Ilmuwan Minta Bayi Hasil Rekayasa Gen di China Dilindungi

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Minta Bayi Hasil Rekayasa Gen di China Dilindungi

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 14 Mar 2022 12:16 WIB
rekayasa genetika
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Meski kelahiran bayi hasil rekayasa gen dikecam dunia, ilmuwan meminta agar anak-anak tersebut dilindungi. Isu ini kembali mencuat karena ilmuwan 'pencipta' bayi-bayi ini, He Jiankui, akan dibebaskan dari penjara tahun ini.

Dua ahli bioetika China, Qiu Renzong, dari Chinese Academy of Social Sciences di Beijing, dan Lei Ruipeng dari Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, telah meminta pemerintah China untuk melindungi bayi pertama di dunia yang diedit secara genetik tersebut.

Ini adalah permintaan resmi pertama terkait isu bayi hasil rekayasa gen, dan telah diserahkan bulan lalu ke Komisi Kesehatan Nasional, Kementerian Sains dan Teknologi, dan Kementerian Pendidikan China.

Para ilmuwan menyarankan dibentuknya organisasi penelitian dan perawatan khusus untuk merawat Lulu, Nana, dan Amy, ketiga bayi hasil eksperimen rekayasa gen yang dilakukan Jiankui.

Kilas balik

He Jiankui, adalah seorang ilmuwan penelitian di Southern University of Science and Technology yang terlibat dalam dua startup yang bergerak dalam bidang bioteknologi.

Dia menjadi sorotan dunia dan menimbulkan kontroversi saat di 2018 mengumumkan dirinya telah merekayasa gen sepasang bayi perempuan kembar agar imun terhadap HIV.

Tindakan Jiakui dianggap sebagai pelanggaran terhadap peraturan ketat terkait pemanfaatan rekayasa genetika pada manusia. Pemerintah China pun menghentikan penelitian tersebut dan menyelidikinya.

Di 2019, Pengadilan China menjatuhkan hukuman kepada Jiankui. Dia harus menjalani hukuman penjara selama tiga tahun. Tak hanya itu, Jiankui pun didenda sebesar 3 juta yuan.

Peralatan rekayasa genetika yang dipakai Jiankui dalam merekayasa bayi kembar yang 'diciptakannya' sebenarnya bukan hal baru di dunia sains. Peralatan itu pertama kali dibuat tahun 2012.

Cara pemakaiannya yaitu dengan menggunakan 'gunting molekul' untuk memodifikasi helai DNA tertentu - entah memutus, mengganti atau menjepitnya.

Rekayasa genetika diperkirakan dapat bantu menghindari penyakit turunan dengan menghapus atau mengubah kode genetika bermasalah pada embrio.

Meski demikian, para pakar khawatir modifikasi gen pada embrio dapat membahayakan, bukan hanya bagi bayi tersebut, tapi juga bagi generasi berikutnya yang mewarisi perubahan genetika serupa. Alih-alih mendapat pengakuan atau pujian atas eksperimennya ini, para ilmuwan baik di China maupun dari seluruh dunia, mengutuk penelitian Jiankui.



Simak Video "Perbedaan SALACA dengan Platform Media Sosial Lainnya"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT