Polusi Cahaya di Lembang Ancam Pengamatan Astronomi Observatorium Bosscha

Polusi Cahaya di Lembang Ancam Pengamatan Astronomi Observatorium Bosscha

Whisnu Pradana - detikInet
Sabtu, 07 Agu 2021 20:50 WIB
Observatorium Bosscha
Polusi cahaya di Lembang mengancam pengamatan astronomi di Observatorium Bosscha. Foto: NFadils/d'Traveler
Bandung Barat -

Kondisi kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang kian padat dengan hunian ternyata turut memberikan dampak negatif pada pengamatan astronomi yang berlangsung di observatorium Bosscha.

Hal itu akibat polusi cahaya yang ditimbulkan dari rumah warga maupun bangunan komersial lainnya yang memburuk setiap tahunnya. Kondisi langit Lembang kini semakin terang sehingga mengganggu pengamatan yang dilakukan Observatorium Bosscha.

Peneliti Observatorium Bosscha Yatni Yulianti saat ini kondisi langit di Lembang dari kawasan Observatorium Bosscha memang sudah tidak ideal namun masih dapat mengakomodir pekerjaan-pekerjaan pengamatan astronomi yang dilakukan oleh para astronom.

"Polusi cahaya ini berasosiasi dengan pertumbuhan penduduk di kota Bandung, Lembang. Beberapa tahun belakangan ini terasa meningkat dengan bertambahnya aktivitas wisata," ungkap Yatni saat dihubungi detikcom, Jumat (6/8/2021).

Yatni mengungkapkan salah seorang dosen astronomi ITB bahkan melakukan penelitian terkait fenomena tersebut. Hasilnya dapat disimpulkan jika polusi cahaya di Observatorium Bosscha dapat dikatakan tidak menyebar rata.

"Kondisinya cukup besar dirasakan pada arah selatan yang berasosiasi dengan arah Kota Bandung dan arah Barat yang berasosiasi dengan arah Kota Cimahi," beber Yatni.

Yatni menyebut cahaya artifisial dari lampu yang mengarah ke atas atau langit mengganggu pekerjaan astronomi terutama yang bekerja di pengamatan panjang gelombang optik (cahaya tampak). Mengingat astronom bekerja dengan mengandalkan sinyal yang datang dari objek yang sangat jauh yang seringkali diterima sebagai sinyal yang sangat redup.

Selain itu keberadaan polusi cahaya akan memberikan gangguan pada kualitas data yang diterima oleh instrumen karena sinyal dari pencahayaan artifisial (lampu) bisa ikut terdeteksi oleh instrumen. Sebisa mungkin astronom harus mengisolir sinyal yang diterima instrumen, agar sinyal dari objeknya saja yang tertangkap.

"Kami juga mengatur penggunaan pencahayaan di kawasan observatorium untuk meminimalisir polusi cahaya. Upaya lainnya kami mencoba memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat tentang polusi cahaya," tutur Yatni.

Ada pula wacana membangun fasilitas baru yang diharapkan bisa mendorong percepatan giat astronomi indonesia. Pembangunan Observatorium Nasional Timau di Kabupaten Kupang terus berjalan, beberapa fasilitas fisik sedang dalam tahap pembangunan.

"Dengan adanya Obsnas, Observatorium Bosscha tetap berdiri dan berjalan sebagaimana fungsinya. Bukan hanya karena secara operasional dan organisasi terpisah, tapi Observatorium Bosscha juga masih menyimpan SDM, fasilitas, dan program penelitian yang besar dan terus berkembang," pungkasnya



Simak Video "4 Fenomena Astronomi Awal Oktober, Ada Hujan Meteor!"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/afr)