Pandemi Setara COVID-19 Akan Sering Terjadi di Masa Depan

Pandemi Setara COVID-19 Akan Sering Terjadi di Masa Depan

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 25 Agu 2021 11:02 WIB
Petugas memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu (4/7/2021). Jumlah kematian akibat COVID-19 per hari Minggu (4/7/2021) mencapai 555 kasus, yang menjadi rekor tertinggi sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020.  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.
Pandemi Setara COVID-19 Akan Sering Terjadi di Masa Depan. Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Pandemi dengan tingkat dampak yang sama dengan COVID-19 memiliki kemungkinan sekitar 2% terjadi setiap tahun. Masing-masing individu memiliki peluang 38% untuk mengalami pandemi setara COVID-19 setidaknya sekali seumur hidup.

"Hal yang paling penting adalah bahwa pandemi besar seperti COVID-19 dan flu Spanyol relatif mungkin terjadi," kata peneliti kesehatan lingkungan global dari Duke University, William Pan, dikutip dari Science Alert, Rabu (25/8/2021).

Tim peneliti melihat catatan sejarah epidemi dari tahun 1600 hingga sekarang. Mereka menemukan ada 476 epidemi yang terdokumentasi, sekitar setengahnya memiliki jumlah korban yang tercatat.

Sekitar 145 di antaranya menyebabkan kurang dari 10.000 kematian, sementara 114 epidemi lainnya hanya kita tahu bahwa itu ada, tetapi tidak ada catatan jumlah kematian.

Dalam studi ini, tim menggunakan pemodelan terperinci dengan distribusi Pareto umum untuk menganalisis data, menemukan bahwa jumlah epidemi tahunan sangat bervariasi, dan epidemi ekstrem seperti flu Spanyol tahun 1918-1920 memiliki kemungkinan terjadi di suatu tempat masing-masing antara 0,3% hingga 1,9% selama 400 tahun terakhir.

Prediksi itu pun bukan probabilitas yang stabil, melainkan terus berkembang. Dalam 50 tahun terakhir, kita telah melihat peningkatan level patogen baru yang menyebar melalui manusia. SARS-CoV-2 adalah contoh yang paling jelas. Namun selain itu, dalam beberapa dekade terakhir kita juga telah mengalami flu babi, flu burung, Ebola, dan banyak lagi.

"Dengan perkiraan baru-baru ini tentang peningkatan tingkat kemunculan penyakit dari reservoir hewan yang terkait dengan perubahan lingkungan, temuan ini menunjukkan kemungkinan terjadinya pandemi mirip COVID-19 (yang probabilitas mengalaminya dalam seumur hidup saat ini sekitar 38 persen), mungkin berlipat ganda dalam beberapa dekade mendatang," ujar William.

Jadi, bahkan ketika kita nantinya pulih dari pandemi COVID-19 saat ini, sangat penting untuk tidak berasumsi bahwa kita sudah aman-aman saja dan tidak akan menemui pandemi lain dalam waktu dekat.

Jika kita memainkan peran kita dengan benar dan menangani pandemi COVID-19 dengan baik, maka respons dan sumber daya kita bisa belajar banyak dan mempersiapkan diri untuk pandemi berikutnya.

"Ini menunjukkan pentingnya respons dini terhadap wabah penyakit dan pembangunan kapasitas untuk pengawasan pandemi pada skala lokal dan global, serta untuk menetapkan agenda penelitian untuk memahami mengapa wabah besar akan menjadi lebih umum terjadi," kata William.

Dia menambahkan, pandemi saat ini sering terjadi karena pertumbuhan populasi ekstrem, perubahan sistem pangan, degradasi lingkungan dan kontak yang lebih sering antara manusia dan hewan pembawa penyakit.

Disebutkannya, analisis statistik yang mereka lakukan hanya berusaha untuk mengkarakterisasi risiko, bukan untuk menjelaskan apa yang mendorongnya. Mereka berharap penelitian itu akan memicu eksplorasi lebih dalam tentang alasan tersebut.

"Penelitian ini merupakan sinyal untuk pentingnya respons dini terhadap kemungkinan wabah penyakit yang ekstrem sekaligus membangun kemampuan untuk mengawasi kemungkinan terjadinya pandemi di tingkat lokal dan global," tutupnya.



Simak Video "Fourtwnty Tak Sabar Kembali Tampil di Depan Penonton"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)