Terungkap, Ini Penyebab Runtuhnya Peradaban Suku Maya

Terungkap, Ini Penyebab Runtuhnya Peradaban Suku Maya

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 14 Sep 2021 14:58 WIB
Reruntuhan suku Maya di Kota Tikal
Reruntuhan peninggalan suku Maya di kota Tikal. Foto: (Getty Images/iStockphoto)
Jakarta -

Suku Maya telah tinggal di Amerika Tengah dan Semenanjung Yucatán setidaknya sejak 1800 SM dan berkembang di wilayah tersebut selama ribuan tahun. Peradaban Maya runtuh antara 800 - 1000 M. Penyebab keruntuhan mereka pun masih terus dikaji para peneliti.

"Sebelum membicarakan lebih jauh, perlu dipahami bahwa suku Maya masih ada hingga saat ini. Yang runtuh adalah sistem politik Maya, bukan masyarakatnya," kata Lisa Lucero, profesor antropologi dan studi abad pertengahan di University of Illinois di Urbana-Champaign.

"Ada lebih dari 7 juta orang suku Maya yang hidup hari ini di Amerika Tengah dan sekitarnya untuk membuktikan fakta ini," sambungnya seperti dikutip dari Live Science.

Peradaban Maya kuno tidak memiliki satu pemimpin pusat seperti seorang kaisar di Roma kuno misalnya, dan tidak bersatu menjadi satu negara. Sebaliknya, peradaban Maya kuno terdiri dari banyak negara kecil yang masing-masing berpusat di sekitar kota.

Negara-negara ini memiliki kesamaan dalam budaya dan agama, serta punya pemimpin lokal mereka sendiri. Karenanya, tidak ada keruntuhan tunggal untuk pemerintahan ini.

Sebaliknya, sejumlah kota peradaban Maya mengalami pasang surut pada waktu yang berbeda, ada yang dalam periode waktu 800 hingga 1000 M, ada juga yang setelahnya.

Contohnya, ketika Chichén Itzá mengalami kemunduran yang sebagian besar disebabkan kekeringan yang panjang selama abad ke-11, kota Semenanjung Yucatán lainnya, yang disebut Mayapán, mulai berkembang.

"Kata 'runtuh' sepertinya bukan istilah yang tepat diterapkan secara universal untuk keseluruhan suku Maya, dan juga tidak boleh disebut sebagai istilah tunggal. Wilayah Maya luas, dengan banyak pemerintahan dan lingkungan, dan banyak bahasa digunakan dalam suku Maya," kata Marilyn Masson, seorang profesor dan ketua antropologi di University at Albany, State University of New York.

Para peneliti menyebutkan, negara-negara Maya masih tetap ada bahkan setelah wilayah itu dirusak oleh perang dan penyakit yang dibawa oleh penaklukan Eropa di Amerika Tengah.

"Kita harus selalu ingat, negara bagian Maya terakhir, Nojpetén, jatuh pada tahun 1697, terbilang sangat baru," kata Guy Middleton, seorang peneliti tamu di School of History, Classics and Archaeology di Newcastle University di Inggris.

Selanjutnya: Suku Maya Jatuh dan Orang-orang Maya di Zaman Modern