Riset Mengejutkan: Bersin Hamster Bisa Sebarkan COVID

ADVERTISEMENT

Riset Mengejutkan: Bersin Hamster Bisa Sebarkan COVID

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 07 Feb 2022 07:40 WIB
Hamster penyebar COVID
Dugaan wabah di sebuah toko hewan peliharaan pada bulan Januari menyebabkan pemusnahan hamster di Hong Kong. Foto: Chan Long Hei/Bloomberg/Getty
Jakarta -

Berdasarkan hasil analisis genom sampel virus, hewan peliharaan hamster kemungkinan besar menjadi penyebar varian Delta di Hong Kong dan memicu wabah COVID-19 pada manusia.

Penelitian ini mengkonfirmasi kekhawatiran sebelumnya yang menyebutkan toko hewan peliharaan menjadi sumber wabah yang melibatkan sekitar 50 kasus infeksi, dan menyebabkan pemusnahan sekitar 2.000 hamster di seluruh kota.

Hamster sangat rentan terhadap SARS-CoV-2 dan menjadi model yang populer untuk mempelajarinya. Tetapi penelitian di Hong Kong adalah yang pertama menunjukkan bahwa hamster dapat terinfeksi di luar laboratorium, dan bahwa mereka dapat menularkan virus kepada hamster lain maupun manusia.

Dikutip dari Nature, hamster menjadi hewan lainnya yang diketahui dapat menginfeksi manusia setelah cerpelai yang dibudidayakan. Sebelumnya, hewan ini memicu kepanikan dan pemusnahan massal ketika diketahui menyebabkan wabah kecil di antara warga Denmark dan Belanda pada akhir 2020.

"Studi terbaru ini menunjukkan perdagangan hewan peliharaan sebagai rute penyebaran virus. Namun penularan dari manusia ke manusia masih jauh lebih mungkin terinfeksi dibandingkan dari hewan peliharaan," kata rekan penulis Leo Poon, seorang ahli virologi di Hong Kong University.

Rute baru penyebaran virus

"Namun demikian, sangat penting untuk memantau perdagangan hewan peliharaan dengan cermat," kata Marion Koopmans, ahli virus di Erasmus University Medical Center, di Rotterdam, Belanda.

Dia memperingatkan, SARS-CoV-2 dapat terus beredar pada hewan, berkembang dengan cara yang tidak terduga, dan kemudian menyebar kembali ke manusia.

Studi ini bermula ketika seorang wanita pekerja toko hewan peliharaan berusia 23 tahun dinyatakan positif mengidap Delta pada 15 Januari. Poon mengatakan hal itu agak aneh. Terakhir kali kota itu mendeteksi Delta pada bulan Oktober.

Dalam beberapa hari, pejabat kesehatan masyarakat melakukan swab terhadap sekitar 100 hewan di toko hewan peliharaan tersebut, dan 500 lainnya di gudang yang memasoknya.

Mereka mendeteksi adanya RNA virus SARS-CoV-2, atau antibodi terhadap virus, pada 15 dari 28 hamster Suriah (Mesocricetus auratus). Virus tidak ditemukan pada hamster kerdil, kelinci, marmut, chinchilla, atau tikus.

Para peneliti kemudian menganalisis urutan genom dari sampel yang dikumpulkan dari 12 hamster dan 3 orang pertama yang terinfeksi, termasuk pekerja toko hewan peliharaan dan pengunjung toko. Semua sampel mengandung varian Delta yang sebelumnya tidak terdeteksi di Hong Kong, dan mungkin berasal dari sumber yang sama.

Para peneliti juga melihat beberapa keragaman dalam urutan, dan menyimpulkan bahwa hamster mungkin pertama kali terinfeksi pada bulan November, sebelum kedatangan mereka di Hong Kong, dan virus telah menyebar tanpa terdeteksi di antara hewan, sambil mengumpulkan beberapa mutasi nukleotida tunggal.

Melompat antar spesies

Pekerja toko hewan peliharaan dan pengunjung mungkin terinfeksi pada dua kesempatan terpisah, meskipun Poon mengatakan mungkin ada lebih banyak lompatan. Yang paling mengejutkan, katanya, adalah bahwa bahkan setelah bereplikasi pada hamster, virus tersebut masih dapat menular antar manusia dengan cukup efektif.

Gudang tersebut mengimpor hewan dari Belanda, dan analisis lebih lanjut dari genom yang diunggah ke database global publik mengidentifikasi kecocokan terdekat mereka dalam urutan yang dikumpulkan pada orang-orang di Eropa timur.

Koopmans mengatakan dia yakin dengan analisis dan kesimpulannya bahwa hewan tersebut mengimpor varian tersebut ke Hong Kong. Dia mengatakan, sangat penting untuk melacak sumber infeksi pada hamster.

Tetapi Arinjay Banerjee, seorang ahli virologi di Saskatchewan University di Saskatoon, Kanada, mengatakan para peneliti tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa hamster justru pertama kali terinfeksi oleh seseorang di Hong Kong, bukan mengimpor virus ke negara tersebut.

"Ada begitu banyak orang yang menangani hamster selama proses pemindahan mereka. Kesimpulannya, risiko infeksi dari hamster tampaknya masih rendah, tetapi tetap menjadi sesuatu yang harus diwaspadai," tutupnya.



Simak Video "Cerita Peternak Hamster Lumajang: Modal Minim, Keuntungan Bukan Main"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT