Takut Keluar Rumah karena COVID-19, Bisa Jadi Pertanda Cave Syndrome

Takut Keluar Rumah karena COVID-19, Bisa Jadi Pertanda Cave Syndrome

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 23 Jul 2021 22:05 WIB
Portrait of sad young woman with face protective mask looking through the window at home
Takut Keluar Rumah karena COVID-19, Bisa Jadi Pertanda Cave Syndrome. Foto: Getty Images/Damircudic
Jakarta -

Kesehatan mental ikut dihajar di tengah situasi pandemi COVID-19. Salah satu isu yang berkembang adalah ketakutan orang keluar rumah karena menjaga diri dari terpapar COVID-19. Ahli kesehatan mental bilang, ini termasuk gejala cave syndrome.

Program vaksinasi memang gencar dilakukan sehingga ada lebih banyak orang divaksin. Namun sebagian orang yang telah divaksin secara penuh ini dirundung ketakutan bertemu keramaian.

Sebuah studi yang dilakukan American Psychological Association menyebutkan, 49% warga AS yang sudah divaksinasi secara penuh merasa tidak nyaman berinteraksi langsung dengan orang lain seperti masa sebelum pandemi.

Dan ketika semakin banyak tempat mulai dibuka kembali, orang-orang ini merasa enggan meninggalkan rumah. Kalian merasa seperti itu? Mungkin saja kalian mengalami cave syndrome.

Sesuai dengan namanya, cave syndrome alias syndrome gua, membuat sebagian orang ibarat terlalu lama tinggal di dalam gua sehingga ragu untuk kembali ke kehidupan sebelum pandemi.

Apa itu cave syndrome?

Meskipun ini bukan diagnosis psikologis secara resmi, cave syndrome umumnya ditandai dengan perasaan cemas untuk kembali bersosialisasi secara langsung setelah pandemi COVID-19, bahkan meskipun mereka telah divaksinasi penuh.

Dikutip dari The New York Times, penyebabnya bervariasi bagi setiap orang. Sebagian besar karena mereka ragu-ragu untuk kembali ke kehidupan normal karena ketakutan berkelanjutan terhadap risiko terinfeksi COVID-19 atau infeksi lanjutan saat pandemi mereda. Ada juga yang menjadi terbiasa bahkan menyukai kesendirian selama masa isolasi dan lockdown saat pandemi.

Apa pun penyebabnya, sindrom tersebut masuk akal. Mengalami masa pandemi lebih dari satu tahun cukup membuat sebagian orang mengalami traumatis. Pada Mei 2020, para peneliti di University of British Columbia menerbitkan sebuah penelitian yang memprediksi bahwa diperkirakan 10% orang-orang di tengah pandemi mengalami sindrom stres COVID setelah mengatasi masalah psikologis yang parah, seperti gangguan stres pasca-trauma.

Cave syndrome adalah fenomena yang diprediksi akan dihadapi oleh banyak orang selama pandemi berlangsung dan pasca pandemi. Banyak orang selama ini menyepelekan perasaan takut mereka karena memang wajar untuk merasa takut dalam keadaan seperti pandemi COVID-19. Namun, jika ketakutan itu berubah menjadi kecemasan yang berlangsung terus-menerus, ahli menyarankan untuk melakukan terapi.



Simak Video "Toxic Positivity, Racun Dibalik Ucapan Semangat"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)