Gandeng NOAA, BMKG Menuju Kelas Dunia

Gandeng NOAA, BMKG Menuju Kelas Dunia

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 02 Okt 2021 17:27 WIB
ilustrasi kantor bmkg
Foto: Farih Maulana/detikcom
Jakarta -

Menggandeng National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ingin menjadi organisasi kelas dunia.

Harapan itu disampaikan Kepala BMKG Dwikorita saat gelaran "16th Annual Indonesia - U.S. BMKG - National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Partnership Workshop."

"Salah satu prioritas kami yaitu menjadikan BMKG sebagai organisasi kelas dunia. Melalui kerja sama tersebut, BMKG bisa sejajar dengan pusat iklim global lainnya," ujar Dwikorita dalam workshop yang digelar virtual, Kamis (30/9).

Dwikorita mengatakan, harapan ini muncul karena Indonesia berada di "kolam hangat" Samudra Hindia dan Pasifik Barat. Dengan posisi ini, Indonesia memainkan peran penting dalam pemantauan cuaca dan iklim global.

"Sebagai negara kepulauan, persebaran daratan-laut dan topografi yang kompleks membuat prediksi bencana menjadi tantangan bagi Indonesia. Prediksi cuaca ekstrem dengan siklus diurnal, sistem cuaca sinoptik, Osilasi Madden-Julian (MJO), El Nino, dan monsun memberi manfaat bagi kesejahteraan sosial ekonomi Indonesia," sebutnya.

Selain cuaca ekstrem, lanjut dia, Indonesia juga merupakan kawasan rawan gempa. Posisi Indonesia di perbatasan tiga lempeng tektonik utama dunia, di antaranya, India-Australia, Eurasia, dan Pasifik, sehingga rawan terhadap kejadian tsunami.

Dwikorita berharap, sebagai bagian dari komunitas cuaca dan iklim global, BMKG memiliki sejarah panjang dalam berkontribusi pada program terkoordinasi di seluruh dunia. "Kolaborasi dengan NOAA adalah salah satu cara, kami memainkan peran ini," ujar dia.

Dwikorita menyebut, bahwa BMKG selalu berusaha untuk melibatkan diri dalam berbagai proyek ini sebagai komitmen untuk memajukan pengetahuan di iklim tropis. Ina-Prima, salah satu agenda kemitraan BMKG-NOAA, merupakan salah satu cara BMKG menunjukkan komitmennya terhadap komunitas cuaca dan iklim global.

Informasi skala waktu sub-musim hingga musiman sangat dibutuhkan di berbagai sektor, terutama pengurangan risiko bencana hidrometeorologi terkait dengan kejadian cuaca ekstrem, pertanian, energi, ketahanan pangan, dan lain-lain.

Akurasi prakiraan cuaca sangat penting untuk memastikan kebijakan pemerintah terkait sektor pertanian, energi, ketahanan pangan, dan lain-lain dapat dirancang dengan baik.



Simak Video "Ada Pertumbuhan Awan Hujan di Samudera Hindia Barat Daya Banten"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)