9 Skenario Kiamat Menurut Sains - Halaman 2

9 Skenario Kiamat Menurut Sains

Tim - detikInet
Senin, 18 Okt 2021 07:45 WIB
Langit Merah Akibat Kebakaran Hutan di Australia Seperti Dunia Akan Kiamat
9 Skenario Kiamat Menurut Sains. Foto: ABC Australia

5. Penyakit yang direkayasa

Selain penyakit alami, ada juga penyakit rekayasa yang tak kalah menakutkan. Pada 2011, komunitas ilmiah sedunia dibuat berang karena sekelompok peneliti merekayasa versi mutan dari flu burung H5N1 yang dapat ditularkan pada musang dan ditularkan melalui udara. Hasil rekayasa ini memicu kekhawatiran bahwa penyakit mematikan yang sengaja dibuat ini dapat bocor dari laboratorium atau sengaja dilepaskan dan memicu pandemi global.

6. Perang nuklir

Persediaan besar senjata nuklir di seluruh dunia dapat mendatangkan kehancuran jika jatuh ke tangan yang salah. Para ilmuwan Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) di balik Doomsday Clock atau Jam Kiamat menyebut Bumi masih berada di ambang kiamat pada 2021 akibat potensi perang nuklir, pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, perubahan iklim, dan hoax yang merajalela.

Para peneliti BAS menetapkan jarum Jam Kiamat tahun ini masih sama dengan tahun 2020, yaitu berjarak 100 detik menuju tengah malam. Itu artinya, jam simbolis tersebut menunjukkan titik terdekat manusia dengan kiamat. Pada 2019, posisi jam kiamat adalah 2 menit menuju tengah malam. Tengah malam atau pukul 00.00 adalah perlambang akhir zaman.

7. Kebangkitan robot

Seperti di film "The Terminator", mesin pembunuh kini makin mendekati kenyataan. PBB baru-baru ini menyerukan larangan penciptaan robot pembunuh, merespons kekhawatiran para ahli karena beberapa negara sedang mengembangkannya.

Banyak ilmuwan komputer berpikir singularitas, titik di mana kecerdasan buatan melampaui kecerdasan manusia, sudah sangat dekat. Apakah robot-robot itu akan menjadi penolong yang baik hati atau membahayakan umat manusia, masih diperdebatkan. Tapi potensi bahwa robot-robot hyperintelligent yang dipersenjatai ini bisa mengancam manusia tetap ada.

8. Overpopulasi

Ketakutan akan Bumi yang kelebihan penduduk telah ada sejak abad ke-18, tepatnya ketika ekonom Thomas Malthus meramalkan bahwa pertumbuhan penduduk akan menyebabkan kelaparan massal dan membebani planet ini. Dengan populasi global yang mencapai 7 miliar dan terus bertambah, banyak ahli konservasi berpikir bahwa pertumbuhan populasi adalah salah satu ancaman utama bagi Bumi.

Namun, tidak semua orang setuju dengan pendapat ini. Banyak juga yang berpikir, pertumbuhan populasi akan stabil dalam 50 tahun ke depan, dan umat manusia akan berinovasi untuk mengatasi konsekuensi negatif dari kepadatan penduduk.

9. Efek bola salju

Masing-masing skenario yang telah disebutkan sebelumnya memang bisa terjadi. Namun sebagian besar ilmuwan berpikir efek bola salju dari beberapa peristiwa akan lebih mungkin terjadi. Misalnya, pemanasan global dapat meningkatkan prevalensi patogen sekaligus menyebabkan perubahan iklim yang meluas.

Bisa jadi, runtuhnya ekosistem dapat mempersulit untuk menghasilkan makanan, misalnya karena ketiadaan lebah yang menyerbuki tanaman, atau pohon untuk menyaring air pertanian. Jadi, alih-alih bencana besar yang terjadi secara tunggal, beberapa faktor yang relatif kecil namun berdampak, bisa memperburuk kehidupan di Bumi hingga secara bertahap akan terdegradasi dan hancur.

(rns/afr)