Surya Pethak, Matahari Memutih dan Suhu Mendingin Beberapa Hari ke Depan

Surya Pethak, Matahari Memutih dan Suhu Mendingin Beberapa Hari ke Depan

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 31 Jul 2021 06:28 WIB
Terik matahari
Surya Pethak, Matahari Memutih dan Suhu Bumi Lebih Dingin Beberapa Hari ke Depan. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan, fenomena surya pethak, yakni Matahari tampak memutih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan dan dapat terlihat di seluruh wilayah Indonesia.

Fenomena surya pethak adalah saat Matahari merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenamnya. Sebelum meninjau surya pethak dari sisi astronomi, kalian perlu tahu dulu mengapa Matahari dan langit tampak kemerahan saat terbit dan tenggelam, dan mengapa saat siang hari Matahari berwarna putih dan langit biru.

Dijelaskan peneliti LAPAN Andi Pangerang ketika terbit dan terbenam Matahari, spektrum warna biru dan hijau akan dihamburkan berulang kali sehingga menyisakan spektrum yang lebih pendek gelombangnya. Itulah mengapa Matahari berwarna kemerahan dan langit menjadi jingga.

Ketika tengah hari, spektrum biru dihamburkan sedangkan spektrum hijau dan merah diloloskan sehingga Matahari berwarna kekuningan dan langit tampak biru.

"Jika dikaitkan dengan fenomena surya pethak, yakni Matahari yang merona putih sejak terbit hingga terbenamnya, ada kemungkinan kabut awan yang dapat menghalangi sinar Matahari melalui atmosfer Bumi dapat ditimbulkan oleh letusan gunung berapi maupun perubahan sirkulasi laut yang dapat meningkatkan penguapan air," tulis Andi Pangerang seperti dikutip dari Edukasi Sains LAPAN.

Menurutnya, sangat kecil kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi ditimbulkan oleh penurunan aktivitas Matahari berkepanjangan seperti yang pernah terjadi pada 1645 hingga 1715.

"Dalam waktu dekat ini, fenomena surya pethak tidak akan terjadi setidaknya jika dikaitkan dengan aktivitas Matahari. Akan tetapi, fenomena ini masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi oleh para ilmuwan vulkanologi dan oseanografi," ujarnya.

Ramalan tanda pergantian zaman

Dalam salah satu jangka (ramalan) Sabdo Palon Noyo Genggong, disebutkan bahwa salah satu tanda pralaya atau pergantian dari zaman lama ke zaman baru adalah terjadinya surya pethak.

Secara harfiah, surya pethak bermakna Matahari (tampak) memutih. Surya pethak dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari.

Siang hari yang dimaksud dihitung sejak Matahari terbit hingga terbenam. Sinar Matahari yang biasa kemerahan saat terbit dan terbenam akan memutih. Sedangkan ketika Matahari meninggi, sinar Matahari tidak begitu terik karena terhalang oleh semacam kabut awan.

Fenomena ini dapat berlangsung selama tujuh hingga paling lama empat puluh hari. Adapun efek dari surya pethak akan membuat suhu permukaan Bumi menjadi lebih dingin.



Simak Video "Kata LAPAN soal Fenomena Surya Pethak yang Diprediksi Akan Terjadi "
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)