Bumi Panas, Olimpiade Musim Dingin Bisa Tinggal Kenangan

Bumi Panas, Olimpiade Musim Dingin Bisa Tinggal Kenangan

ADVERTISEMENT

Bumi Panas, Olimpiade Musim Dingin Bisa Tinggal Kenangan

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 09 Feb 2022 20:45 WIB
PYEONGCHANG-GUN, SOUTH KOREA - FEBRUARY 24: Sylvain Dufour of France competes during the Snowboarding Mens and Womens Parallel Giant Slalom Finals at Pheonix Snow Park on February 24, 2018 in Pyeongchang-gun, South Korea. (Photo by Laurent Salino/Agence Zoom/Getty Images)
Foto: Laurent Salino/Agence Zoom/Getty Images
Jakarta -

Sebuah studi baru menemukan bahwa jumlah kota yang mampu menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin dapat berkurang drastis menjadi hanya satu pada akhir abad ke-21. Hal ini bakal terjadi jika emisi global gas rumah kaca tidak dikurangi secara signifikan dari sekarang.

Sekarang pun, kita sudah menyaksikan Olimpiade Musim Dingin tahun ini yang digelar di Beijing, China, mencatat sejarah sebagai Olimpiade Musim Dingin pertama yang menggunakan 100% salju buatan.

Studi yang diterbitkan dalam Current Issues in Tourism, melihat data iklim dari tahun 1920-an hingga hari ini, serta model perubahan iklim di masa depan di abad ini, termasuk bagaimana jika tujuan emisi tercapai dan terlewatkan.

"Perubahan iklim mengubah geografi Olimpiade Musim Dingin dan sayangnya, akan menghilangkan beberapa kota tuan rumah yang terkenal dengan olahraga musim dinginnya," kata Robert Steiger dari University of Innsbruck di Austria, dikutip dari IFL Science.

"Sebagian besar lokasi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di Eropa diproyeksikan menjadi marjinal atau tidak dapat diandalkan pada awal tahun 2050-an, bahkan di masa depan dengan emisi rendah," sambungnya.

Mereka juga meminta atlet olahraga musim dingin saat ini untuk menilai kondisi pilihan mereka untuk olahraga Olimpiade Alpine Skiing, Nordic Skiing, Freestyle Skiing, Ski Jumping/Nordic Combined, Alpine Snowboarding, dan Freestyle Snowboarding.

Para atlet diminta untuk mengurutkan serangkaian kondisi iklim (kabut, bubuk salju segar, salju yang diolah secara kimia, permukaan es, angin) pada skala dari tidak dapat diterima hingga ideal untuk kinerja puncak dan dari segi keamanan, serta suhu ideal untuk bertanding.

"Kami ingin memahami dari sudut pandang atlet seperti apa kondisi iklim dan salju yang membuat kompetisi aman dan berlangsung adil," kata Natalie Knowles, mantan pemain ski Kanada dan mahasiswa PhD saat ini yang terlibat dalam penelitian tersebut.

"Kemudian, kami menentukan tuan rumah Olimpiade mana yang bisa memberikan kondisi itu di masa depan," ujarnya.

Probabilitas kondisi yang tidak adil dan tidak aman meningkat di bawah semua skenario perubahan iklim di masa depan, menurut penelitian tersebut. Namun, jika kita tetap berpegang pada Perjanjian Paris, efeknya dapat dikurangi secara signifikan.

"Dalam masa depan emisi rendah yang konsisten dengan Perjanjian Paris yang sukses, hanya 13 dari 21 lokasi tuan rumah sebelumnya (semua di belahan Bumi utara) akan tetap dapat diandalkan untuk kompetisi olahraga salju di tahun 2050-an, dan ada 12 di tahun 2080-an," tim menulis dalam studi tersebut.

"Dampak dari skenario emisi tinggi jauh lebih jelas, mengurangi jumlah lokasi yang dapat diandalkan secara iklim menjadi 10 pada tahun 2050-an dan 8 pada tahun 2080-an. Prognosis untuk Paralimpiade Musim Dingin, yang terjadi pada bulan Maret setelah Olimpiade, jauh lebih buruk," tulis mereka.

Dalam satu skenario emisi tinggi, hanya satu kota yang masih layak untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin: Sapporo, Jepang.

"Jalur emisi tinggi menghasilkan hasil yang sangat berbeda untuk kemampuan memberikan kondisi yang adil dan aman untuk olahraga salju di lokasi Olimpiade Musim Dingin," kata para peneliti.

"Pada pertengahan abad, jumlah tuan rumah yang dapat diandalkan menurun menjadi empat yaotu Lack Placid, Lillehammer, Oslo, dan Sapporo. Lalu pada akhir abad ini, hanya satu lokasi yang tetap dapat diandalkan, Sapporo," tulis mereka.

Masalah utama yang diangkat oleh para atlet terkait dengan kualitas salju, termasuk bahaya salju buatan. Mereka juga menyebutkan sebagian besar masalah keamanan muncul dari suhu yang lebih tinggi yang mempengaruhi atlet dan salju.

Tim menemukan bahwa 89% atlet musim dingin yang mereka survei sudah berpikir bahwa krisis iklim berdampak pada kondisi kompetisi, sementara 94% khawatir hal itu akan berdampak pada masa depan olahraga mereka.

"Tidak ada olahraga yang dapat lepas dari dampak perubahan iklim," sebut Daniel Scott, Profesor Geografi dan Manajemen Lingkungan di University of Waterloo, Kanada.

"Mencapai target Perjanjian Paris sangat penting untuk menyelamatkan olahraga salju seperti yang kita ketahui dan memastikan ada tempat di seluruh dunia untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin," tutupnya.



Simak Video "Bumi di Akhir Zaman"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT