, masyarakat di sekitar Semeru kini sudah semakin terlatih dan tanggap bencana ketika terjadi erupsi. Hal ini adalah sebuah kemajuan yang patut diapresiasi.

"Banyak orang kini bisa mengantisipasi karena sudah belajar banyak hal. Kita memang harus belajar hidup secara harmoni dengan alam. Masyarakat pun sudah belajar dari pengalaman, mereka bisa melakukan mitigasi sendiri, itu sudah bagus. Semoga kita bisa terus belajar dan ke depannya akan lebih baik lagi dalam mitigasi bencana," harapnya.

Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api yang terkenal sangat aktif. Gunung tertinggi di Tanah Jawa ini pernah mengalami letusan di tahun 2020, yang juga terjadi di bulan Desember.

Sebelum letusan berturut-turut di tahun 2020, 2021, dan 2022, menurut catatan BNPB, Gunung Semeru pernah meletus berturut-turut pada tahun 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955, 1957, 1958, 1959, dan 1960. Lalu ada lagi kejadian 1961, 1963, 1967, 1969, 1972, lalu 1990, 1992, 1994, 1997, dan 2002, 2004, 2005, 2007, 2008.

[Gambas:Youtube]



(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT