Radiasi Chernobyl Jadi Perdebatan Usai Invasi Rusia

Radiasi Chernobyl Jadi Perdebatan Usai Invasi Rusia

ADVERTISEMENT

Radiasi Chernobyl Jadi Perdebatan Usai Invasi Rusia

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Minggu, 27 Feb 2022 22:00 WIB
FILE - A Soviet-era top secret object Duga, an over-the-horizon radar system once used as part of the Soviet missile defense early-warning radar network, seen behind a radioactivity sign in Chernobyl, Ukraine, on Nov. 22, 2018. Among the most worrying developments on an already shocking day, as Russia invaded Ukraine on Thursday, was warfare at the Chernobyl nuclear plant, where radioactivity is still leaking from historys worst nuclear disaster 36 years ago. (AP Photo/Efrem Lukatsky, File)
Reaktor nuklir di Chernobyl (Foto: AP/Efrem Lukatsky)
Jakarta -

PLTN Chernobyl di Ukraina diambil alih Rusia. Rusia dan pihak internasional berdebat soal tingkat radiasi yang timbul.

Dilansir Al Jazeera, Sabtu (26/2/2022) pemerintah Ukraina mengatakan tingkat radiasi meningkat di Chernobyl Exclusion Zone usai invasi Rusia ke Ukraina. Reaktor ini lokasinya 130 km dari ibukota Kiev.

"Dalam tangan penyerbu yang buruk, sejumlah Plutonium-239 bisa dijadikan bom nuklir yang membuat wilayah ribuan hektar jadi gurun pasir yang mati," kata Kementerian Lingkungan Hidup Ukraina.

Chernobyl Exclusion Zone adalah wilayah seluas 2.600 km persegi berupa hutan antara perbatasan Belarus-Ukraina dan Kiev. Serbuan tentara Rusia ke Chernobyl dinilai bisa membahayakan.

Ilmuwan dari badan tenaga nuklir Ukraina mengatakan perubahan tingkat radiasi diakibatkan pergerakan alat perang berat di area tersebut. Akibatnya debu radioaktif kembali naik ke udara.

Mendapat tudingan itu, Rusia langsung membantah keras. Jubir Kemenhan Rusia, Igor Konashenkov mengatakan radiasi normal-normal saja.

"Tingkat radiasi adalah normal di kawasan PLTN Chernobyl. Pegawai PLTN tetap menjalankan pembangkit listrik seperti biasa dan memantau tingkat radiasi," kata dia.

Dari pihak internasional, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan tingkat radiasi di Chernobyl tidak membahayakan. Tercatat ada 9,46 microsieverts per jam yang dinilai rendah dan dalam batas aman untuk kegiatan operasional.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi menegaskan kondisi di Chernobyl tidak boleh terganggu dalam segala cara. Tragedi tahun 1986, cukuplah jadi catatan sejarah.

Pada 26 April 1986, terjadi insiden Chernobyl. Reaktor No 4 meledak dan terbakar malam-malam, melontarkan zat radioaktif ke udara. Pemerintah Uni Soviet dinilai lambat bereaksi sampai akhirnya radiasi terdeteksi sampai Swedia.

2 Juta penduduk Kiev bahkan tidak diberi tahu ancaman bahaya nuklir tersebut. PBB mencatat 4.000 orang tewas terpapar radiasi Chernobyl.

*Anda kini bisa cek harga dan perbandingan smartphone terbaru di detikINET. Silakan klik DI SINI.


Simak Video "Zelensky: Rusia Masih Serang Donetsk, Tapi Alami Kerugian Besar"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/asj)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT