Ramai-ramai Kejar Hidup Abadi, Usia Tua Dianggap Penyakit

ADVERTISEMENT

Ramai-ramai Kejar Hidup Abadi, Usia Tua Dianggap Penyakit

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 10 Sep 2021 22:33 WIB
ilustrasi riset
Ramai-ramai Kejar Hidup Abadi, Usia Tua Dianggap Penyakit (Foto: ilustrasi/Thinkstock)
Jakarta -

Startup di Silicon Valley mulai ramai mengembangkan teknologi anti penuaan, bahkan hidup abadi. Terbaru, startup bernama Altos Labs yang salah satu investornya orang terkaya dunia, Jeff Bezos, ingin meremajakan sel-sel manusia. Mungkinkah ambisi itu tercapai?

Usia tua rupanya diyakini sebagai penyakit dan bisa disembuhkan. "Penuaan adalah masalah medis. Ini sangat serius dan berdampak pada setiap orang. Namun pada prinsipnya, kita mampu memecahkan (masalah ini)," kata Dr Aubrey de Grey, pendiri SENS Research Foundation.

Berbagai potensi untuk menangkal usia tua membuat dana mengalir dari para orang kaya Silicon Valley yang ingin panjang usia. Selain Bezos, Google sudah cukup lama punya Calico, perusahaan yang juga ingin 'mengobati' penuaan.

Dr Gray pun meramal bisnis memperpanjang usia nantinya akan menjadi industri terbesar di dunia. Tentu banyak yang skeptis, di mana menghambat usia tua tantangannya sangat besar, apalagi hidup abadi. Namun demikian, perkembangan teknologinya juga memunculkan optimisme.

Ilmuwan saat ini mencoba mengungkap penyebab kompleks penuaan dalam rangka memperlambat, mencegah atau bahkan membalik prosesnya. Contohnya Dr Steve Horvart, pakar dari University of California, mengidentifikasi proses sel bernama methylation dalam penuaan.

Pola methylation ini memainkan peran penting menentukan umur hewan. "Tiap spesies punya usia maksimum dan methylation ini berhubungan dengannya. Potensi besarnya adalah kita mungkin bisa memodifikasinya di DNA kita dan mungkin bisa mengubah umur spesies kita,"kata Dr Steve.

"Mungkin tidak cuma sampai usia 122 tahun, barangkali kita bisa memperpanjangnya sampai 130 tahun atau 150 tahun," tambahnya seperti dikutip detikINET dari ABC, Jumat (10/9/2021).

Halaman selanjutnya: Riset panjang umur di Australia...

Di pihak lain ada David Sinclair, pakar biologi di Australia, beberapa waktu lalu melakukan upaya mengubah gen tikus yang buta dan mengklaim berhasil melakukannya. "Penglihatan tikus ini kembali," katanya.

"Setidaknya ada dua lusin perusahaan di seluruh dunia mengembangkan obat yang bisa memperlambat atau di beberapa kasus, membalikkan usia organ dan mungkin suatu hari, seluruh tubuh. Jadi hal ini tidak di luar ilmu biologi," paparnya.

Belakangan ini, dana untuk teknologi anti penuaan semakin melimpah sehingga ilmuwan yang terlibat makin optimistis. "Industri ini, bahkan 5 tahun lalu, pada dasarnya tidak eksis. Sekarang ada ratusan perusahaan melakukan pekerjaan bioteknologi ini," kata Dr Gray.

Tentu banyak yang cemas dengan perkembangan tersebut. Pantaskah secara etika manusia hidup sangat panjang? Lagipula dengan usia panjang, belum tentu mereka bahagia.

"Masalah dengan sains adalah bahwa para ilmuwan rasa-rasanya mengemukakan semua cerita bagus, kita akan hidup selamanya, kita akan bahagia," kata pakar sosiologi di Australia, Profesor Bryan Turner.

"Kecuali kita punya semacam tujuan tambahan atau makna dalam hidup, berada di sini tanpa batas waktu mungkin bukan prospek yang diinginkan orang. Apa yang akan kita lakukan selama 100 atau 200 tahun lagi, nonton televisi atau semacamnya?" tanya dia.

Namun menurut Dr Horvart, orang bisa memilih apa yang mereka inginkan dan sains harus membantu untuk meraihnya. Jika manusia ingin hidup panjang dan merasa akan tetap bahagia, menurutnya hal itu bukan masalah. Ia punya misi memperpanjang umur manusia dan di sisi lain mereka tetap bisa produktif.

(fyk/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT