Alasan Ilmiah Kenapa Orang Kecanduan Gadget dan Jadi Phubbing

Alasan Ilmiah Kenapa Orang Kecanduan Gadget dan Jadi Phubbing

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 11 Agu 2021 18:44 WIB
Teenagers Using Mobile Phones
Alasan Ilmiah Kenapa Orang Berperilaku Phubbing. Foto: ThinkStock
Jakarta -

Phubbing, istilah untuk orang yang lebih fokus main gadget dan tidak mempedulikan sekitarnya, semakin umum terjadi dan mulai mengkhawatirkan. Ternyata ada alasan ilmiah kenapa seseorang menjadi phubbing.

Dikutip dari Science Daily, Rabu (11/8/2021) istilah ini berasal dari bahasa Inggris phone snubbing yang berarti sikap mengabaikan seseorang yang berinteraksi dengan kita karena perhatiannya lebih tertuju pada ponsel.

Meski hal ini mungkin terlihat sebagai hal biasa, berdasarkan studi terbaru di University of Georgia, phubbing dapat berdampak serius pada hubungan, dan ada berbagai faktor yang dapat mendorong individu mengabaikan mereka demi layar gadget.

Studi ini mengungkapkan hubungan positif antara depresi dan kecemasan sosial pada peningkatan phubbing. Menurut studi tersebut, orang yang depresi cenderung lebih sering melakukan phubbing kepada lawan bicaranya, dan orang yang cemas secara sosial, yang mungkin lebih memilih interaksi sosial secara online ketimbang komunikasi tatap muka, mungkin juga menunjukkan lebih banyak perilaku phubbing. Ciri-ciri kepribadian seperti neurotisisme juga mempengaruhi perilaku phubbing.

"Dan tentu saja, beberapa orang yang memiliki kecemasan sosial atau depresi yang tinggi lebih cenderung kecanduan smartphone mereka," kata Juhyung Sun, penulis utama makalah ini yang menyelesaikan gelar masternya dalam studi komunikasi di University of Georgia.

Menurutnya, perilaku phubbing menunjukkan sejumlah wawasan mendasar tentang bagaimana teknologi mengganggu interaksi sosial.

"Saya mengamati begitu banyak orang menggunakan ponsel mereka saat mereka sedang duduk bersama teman-teman di kafe, kapan pun waktu makan, terlepas dari jenis hubungan mereka," kata Sun.

Dia pertama kali mempertimbangkan beberapa alasan negatif di balik phubbing antara lain kecanduan smartphone dan terkait kebiasaan untuk terus-menerus membaca notifikasi yang muncul di layar gadget.

"Orang-orang sangat sensitif terhadap notifikasi mereka. Dengan setiap getar atau suara, kita secara sadar atau tidak sadar akan langsung melihat ponsel kita," katanya.

Sun mencatat, utilitas perangkat yang luas di seluruh aplikasi, mulai dari fungsi prediksi cuaca hingga berita terkini, adalah pendorong utama yang menciptakan dinamika ini.

Temuan lain dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa individu dengan kepribadian menyenangkan menunjukkan perilaku phubbing lebih rendah. Orang dengan ciri kepribadian ramah cenderung menunjukkan perilaku kooperatif, sopan, dan ramah dalam hubungan interpersonal dan pengaturan interaksi sosial mereka.

"Mereka memiliki kecenderungan tinggi untuk menjaga keharmonisan sosial sambil menghindari pertengkaran yang dapat merusak hubungan mereka. Dalam percakapan tatap muka, orang-orang dengan tingkat keramahan yang tinggi menganggap phubbing adalah perilaku yang kasar dan tidak sopan kepada lawan bicara mereka," jelas Sun.

Jennifer Samp, profesor di University of Georgia Franklin College of Arts and Sciences departemen studi komunikasi dan pembimbing Sun dalam penelitian ini mengatakan dirinya percaya bahwa tindakan phubbing mungkin memiliki implikasi lebih besar setelah publik dalam kelompok lebih besar bisa kembali ke berinteraksi tatap muka secara lagsung setelah pandemi mereda.

"Orang-orang sangat bergantung pada ponsel dan teknologi lain untuk tetap terhubung selama pandemi. Bagi banyak orang, tetap terhubung melalui chat dan video lebih nyaman daripada interaksi tatap muka. Akankah orang-orang, terutama yang memiliki kecemasan, masih akan berperilaku phubbing ketika bisa bertemu lagi secara fisik? Waktu yang akan menjawabnya," tutupnya.



Simak Video "Cuma 6 Jutaan, Samsung Galaxy A52s 5G Bikin Mupeng!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)