Ahli Saraf Jelaskan Pilihan Childfree Secara Ilmiah

Ahli Saraf Jelaskan Pilihan Childfree Secara Ilmiah

Tim - detikInet
Selasa, 31 Agu 2021 21:11 WIB
Close up of a happy young family playing at home
Ahli Saraf Jelaskan Pilihan Childfree Secara Ilmiah. Foto: Getty Images/Geber86
Jakarta -

Seiring perkembangan zaman, pilihan untuk childfree atau tidak memiliki anak kini banyak dilakukan pasangan suami istri. Seorang ahli saraf menjelaskan mana yang lebih membuat bahagia, memiliki anak atau tidak.

Selama beberapa generasi, memiliki anak dipandang sebagai kebutuhan, bahkan kewajiban. Memiliki anak sendiri adalah bagian dari menjadi dewasa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pandangan ini tidak lagi dominan seperti dulu, karena semakin banyak orang yang memilih untuk tidak punya anak.

Di sisi lain, sebagian besar orang masih menginginkan punya anak. Faktor budaya seringkali membuat kaum perempuan dipermalukan dan disudutkan ketika memilih untuk tidak menjadi ibu.

"Pilihan untuk memiliki anak maupun childfree tentu jauh lebih kompleks dari kelihatannya. Faktor individu akan memainkan peran besar dalam keputusan seseorang dan bagaimana hal itu akan berjalan baik atau tidak," kata Dean Burnett ahli saraf dan penulis buku The Idiot Brain and The Happy Brain, dikutip dari Science Focus, Selasa (21/8/2021).

Meski demikian, Dean menjelaskan hal-hal umum yang terjadi di otak kita jika memiliki anak. Pada tahap awal, saat bayi lahir, saraf akan sangat intens, setidaknya bagi ibu. Proses melahirkan dan menyusui menyebabkan sistemnya dibanjiri oksitosin, 'hormon pelukan', yang memperkuat ikatan emosional dan menyebabkan kita mengalami lebih banyak kesenangan dengan hubungan interpersonal.

"Sulit membayangkan hubungan interpersonal yang lebih kuat dari hubungan antara ibu dan bayi. Jadi, emosi yang Anda alami setelah memiliki anak akan jauh lebih intens daripada yang mungkin Anda alami tanpa mereka," kata Dean.

Ini berlaku untuk ayah dan orang tua lainnya juga. Ibu kandung mungkin memiliki hubungan paling langsung dengan bayinya, dengan menciptakannya di dalam tubuhnya sendiri. Namun pada dasarnya, setiap otak manusia terprogram untuk merespons bayi secara positif.

"Bau yang mereka keluarkan, wajah mereka, kerentanan mereka, ukuran mereka, otak kita mengalami respons yang tinggi terhadap semua ini, memaksa kita untuk melindungi dan terikat dengannya. Ini karena si bayi. Tetapi apa pun dengan sifat serupa, dapat memicu respons yang sama dalam diri kita. Inilah sebabnya hal-hal menggemaskan dianggap sama dengan respons terhadap bayi," jelasnya.

Namun, pengalaman ikatan yang intens dan kebahagiaan ini akan hilang. Bukan karena orang tua tidak mengasihi anak-anak mereka atau menyesali kehadiran mereka, tetapi bayi, yang kemudian tumbuh menjadi anak-anak, akan sangat menuntut. Dan orang tua tentunya bertanggung jawab penuh atas mereka.

"Kurang tidur, popok kotor, pengeluaran yang tidak sedikit, suasana rumah yang berantakan, fakta bahwa hidup Anda bukan lagi milik Anda, semua ini dan lebih banyak hal lagi dapat benar-benar meningkatkan stres dan emosi negatif. Begitulah cara kerja otak Anda," urai Dean.

Namun kemudian, Dean juga mengingatkan bahwa kita juga akan mengalami kegembiraan atas sebuah pencapaian, cinta yang kuat untuk si anak, kesenangan yang dimiliki bersama, dan kesenangan melihat anak-anak tumbuh dewasa.

Dean menyebutkan, pada dasarnya, berbagai bukti menunjukkan bahwa memiliki anak dapat membuat lebih bahagia. Namun di sisi lain hal itu juga bisa membuat orang tua terutama ibu, merasa tidak bahagia, atau terus-menerus stres, cemas, dan sebagainya.

"Secara keseluruhan, sepertinya memiliki anak membuat pengalaman emosional Anda lebih intens dibandingkan childfree. Jika bahagia maka rasa bahagianya akan berlipat-lipat. Begitu pun jika stres, maka stresnya akan sangat intens. Mana yang terdengar lebih baik bagi Anda, itu adalah pilihan Anda sepenuhnya," tutupnya.



Simak Video "Ketika Perempuan Memilih Tak Punya Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)