5 Fakta Matahari Tepat di Khatulistiwa 23 September

ADVERTISEMENT

5 Fakta Matahari Tepat di Khatulistiwa 23 September

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 23 Sep 2022 13:35 WIB
Terik matahari
Fakta Matahari Tepat di Khatulistiwa 23 September. Foto: Thinkstock 5
Jakarta -

Hari ini, Jumat (23/9/2022) Matahari bersinar tepat di khatulistiwa. Peristiwa langka ini disebut juga dengan fenomena ekuinoks. Ada sejumlah fakta menarik tentang fenomena ini.

Berikut adalah 5 fakta tentang Matahari tepat di khatulistiwa, dirangkum detikINET dari berbagai sumber.

Asal dan arti ekuinoks

Istilah ekuinoks berasal dari bahasa Latin, yaitu equinoctis atau equum yang bermakna sama, dan noctis yang artinya malam.

Ekuinoks secara harfiah lebih cocok dengan kondisi Bumi yang berada antara belahan Bumi Utara maupun belahan Bumi Selatan, yang sama-sama menerima radiasi yang sama baik besaran maupun durasinya.

Hal itu dikarenakan belahan Bumi Utara disebut tak condong dan lebih dekat ke Matahari, juga tidak menjauhi Matahari. Demikian juga yang terjadi di belahan Selatan.

Matahari tepat di atas kepala

Ketika terjadi fenomena ekuinoks, Matahari bersinar tepat di atas kepala (menempati titik zenith), maka setiap bayang-bayang benda tegak yang berdiri di atas garis khatulistiwa akan menghilang sesaat.

Pontianak di Kalimantan Barat merupakan salah satu kota yang berada di garis khatulistiwa. Kerena itu Pontianak dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui oleh garis lintang 0 derajat.

Bagi pengamat yang berada di garis khatulistiwa, Matahari akan berada tepat di atas kepala saat tengah hari. Itu sebabnya banyak juga yang menyebut fenomena ini sebagai hari tanpa bayangan.

Durasi siang dan malam sama panjang

Jika ditinjau dari pengamatan Tata Surya di luar Bumi, posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari ke Bumi.

Hal ini mengakibatkan batas siang-malam berimpit dengan garis bujur di setiap permukaan Bumi. Sehingga, panjang siang dan malam nyaris sama di seluruh dunia, walau kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer.

Terjadi dua kali setahun

Fenomena Matahari tepat di khatulistiwa terjadi dua kali dalam setahun, yaitu di bulan Maret dan September.

Ekuinoks juga menjadi penanda hari pertama musim gugur (ekuinoks musim gugur) di belahan Bumi utara dan hari pertama musim semi (ekuinoks musim semi) di belahan Bumi selatan.

Di Indonesia, ekuinoks Maret merupakan pertanda peralihan musim atau pancaroba dari hujan ke kemarau. Sedangkan ekuinoks September ini menjadi pertanda peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Dilacak sejak peradaban kuno

Selama ribuan tahun, orang-orang telah melacak perjalanan Matahari. Fenomena ekuinoks sering dimasukkan ke dalam tradisi budaya dan agama.

Bagi banyak peradaban kuno, pergeseran Matahari tidak hanya menentukan awal musim, tetapi juga waktu untuk memproduksi dan memanen tanaman.

Di Jepang misalnya, kedua ekuinoks adalah hari libur umum di Jepang dan secara tradisional dianggap sebagai hari untuk menghormati dan memuja leluhur dan orang-orang terkasih yang telah meninggal.

Ekuinoks juga ditandai oleh banyak monumen kuno. Misalnya, selama ekuinoks di kompleks candi Hindu Angkor Wat di Kamboja, Matahari terbit tepat di atas candi pusatnya.



Simak Video "Pria Ngaku Dewa Matahari Alami Gangguan Jiwa, Kasusnya Dihentikan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT